
Ahli geologi temukan ‘awan gua’ langka di Guangxi, China selatan

Foto yang diabadikan pada 2 Juli 2022 ini menunjukkan 'awan gua' di Gua Xiniuyan yang berlokasi di wilayah Wuxuan, Kota Laibin, Daerah Otonom Etnis Zhuang Guangxi, China selatan. (Xinhua/Chen Lixin)
Formasi ‘awan gua’ yang ditemukan di Gua Xiniuyan yang berlokasi di wilayah Wuxuan, Kota Laibin, membentang di area seluas 300 meter persegi dan merupakan struktur kedua dari jenisnya yang ditemukan di China.
Nanning, China (Xinhua) – Sebuah tim eksplorasi gua gabungan China-Prancis berhasil menemukan ‘awan gua’, sejenis deposit mineral alami khusus di dalam gua, yang langka di Daerah Otonom Etnis Zhuang Guangxi, China selatan, menurut Institut Geologi Karst Survei Geologi China, beberapa waktu lalu.Formasi geologis itu ditemukan di Gua Xiniuyan yang berlokasi di wilayah Wuxuan, Kota Laibin. Awan gua itu membentang di area seluas 300 meter persegi dan merupakan struktur kedua dari jenisnya yang ditemukan di China.Awan gua itu tersebar di tujuh kolam yang berada di dalam sebuah gua, dengan masing-masing palung memiliki bentuk yang menyerupai labu atau sepotong roti, menurut tim pakar. Gua itu sendiri memiliki panjang 2.754 meter dan tanah yang lembut."Ini adalah formasi awan gua kedua yang ditemukan di China setelah Gua Jingua di wilayah Danzhai, Provinsi Guizhou," papar Zhang Yuanhai, insinyur senior dari institut tersebut. "Kondisi formasi awan gua sangat keras, dan batuan di sekeliling gua itu sebagian besar merupakan dolomit, dan gua karst yang terbentuk oleh dolomit tidaklah umum."Wilayah Wuxuan merupakan area persebaran karst yang khas di Guangxi tengah, yang kaya sumber daya lanskap seperti gua karst, hutan gunung, lahan basah, sungai, dan danau.Berlokasi sekitar 20 km dari pusat wilayah Wuxuan, Gua Xiniuyan ditemukan dan dikembangkan pada tahun 1990-an. Namun, ini merupakan kali pertama sebuah awan gua ditemukan di lokasi tersebut, menurut Zhang.Liang Lu, wakil kepala wilayah itu, mengatakan tim ekspedisi tersebut meninjau topografi dan lanskap karst di gua itu serta menyelidiki situasi keamanan di dalamnya.Saran mereka untuk investigasi ilmiah terhadap gua itu menjadi poin referensi ilmiah yang kuat bagi pengembangan, pemanfaatan, dan restorasi gua tersebut di masa mendatang, imbuhnya.Laporan: RedaksiBagikan

Komentar
Berita Terkait

Populasi gajah Afrika susut 70 persen dalam 50 tahun terakhir
Indonesia
•
16 Nov 2024

Instalasi tenaga surya AS pada 2023 diperkirakan akan lampaui 30 GW
Indonesia
•
08 Sep 2023

Pemantau iklim UE: Mei jadi bulan terpanas ke-12 yang pernah tercatat
Indonesia
•
07 Jun 2024

Sampel Chang'e-6 ungkap adanya lonjakan kembali pada kekuatan medan magnet Bulan
Indonesia
•
24 Dec 2024


Berita Terbaru

China sertifikasi ‘batch’ pertama pilot ‘airship’ buatan dalam negeri untuk layanan komersial
Indonesia
•
10 May 2026

Suhu permukaan laut ekstrapolar tertinggi kedua pada April
Indonesia
•
10 May 2026

Penelitian ungkap Selandia Baru diprediksi akan hadapi lonjakan tajam kasus kanker lambung
Indonesia
•
10 May 2026

Teknologi antarmuka otak-komputer bantu rehabilitasi pasien penyakit saraf
Indonesia
•
10 May 2026
