
Kematian yang berkaitan dengan alkohol capai sekitar 500.000 per tahun di Pasifik Barat

Sebuah kendaraan 'steamroller' menghancurkan botol-botol minuman keras (miras) ilegal saat bulan Ramadan di Bogor, Provinsi Jawa Barat, pada 22 April 2022. (Xinhua/Sandika Fadilah)
Alkohol menewaskan setengah juta orang setiap tahunnya di Pasifik Barat, hampir satu orang per menit, dengan dampak yang tidak hanya dirasakan orang-orang yang meminumnya, tetapi juga merugikan keluarga, masyarakat, serta tatanan sosial yang menyatukan mereka.
Manila, Filipina (Xinhua/Indonesia Window) – Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) di Pasifik Barat menyerukan penerapan kebijakan alkohol yang lebih ketat, menyebutkan bahwa kematian yang berkaitan dengan alkohol mencapai sekitar 500.000 orang per tahun di kawasan tersebut, serta dampak negatif alkohol terhadap kesehatan, keluarga, dan masyarakat, demikian disampaikan kantor regional WHO pada Rabu (29/10)."Penyebab yang berkaitan dengan alkohol menewaskan setengah juta orang setiap tahunnya di Pasifik Barat, hampir satu orang per menit. Alkohol dikaitkan dengan lebih dari 200 penyakit dan cedera, dengan dampak yang tidak hanya dirasakan orang-orang yang meminumnya, tetapi juga merugikan keluarga, masyarakat, serta tatanan sosial yang menyatukan mereka," papar badan kesehatan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) tersebut.Pada 2022, badan itu mengatakan rata-rata konsumsi alkohol per kapita di Pasifik Barat mencapai 5,2 liter, lebih tinggi dibandingkan rata-rata global, yakni 5 liter.WHO baru-baru ini meluncurkan kampanye advokasi regional bertajuk ‘Alcohol Leaves a Mark’, yang mendorong penerapan kebijakan dan regulasi yang lebih ketat untuk melindungi masyarakat dari bahaya ekstensif yang ditimbulkan oleh alkohol.Kampanye itu, yang bertujuan untuk menyoroti bahaya alkohol dan menyerukan penerapan regulasi yang lebih ketat untuk melindungi kesehatan dan kesejahteraan masyarakat, mengungkap bagaimana alkohol dipasarkan dan dinormalisasi terlepas dari efek merugikan yang dibawanya bagi individu, keluarga, dan masyarakat, serta mendesak aksi kolektif untuk mengurangi bahaya alkohol.Kampanye itu mengajak para pembuat kebijakan, mitra kesehatan, media, dan masyarakat untuk membagikan materi kampanye, memulai diskusi, serta mendukung regulasi berbasis bukti.Selain itu, badan tersebut menyesalkan bahwa pemasaran alkohol terus menormalisasi kebiasaan mengonsumsi alkohol dan menyasar kaum muda melalui berbagai platform digital. Tanpa regulasi yang lebih ketat, konsumsi alkohol diperkirakan akan terus meningkat.Melalui kampanye itu, WHO menyerukan kepada para pembuat kebijakan agar menaikkan pajak dan harga minuman beralkohol, membatasi ketersediaannya, melarang atau membatasi pemasaran alkohol secara menyeluruh, menegakkan langkah-langkah pencegahan aktivitas mengemudi di bawah pengaruh alkohol, serta menyediakan skrining, intervensi singkat, pengobatan, dan dukungan yang mudah diakses bagi penderita gangguan penggunaan alkohol.Laporan: RedaksiBagikan

Komentar
Berita Terkait

Yayasan Al Ghozy kunjungi Rumah Sehat Terpadu Dompet Dhuafa, jajaki kerja sama
Indonesia
•
30 Apr 2025

PBB: Krisis komoditas di Sudan picu lonjakan harga
Indonesia
•
12 May 2023

Kondisi kekeringan California di AS mereda setelah badai musim dingin
Indonesia
•
03 Mar 2023

COVID-19 – Badan medis tertinggi Australia tolak pencabutan masa isolasi wajib
Indonesia
•
08 Oct 2022


Berita Terbaru

Ribuan orang terjebak di pegunungan Jepang, ratusan dilaporkan tewas dan hilang
Indonesia
•
18 Jun 2026

Pekerja Singapura pengguna AI paling aktif dan bertanggung jawab di dunia
Indonesia
•
17 Jun 2026

Pacuan kuda tradisional Gayo kembali digelar, jadi simbol solidaritas pascabanjir
Indonesia
•
16 Jun 2026

AI hidupkan kembali pagoda kayu tertua di dunia, pengunjung kini bisa jelajahi area terlarang
Indonesia
•
15 Jun 2026
