
Alat skrining berbasis AI bantu ahli patologi temukan kanker tersembunyi dengan ‘penglihatan super’

Ilustrasi. (CDC on Unsplash)
STimage menggunakan analisis biologi spasial untuk memprediksi kanker payudara, kulit, dan ginjal, serta penyakit autoimun hati secara akurat, sekaligus mengevaluasi prognosis dan respons pengobatan.
Sydney, Australia (Xinhua/Indonesia Window) – Para ilmuwan di Australia telah mengembangkan sebuah alat skrining berbasis kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI), yang memberikan ‘penglihatan super’ bagi para ahli patologi untuk mendeteksi penanda kanker yang tersembunyi dalam sampel jaringan rutin.
Para peneliti di QIMR (Queensland Institute of Medical Research) Berghofer Medical Research Institute, Australia, mendemonstrasikan bagaimana alat pembelajaran mesin bernama STimage menggunakan analisis biologi spasial untuk memprediksi kanker payudara, kulit, dan ginjal, serta penyakit autoimun hati secara akurat, sekaligus mengevaluasi prognosis dan respons pengobatan, papar QIMR Berghofer dalam sebuah pernyataan resmi yang dirilis pada Rabu (6/5).
Studi tersebut, yang diterbitkan dalam Nature Communications, menemukan bahwa alat ini terbukti andal, berbiaya rendah, dan mampu menghasilkan data secara cepat yang mudah diinterpretasikan oleh para ahli patologi, sebut pernyataan itu.
Terobosan ini berpotensi menandai dimulainya era baru dalam patologi digital dan kedokteran presisi, yang memungkinkan diagnosis lebih cepat dan akurat, perawatan yang dipersonalisasi, serta peningkatan akses terhadap layanan spesialis di daerah terpencil, tutur pernyataan tersebut.
"Seperti halnya memberi kemampuan penglihatan resolusi super kepada para ahli patologi layaknya Superman atau Superwoman untuk memindai jutaan biomarker tak kasat mata dalam sampel jaringan kecil, guna menemukan dua atau tiga di antaranya yang menunjukkan tanda-tanda kanker," kata Quan Nguyen, associate professor dari QIMR Berghofer, yang memimpin pengembangan alat tersebut.
"Alat ini mampu membuat prediksi diagnostik dan menghitung tingkat kepastian hasil secara matematis," sebut Nguyen, seraya menambahkan bahwa alat tersebut dirancang untuk membantu, bukan menggantikan, para ahli patologi, dan dapat menyediakan "informasi tambahan mengenai jenis sel dan aktivitas genetik yang tidak dapat mereka lihat dengan mata telanjang."
Biologi spasial memberikan wawasan yang tidak dapat diakses melalui prosedur patologi standar, ujar tim tersebut, dengan harapan alat STimage dapat menjadi bagian dari praktik klinis dalam dua tahun ke depan.
Laporan: Redaksi
Bagikan

Komentar
Berita Terkait

Misi antariksa Rusia-Eropa temukan air tersembunyi di Mars
Indonesia
•
22 Dec 2021

Fokus Berita – Industri NEV China bidik pengembangan hijau di tengah transformasi
Indonesia
•
26 Dec 2023

Data NASA ungkap keberadaan mantel ‘bergumpalan’ di Mars
Indonesia
•
01 Sep 2025

Degradasi hutan hujan tropis ancam dunia
Indonesia
•
29 Oct 2021


Berita Terbaru

China sertifikasi ‘batch’ pertama pilot ‘airship’ buatan dalam negeri untuk layanan komersial
Indonesia
•
10 May 2026

Suhu permukaan laut ekstrapolar tertinggi kedua pada April
Indonesia
•
10 May 2026

Penelitian ungkap Selandia Baru diprediksi akan hadapi lonjakan tajam kasus kanker lambung
Indonesia
•
10 May 2026

Teknologi antarmuka otak-komputer bantu rehabilitasi pasien penyakit saraf
Indonesia
•
10 May 2026
