Air New Zealand peringatkan tekanan laba akibat lonjakan harga bahan bakar pesawat

Orang-orang mengisi bahan bakar mobil mereka di sebuah stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) di Auckland, Selandia Baru, pada 30 Juni 2023. (Xinhua/Zhao Gang)

Air New Zealand menangguhkan panduan laba setahun penuh mereka hanya beberapa pekan setelah menerbitkannya, saat eskalasi konflik di Timur Tengah memicu volatilitas yang belum pernah terjadi sebelumnya di pasar energi global.

 

Wellington, Selandia Baru (Xinhua/Indonesia Window) – Air New Zealand pada Selasa (10/3) memperingatkan lonjakan harga bahan bakar jet akan memberikan dampak signifikan terhadap laba paruh kedua (H2) perusahaan tersebut.

Maskapai nasional itu menangguhkan panduan laba setahun penuh mereka hanya beberapa pekan setelah menerbitkannya, saat eskalasi konflik di Timur Tengah memicu volatilitas yang belum pernah terjadi sebelumnya di pasar energi global.

Dalam sebuah pernyataan di Bursa Efek Selandia Baru, maskapai itu mengatakan harga bahan bakar jet melonjak dari sekitar 85-90 dolar AS per barel sebelum konflik menjadi antara 150-200 dolar AS dalam beberapa hari terakhir, sementara margin penyulingan, atau crack spreads, meningkat tajam dari 22 dolar AS menjadi hingga 115 dolar AS per barel.

*1 dolar AS = 16.872 rupiah

Pada Februari lalu, maskapai tersebut memperkirakan laba pada H2 secara umum akan setara dengan, atau sedikit di bawah, kerugian pada paruh pertama mereka sebesar 59 juta dolar Selandia Baru, dengan asumsi harga rata-rata bahan bakar jet 85 dolar AS per barel.

*1 dolar Selandia Baru = 10.000 rupiah

Maskapai itu telah mengimplementasikan penyesuaian tarif awal dan memperingatkan mereka mungkin perlu menaikkan harga lebih lanjut serta menyesuaikan jaringan dan jadwal penerbangan jika kenaikan biaya terus berlanjut.

Laporan: Redaksi

Bagikan

Komentar

Berita Terkait