Usia 16 defisit 59 juta rupiah, usia 45 surplus 25 juta rupiah: Begini siklus keuangan warga Korsel

Sejumlah pejalan kaki terlihat di depan gedung Bank of Korea (BOK) di Seoul, Korea Selatan, pada 24 November 2022. (Xinhua/Wang Yiliang)

Seoul, Korea Selatan (Xinhua/Indonesia Window) – Warga Korea Selatan (Korsel) menghadapi siklus keuangan ‘defisit-surplus-defisit’, dengan surplus sepanjang hidup mencapai puncaknya di usia 45 tahun, menurut data kementerian statistik Korsel yang dirilis pada Kamis (17/9).

Kementerian Data dan Statistik Korsel merilis Neraca Transfer Nasional 2024 untuk menganalisis hubungan antara konsumsi dan pendapatan tenaga kerja di berbagai kelompok usia.

Dari lahir hingga usia 27 tahun, individu menghabiskan lebih banyak uang daripada yang mereka peroleh, sehingga mengakibatkan defisit.

Defisit tersebut mencapai puncaknya pada usia 16 tahun dan mencapai 46,04 juta won, didorong oleh biaya bimbingan belajar untuk persiapan masuk perguruan tinggi.

*100 won Korea = 1.281 rupiah

Warga Korsel mulai mengalami surplus keuangan pada usia 28 tahun, dengan pendapatan tenaga kerja mereka melampaui konsumsi hingga usia 60 tahun.

Surplus mencapai puncaknya sebesar 19,32 juta won pada usia 45 tahun ketika pendapatan tenaga kerja per kapita mencapai angka tertinggi seumur hidup sebesar 46,51 juta won pada usia tersebut.

Pendapatan tenaga kerja menyusut mulai usia 61 tahun, ketika masyarakat memasuki masa pensiun, sehingga mereka kembali mengalami defisit.

Hal itu dipicu oleh meningkatnya pengeluaran medis dan perawatan kesehatan pada generasi yang lebih tua.

Laporan: Redaksi

Bagikan

Komentar

Berita Terkait