Afghanistan alami kekeringan terburuk dalam beberapa dekade

Afghanistan alami kekeringan terburuk dalam beberapa dekade
Ilustrasi. (Grant Durr on Unsplash)
Advertiser Popin

Jakarta (Indonesia Window) – Kekeringan Afghanistan, yang terburuk dalam beberapa dekade, kini memasuki tahun kedua dan diperburuk oleh perubahan iklim.

Musim kemarau melanda 25 dari 34 provinsi di negara itu, dan panen gandum tahun ini diperkirakan turun 20 persen dari tahun sebelumnya, menurut laporan Arab News, Kamis (9/12).

Selain pertempuran, kekeringan telah menyebabkan lebih dari 700.000 orang mengungsi tahun ini, dan awal musim dingin akan meningkatkan potensi bencana.

“Dampak kekeringan kumulatif pada komunitas yang sudah lemah ini dapat menjadi titik kritis lain untuk bencana,” kata kantor Organisasi Pangan dan Pertanian PBB (FAO) di Afghanistan dalam sebuah cuitan, Selasa (7/12). “Jika dibiarkan tanpa pengawasan, pertanian bisa runtuh.”

Pakar PBB menyebut peristiwa La Nina akhir tahun 2020 sebagai pemicu yang dapat mengubah pola cuaca di seluruh dunia, serta sebagai penyebab turunnya hujan dan salju pada awal tahun 2021 di Afghanistan. Mereka memperkirakan hal ini akan berlanjut hingga tahun 2022.

Afghanistan telah lama mengalami kekeringan yang wajar. Namun dalam laporan tahun 2019, FAO memperingatkan bahwa perubahan iklim dapat membuat kondisi ini lebih sering dan lebih intens.

Di tengah kekeringan, ekonomi Afghanistan runtuh setelah pengambilalihan kekuasaan oleh Taliban pada Agustus, mengakibatkan dihentikannya pasokan dana internasional kepada pemerintah dan pembekuan miliaran aset negara yang disimpan di luar negeri.

Pekerjaan dan mata pencaharian telah menghilang, membuat keluarga putus asa mencari cara untuk menemukan makanan.

FAO mengatakan bulan lalu bahwa 18,8 juta warga Afghanistan tidak dapat makan sendiri setiap hari, dan pada akhir tahun jumlah ini akan menjadi 23 juta, atau hampir 60 persen dari populasi.

Kumpulan rumah bata lumpur di pegunungan di luar kota barat Herat, Kamar Kalagh adalah rumah bagi sekitar 150 keluarga yang dulu hidup dari ternak mereka, terutama unta dan kambing. Sekarang penghasilan utama desa adalah dari menjual pasir.

Ajab Gul dan dua putranya yang masih kecil menggali pasir dari dasar sungai dan memasukkannya ke dalam tas beberapa hari terakhir. Pekerjaan sehari penuh akan memberi mereka penghasilan yang setara dengan 2 dolar AS.

“Rumput dulu tumbuh sampai di sini,” kata Gul, mengangkat tangannya ke hidung. “Ketika unta berjalan melewatinya, Anda hanya akan melihat kepalanya. Itu 20 tahun yang lalu.”

Sekarang tidak ada rumput dan hampir tidak ada ternak.

Dua tahun lalu, sumur utama desa mengering, sehingga warga mengumpulkan uang untuk membayar penggalian lebih dalam. Untuk sementara, itu berhasil. Tapi tak lama kemudian menjadi lemah lagi. Penduduk desa memulai sistem penjatahan, dengan separuh warga boleh mengambil air pada suatu hari, separuh lainnya pada hari berikutnya.

Bahkan penjatahan tidak lagi cukup. Air dari sumur hanya cukup untuk sekitar 10 kepala keluarga sehari, kata Wali Jan.

Sebagian besar pria usia produktif telah pergi untuk mencari pekerjaan di tempat lain di Afghanistan, Iran, Pakistan atau Turki.

“Anda tidak menemukan siapa pun lagi di luar pada siang hari,” kata Samar Gul, seorang lelaki yang berusia 60-an. “Hanya ada wanita dan anak-anak di dalam rumah.”

Sumber: Arab News

Laporan: Raihana Radhwa

Advertiser Popin

Berkomentar?

Please enter your comment!
Please enter your name here