Analisis – Irak dan Turkiye siapkan koridor dagang 306 triliun rupiah sebagai alternatif Selat Hormuz, tapi Hambatan tetap ada

Foto yang diabadikan pada 20 Juni 2026 ini memperlihatkan Selat Hormuz di dekat Khasab, sebuah kota kecil di Oman utara. (Xinhua/Wen Xinnian)

Ankara, Turkiye (Xinhua/Indonesia Window) – Saat Irak dan Turkiye berupaya memajukan Proyek Jalan Pembangunan (Development Road Project), sebuah proyek infrastruktur unggulan yang bertujuan memperkuat hubungan perdagangan antara kawasan Teluk dan Eropa, para analis menilai koridor ambisius tersebut sebagai alternatif strategis terhadap titik-titik sempit jalur maritim yang rentan, meskipun kesenjangan pendanaan dan tantangan keamanan yang terus berlanjut dapat menghambat kemajuannya.

Proyek senilai 17 miliar dolar AS itu berupa koridor jalan raya, jalur kereta, dan jaringan pipa yang menghubungkan Pelabuhan Besar Al-Faw di Irak selatan dengan Eropa melalui Turkiye.

*1 dolar AS = 17.991 rupiah

Diluncurkan tiga tahun lalu, proyek itu kembali mendapat dorongan baru menyusul penandatanganan kesepakatan resmi antara Baghdad dan Ankara saat kunjungan Perdana Menteri Irak Ali al-Zaidi ke Ankara pekan lalu untuk memulai pembangunannya pada akhir 2026.

Dorongan baru tersebut muncul setelah ketegangan terbaru antara Amerika Serikat (AS) dan Iran mengganggu pelayaran melalui Selat Hormuz, dengan dampak lanjutannya juga memengaruhi jalur Laut Merah, dua dari titik-titik sempit utama dunia bagi perdagangan minyak dan aktivitas perdagangan global.

Sejumlah analis menilai bahwa krisis regional tersebut meningkatkan nilai strategis jalur alternatif darat yang menghubungkan kawasan Teluk dengan pasar-pasar Eropa.

"Proyek tersebut sebelumnya telah tertunda selama bertahun-tahun, tetapi kondisi geopolitik saat ini menunjukkan pentingnya memiliki koridor darat ke arah barat yang mampu menjaga arus perdagangan ketika jalur maritim menghadapi disrupsi," kata Ali Oguz Dirioz, associate professor di Universitas TOBB di Ankara yang mengkhususkan diri pada koridor perdagangan dan energi.

Dirioz menilai bahwa meskipun ketegangan di kawasan Teluk mereda, krisis tersebut telah meninggalkan dampak jangka panjang terhadap pemerintah dan dunia usaha terkait risiko terhadap rantai pasokan.

"Meski krisis Hormuz berakhir besok, legasinya akan tetap bertahan. Negara-negara akan terus mencari jaringan transportasi yang lebih tangguh daripada bergantung pada satu jalur maritim saja," ujarnya.

Batu Coskun, peneliti nonresiden di TRENDS Research and Advisory yang berbasis di Uni Emirat Arab (UEA), mengatakan bahwa koridor tersebut memberikan peluang bagi Irak untuk "mendiversifikasi pendapatan di luar sektor hidrokarbon sekaligus mengurangi ketergantungannya pada jalur transit yang dikendalikan oleh negara-negara tetangga".

Sementara itu, bagi Turkiye, koridor tersebut akan memperkuat ambisi jangka panjang negara itu untuk menjadi pintu gerbang utama yang menghubungkan kawasan Teluk dan Eropa, kata Coskun kepada Xinhua.

Namun, dia mengingatkan bahwa ambisi politik semata tidak akan menjamin keberhasilan.

Terlepas dari daya tarik strategisnya, Coskun memperingatkan bahwa pendanaan masih menjadi salah satu hambatan terbesar bagi proyek tersebut, seraya mengatakan, "Anggaran Irak masih sangat bergantung pada pendapatan minyak, sementara mitra-mitra Teluk sejauh ini menunjukkan dukungan politik yang lebih kuat dibandingkan komitmen keuangan yang konkret."

Keamanan juga masih menjadi perhatian.

Proyek yang diluncurkan Irak pada 2023 itu melintasi 11 kegubernuran di Irak, termasuk wilayah-wilayah yang bergejolak dengan kondisi keamanan yang masih rapuh, menurut Coskun.

Dia menekankan bahwa kelangsungan proyek tersebut bergantung pada stabilitas yang berkelanjutan, koordinasi efektif antara Baghdad dan Pemerintah Regional Kurdistan, serta kejelasan mengenai pihak yang akan bertanggung jawab mengamankan infrastruktur tersebut.

Bahkan setelah rampung dibangun, Coskun mengingatkan agar tidak terlalu optimistis, seraya menyebut bahwa koridor tersebut hanya akan menangani sebagian kecil dari lalu lintas melalui Terusan Suez.

Menurut dia, nilai sebenarnya dari proyek itu terletak pada fungsinya sebagai langkah antisipasi terhadap guncangan geopolitik yang dapat meningkatkan premi asuransi atau menghentikan pengiriman melalui jalur laut.

"Koridor tersebut memberikan opsi alternatif, alih-alih menggantikan jalur-jalur yang sudah ada," ujarnya.

Laporan: Redaksi

Bagikan

Komentar

Berita Terkait