AS desak warganya tinggalkan Timur Tengah karena adanya "risiko keamanan serius"

Tim penyelamat dan warga setempat berusaha menyelamatkan korban luka dari reruntuhan di sebuah sekolah dasar putri yang diserang di Minab, Provinsi Hormozgan, Iran selatan, pada 28 Februari 2026. (Xinhua/Kantor Berita Mehr)

Lokasi yang dikategorikan memiliki risiko keselamatan serius meliputi Bahrain, Mesir, Iran, Irak, Israel, Tepi Barat dan Gaza, Yordania, Kuwait, Lebanon, Oman, Qatar, Arab Saudi, Suriah, Uni Emirat Arab (UEA), dan Yaman.

 

Washington, Amerika Serikat (Xinhua/Indonesia Window) – Departemen Luar Negeri Amerika Serikat (AS) pada Senin (2/3) mendesak warga negaranya untuk segera meninggalkan kawasan Timur Tengah "karena adanya risiko keselamatan serius".

Departemen tersebut "mendesak warga Amerika untuk PERGI SEKARANG JUGA dari negara-negara berikut menggunakan transportasi komersial yang tersedia, karena adanya risiko keselamatan serius," tulis Asisten Menteri Luar Negeri AS untuk Urusan Konsuler, Mora Namdar, dalam unggahan di platform media sosial X.

Lokasi yang dikategorikan memiliki "risiko keselamatan serius" meliputi Bahrain, Mesir, Iran, Irak, Israel, Tepi Barat dan Gaza, Yordania, Kuwait, Lebanon, Oman, Qatar, Arab Saudi, Suriah, Uni Emirat Arab (UEA), dan Yaman.

AS dan Israel memulai serangan udara besar-besaran terhadap Iran pada Sabtu (28/2) pagi waktu setempat. Iran pada Ahad (1/3) mengonfirmasi bahwa Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei tewas dalam serangan udara AS-Israel sehari sebelumnya.

Sementara itu, Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio mengatakan bahwa tujuan AS dalam operasi di Iran "dapat dicapai tanpa pasukan darat."

"Saat ini, kami tidak dalam posisi menyiapkan pasukan darat, tetapi tentu saja presiden memiliki opsi tersebut," ujarnya.

"Fokus kami adalah penghancuran peluncur rudal balistik mereka, persediaan rudal balistik mereka, serta kemampuan produksi rudal balistik mereka, dan juga drone serangan satu arah dan angkatan laut mereka," katanya.

Pada hari yang sama, Presiden AS Donald Trump menyatakan bahwa kampanye militer terhadap Iran memiliki "kemampuan untuk berlangsung jauh lebih lama" daripada proyeksi empat hingga lima pekan yang dia sampaikan dalam wawancara media sehari sebelumnya.

Laporan: Redaksi

Bagikan

Komentar

Berita Terkait