Singapura ciptakan AI medis generasi baru, atasi tekanan akibat penuaan populasi dan penyakit kronis

Wisatawan mengunjungi area Marina Bay Singapura pada 22 Mei 2025. (Xinhua/Then Chih Wey)

Singapura (Xinhua/Indonesia Window) – Singapura mengadaptasi model fondasi kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) untuk memenuhi kebutuhan bidang perawatan kesehatan setempat di bawah sebuah inisiatif nasional.

Awalnya model itu berfokus pada kondisi kardiometabolik dan penyakit mata, dengan perencanaan yang pada akhirnya mengintegrasikan teknologi tersebut ke dalam sistem rekam medis elektronik nasional negara itu.

Saat mengumumkan inisiatif Singapore Medical Foundation AI Model (SIMFONI) pada Kamis (9/7), Menteri Kesehatan Singapura Ong Ye Kung menuturkan model-model AI tersebut akan dilatih menggunakan data klinis dan panduan setempat.

Konsorsium untuk Penelitian dan Inovasi Klinis (Consortium for Clinical Research and Innovation), yang memimpin inisiatif tersebut, menyampaikan bahwa sistem perawatan kesehatan Singapura menghadapi tekanan yang kian meningkat akibat penuaan populasi, bertambahnya beban penyakit kronis, dan tenaga kesehatan yang kewalahan.

Mayoritas model fondasi AI yang dimanfaatkan dalam sistem perawatan kesehatan dilatih menggunakan data dari populasi Barat, sehingga membatasi akurasi dan relevansinya dalam lingkup klinis Singapura, papar konsorsium tersebut.

Dibentuk pada 2025, SIMFONI pada awalnya berfokus pada pengembangan alat pendukung keputusan klinis untuk kondisi kardiometabolik, termasuk diabetes, hipertensi, dan hiperlipidemia, dalam perawatan primer, serta model AI multimodal untuk meningkatkan diagnosis dan penanganan penyakit mata seperti katarak, penyakit retina, dan glaukoma.

Konsorsium itu mengatakan kondisi-kondisi kardiometabolik merupakan salah satu beban penyakit kronis terbesar dalam sistem perawatan primer di Singapura.

Laporan: Redaksi

Bagikan

Komentar

Berita Terkait