
Ilmuwan Australia kembangkan tes darah untuk prediksi risiko kambuhnya kanker kepala dan leher

Ilustrasi. (National Cancer Institute di Unsplash)
Tes darah sederhana kini mampu mendeteksi sel tumor yang bersirkulasi, sehingga bisa mengidentifikasi pasien kanker kepala dan leher yang berisiko tinggi mengalami kekambuhan setelah operasi.
Sydney, Australia (Xinhua/Indonesia Window) – Para ilmuwan di Australia mengembangkan tes darah sederhana yang mampu mendeteksi sel tumor yang bersirkulasi, sehingga bisa mengidentifikasi pasien kanker kepala dan leher yang berisiko tinggi mengalami kekambuhan setelah operasi.
Para peneliti menganalisis sampel darah usai operasi dan mengaitkan keberadaan sel tumor yang bersirkulasi, yakni sel kanker yang terlepas dari tumor dan masuk ke aliran darah, dengan peningkatan kemungkinan kekambuhan, demikian menurut pernyataan dari Centenary Institute Australia pada Rabu (25/2).
Sekitar 5.500 warga Australia didiagnosis menderita kanker kepala dan leher setiap tahun, yang menyerang lapisan mulut, tenggorokan, dan laring. Meskipun banyak pasien merespons pengobatan dengan baik, sejumlah besar pasien mengalami kekambuhan, sering kali dengan peringatan dini yang terbatas, menurut studi yang dipublikasikan dalam European Journal of Surgical Oncology (EJSO).
Perawatan lanjutan sangat bergantung pada pemindaian dan pemeriksaan klinis, yang tidak selalu mampu mendeteksi risiko kekambuhan secara dini, ujar salah satu penulis senior studi tersebut, Jonathan Clark, direktur Riset Kanker Kepala dan Leher di Chris O'Brien Lifehouse Australia, yang berkolaborasi dengan Centenary Institute.
"Temuan kami menunjukkan bahwa mendeteksi sel tumor yang bersirkulasi dapat memberikan informasi tambahan untuk membantu mengidentifikasi pasien yang mungkin memerlukan pemantauan lebih ketat setelah operasi," kata penulis utama studi tersebut, Dannel Yeo, kepala laboratorium di Pusat Inovasi Kanker (Center for Cancer Innovations) di bawah naungan Centenary Institute.
Para peneliti mengatakan bahwa temuan ini menambah bukti yang kian berkembang bahwa penanda biologis (biomarker) berbasis darah dapat memainkan peran penting dalam perawatan kanker yang lebih terpersonalisasi.
Laporan: Redaksi
Bagikan

Komentar
Berita Terkait

China rilis daftar isu iptek utama 2024
Indonesia
•
04 Jul 2024

Tim peneliti China rilis peta karbon organik untuk kawasan tanah hitam global
Indonesia
•
25 Nov 2023

Studi: Polutan merkuri capai bagian terdalam lautan
Indonesia
•
17 Dec 2021

Provinsi pegunungan di China adopsi teknologi AI dalam bidang pertanian
Indonesia
•
12 Sep 2024


Berita Terbaru

Logam berbahaya bisa masuk ke paru-paru lewat vape
Indonesia
•
18 Apr 2026

Ilmuwan rekomendasikan strategi pengobatan berpresisi untuk karsinoma nasofaring
Indonesia
•
18 Apr 2026

Foil tembaga baru gabungkan kekuatan, konduktivitas, dan stabilitas termal
Indonesia
•
18 Apr 2026

305 perusahaan dari 16 negara ramaikan Lab Indonesia 2026 di Tangerang
Indonesia
•
17 Apr 2026
