AI temukan petunjuk hepatitis b dalam 30 detik, China bangun sistem deteksi dini penyakit menular

Seorang dokter memeriksa sampel untuk mendeteksi infeksi HIV/AIDS di Rumah Sakit Rakyat Keempat Nanning di Nanning, Daerah Otonom Etnis Zhuang Guangxi, China selatan, pada 21 November 2024. (Xinhua/Jin Haoyuan)

Beijing, China (Xinhua/Indonesia Window) – Saat seorang dokter memeriksa hasil tes pasien di sebuah rumah sakit di Kota Tianjin, China utara, sebuah peringatan tiba-tiba muncul di layar komputer, menyarankan pemeriksaan lanjutan untuk hepatitis B.

Pasien tersebut datang dengan keluhan kelelahan dan mual, tanpa menyadari pemeriksaan rutin itu mungkin mengungkap sesuatu yang lebih serius.

Peringatan tersebut dihasilkan oleh sistem deteksi cerdas yang dirancang untuk membantu dokter mengidentifikasi potensi risiko penyakit menular pada tahap awal. Sebuah agen berbasis kecerdasan buatan (AI) mampu menelusuri rekam medis pasien dan menandai petunjuk diagnostik penting dalam waktu 30 detik, sementara agen lainnya menilai risiko serta menyusun laporan untuk mendukung penyelidikan epidemiologis.

Di masa lalu, identifikasi kasus hepatitis sangat bergantung pada pengalaman klinis dokter, diikuti oleh proses skrining bertahap yang bisa memakan waktu, ujar Dai Jigeng, kepala departemen kesehatan masyarakat di Rumah Sakit Rakyat Kedua Tianjin.

Dengan privasi pasien yang terlindungi secara ketat, sistem tersebut kini memungkinkan pengujian dan identifikasi risiko yang lebih tepat waktu, serta menggeser deteksi penyakit menular "dari proses yang sebagian besar bersifat pasif menjadi lebih proaktif," ujar Dai.

Apa yang terjadi di rumah sakit Tianjin itu mencerminkan pergeseran yang lebih luas di China menuju sistem pemantauan dan peringatan dini penyakit menular yang lebih cerdas dengan pemicu multipoin, sebuah pendekatan yang didasarkan pada pedoman tahun 2024 yang diterbitkan bersama oleh Administrasi Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Nasional China serta delapan instansi pemerintah lainnya.

Berbeda dengan metode deteksi konvensional yang sangat bergantung pada diagnosis terkonfirmasi dan pelaporan manual, pendekatan baru ini telah berkembang menjadi sistem yang lebih luas yang menangkap sinyal dari berbagai sumber, termasuk rumah sakit, laboratorium, apotek, dan data lingkungan, untuk mengidentifikasi risiko potensial yang memerlukan penyelidikan lebih lanjut.

Pada Desember 2025, sebuah sistem deteksi cerdas di Distrik Jing'an, Shanghai, secara otomatis mengidentifikasi sebuah klaster spasial potensial yang melibatkan tiga pasien pneumonia yang tinggal di kawasan permukiman yang sama.

Peringatan tersebut memicu pemeriksaan lebih lanjut. Penyelidik kemudian menemukan bahwa ketiga orang itu tidak memiliki kontak erat maupun paparan yang sama, sehingga dugaan adanya klaster penularan pun dengan cepat dikesampingkan.

Dibutuhkan waktu kurang dari 24 jam sejak peringatan awal hingga penetapan hasil akhir, menurut Wu Huanyu, wakil direktur Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Kota Shanghai.

"Sistem pemantauan dan peringatan dini yang tangkas serta efisien merupakan kunci untuk memastikan deteksi dini dan respons tepat waktu terhadap wabah besar," ujar Wakil Kepala Administrasi Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Nasional China Sun Yang dalam sebuah konferensi pers baru-baru ini.

Dalam beberapa tahun terakhir, China secara signifikan memperkuat kemampuannya dalam deteksi dan peringatan dini penyakit menular. Menurut Sun, selama periode Rencana Lima Tahun ke-14 (2021-2025), negara tersebut telah membentuk delapan sistem pemantauan yang mencakup berbagai aspek, seperti gejala, patogen, vektor penyakit, dan air limbah, yang didukung oleh lebih dari 40.000 laboratorium dengan kemampuan mengidentifikasi patogen penyakit menular.

Sementara itu, lebih dari 50.000 institusi medis telah menggunakan perangkat lunak cerdas untuk pemantauan penyakit menular, yang membantu mengurangi rata-rata waktu antara diagnosis dan pelaporan dari 5,2 jam menjadi 3,7 jam, tambah Sun.

Rencana Lima Tahun ke-15 China untuk pencegahan dan pengendalian penyakit, yang dirilis pada Juli, menyerukan pembentukan dasar sistem pengendalian penyakit yang modern dengan karakteristik China per 2030.

Rencana tersebut mendorong pembentukan kerangka kelembagaan dan mekanisme kerja yang lebih tangguh untuk menangkal serta meredam risiko epidemi berskala besar, serta sistem pemantauan dan peringatan dini yang efisien dan multisaluran yang mampu merespons secara cepat ancaman yang muncul.

Laporan: Redaksi

Bagikan

Komentar

Berita Terkait