Fokus Berita – Indonesia berupaya tekan kenaikan harga pangan jelang Ramadhan

Para pedagang menjual makanan untuk berbuka puasa atau iftar saat bulan suci Ramadhan di Jakarta pada 12 April 2022. (Xinhua/Zulkarnain)

Oleh Nurul Fitri Ramadhani

Peningkatan permintaan bahan pangan selalu terjadi menjelang bulan Ramadhan, yang memicu kenaikan harga bahan pangan yang sebelumnya memang sudah melonjak tinggi, terutama beras, di pasar setempat.

 

Jakarta (Xinhua) – Pemerintah pusat, termasuk pemerintah daerah di 38 provinsi di Indonesia, sedang berupaya mengamankan stok pangan dan menjaga stabilitas harga menjelang bulan Ramadhan, bulan puasa bagi umat Muslim yang akan dimulai kurang dari satu bulan lagi.

Di Indonesia, sebulan menjelang bulan Ramadhan selalu diwarnai dengan peningkatan permintaan bahan pangan, yang memicu kenaikan harga bahan pangan yang sebelumnya memang sudah melonjak tinggi, terutama beras, di pasar setempat.

Menteri Perdagangan RI Zulkifli Hasan pada Selasa (27/2) mengatakan bahwa pemerintah saat ini tengah mempercepat distribusi beras melalui program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) ke pasar-pasar rakyat dan peritel modern. Langkah ini bertujuan untuk mengantisipasi dampak kenaikan harga beras premium di masyarakat akibat keterlambatan pasokan.

Di ibu kota, pemerintah daerah mengadakan bazar yang menjual bahan pokok, termasuk beras, minyak goreng, gula, garam, dan telur, dengan harga yang murah.

Peningkatan permintaan bahan pangan
Orang-orang berjalan sambil membawa makanan yang mereka beli dari pasar musiman yang khusus menjual makanan berbuka puasa atau iftar saat bulan Ramadhan di Bendungan Hilir, Jakarta, pada 4 April 2022. (Xinhua/Veri Sanovri)

“Program ini menawarkan bahan pangan pokok kepada masyarakat Jakarta dengan harga yang jauh lebih murah dari harga pasar. Setiap harinya, pasar murah ini dapat menjual hingga 65.000 kilogram beras,” ujar Kepala Dinas Ketahanan Pangan, Kelautan, dan Pertanian (KPKP) Provinsi DKI Jakarta Suharini Eliawati pada Rabu (28/2).

Presiden RI Joko Widodo, pada Senin (26/2) memerintahkan semua pemangku kepentingan di pemerintahan untuk meningkatkan upaya guna menjaga harga-harga tetap stabil, atau setidaknya tidak memburuk, menjelang bulan Ramadhan.

Menteri Keuangan RI Sri Mulyani Indrawati mengatakan bahwa kenaikan paling parah terjadi pada harga beras, dengan harga rata-rata mencapai 15.000 rupiah per kilogram pada Februari, dari harga normal 11.000 rupiah.

Media setempat melaporkan bahwa di beberapa daerah di Indonesia, harga bahan-bahan pangan dasar, termasuk sayuran mentah, mengalami lonjakan. Bawang putih, bawang merah, cabai, dan telur, bahan-bahan dasar yang biasa digunakan di hampir semua makanan Indonesia, mengalami kenaikan harga sebesar 5 hingga 7 persen.

Sekretaris Jenderal Ikatan Pedagang Pasar Indonesia (IKAPPI) Reynaldi Sarijowan mengatakan kenaikan harga kali ini merupakan rekor tertinggi di era pemerintahan Presiden Jokowi.

Peningkatan permintaan bahan pangan
Para sukarelawan menyiapkan hidangan berbuka puasa di Vihara Dharma Bhakti saat bulan suci Ramadhan di Jakarta pada 7 April 2022. (Xinhua/Zulkarnain)

Esther Sri Astuti, Direktur Program Institute for Development of Economics and Finance (Indef), mengatakan bahwa salah satu solusi untuk mengatasi masalah kenaikan harga adalah dengan menjalankan strategi diversifikasi pangan.

“Menurut saya, untuk sementara ini, kita bisa mencari berbagai sumber karbohidrat lain, tidak hanya dari beras. Karbohidrat bisa diperoleh dari singkong, sorgum. Jadi, saran konkretnya adalah diversifikasi pangan,” ujar Esther pada Jumat (23/2) pekan lalu.

Laporan: Redaksi

Tinggalkan Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Iklan