
2,1 juta warga Gaza terkurung di area kurang dari separuh wilayah Jalur Gaza

Warga Palestina mengambil air di Gaza City pada 27 April 2026. (Xinhua/Rizek Abdeljawad)
Warga tidak dapat mengakses wilayah-wilayah di Gaza yang menjadi lokasi cadangan lahan dan fasilitas-fasilitas penting.
PBB (Xinhua/Indonesia Window) – Sebanyak 2,1 juta warga di Jalur Gaza masih terkurung di area seluas kurang dari separuh wilayah kantong tersebut, kata badan kemanusiaan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pada Rabu (6/5).
Warga tidak dapat mengakses wilayah-wilayah di Gaza yang menjadi lokasi cadangan lahan dan fasilitas-fasilitas penting. Mereka juga tidak dapat bepergian ke luar negeri atau mengakses Tepi Barat, di mana layanan-layanan seperti perawatan kesehatan spesialis tersedia, kata Kantor PBB untuk Koordinasi Urusan Kemanusiaan (UN Office for the Coordination of Humanitarian Affairs/OCHA).
Warga yang diizinkan keluar sebagai bagian dari evakuasi medis hanyalah sebagian kecil dari mereka yang membutuhkan layanan yang tidak tersedia secara lokal, kata kantor PBB tersebut dalam rilis pers.
Pemulihan layanan lokal terhambat oleh pembatasan masuknya barang-barang penting serta pembatasan terhadap operasi mitra-mitra kemanusiaan utama, kata OCHA.
Meski ada pembatasan, mitra-mitra OCHA pekan lalu berhasil menyalurkan hampir 5.000 alat tidur, 600 perlengkapan tempat tidur, lebih dari 1.500 perlengkapan penutup darurat, serta hampir 550 tenda kepada lebih dari 4.400 keluarga. Mitra-mitra yang memimpin sektor ketahanan pangan terus menyediakan sekitar 1,1 juta porsi makanan setiap hari melalui lebih dari 120 dapur umum, kata OCHA.
Lebih dari enam bulan sejak deklarasi gencatan senjata, kelaparan belum hilang di Gaza, kata OCHA mengutip Program Pangan Dunia (World Food Programme/WFP). Keluarga-keluarga masih bergantung pada bantuan pangan untuk bertahan hidup karena harga makanan segar masih terlalu mahal. Satu dari lima keluarga hanya makan satu kali setiap hari.
OCHA mengatakan mitra-mitranya di sektor ketahanan pangan memperingatkan soal kelangkaan gas untuk memasak, yang memaksa hampir tujuh dari setiap 10 keluarga membakar sampah sebagai alternatifnya, serta cara-cara memasak lainnya yang tidak aman. Angka tersebut meningkat 13 persen dibandingkan bulan lalu.
Di Tepi Barat, pengungsian akibat kekerasan pemukim terus berlanjut. Selama sepekan terakhir, OCHA mencatat lebih dari 30 orang mengungsi akibat ancaman dan serangan berulang oleh para pemukim terhadap komunitas penggembala di Hebron dan Ramallah. Sejak 2023, lebih dari 5.900 warga Palestina telah mengungsi akibat kekerasan pemukim, termasuk sekitar 2.000 orang pada tahun ini saja, papar OCHA.
Laporan: Redaksi
Bagikan

Komentar
Berita Terkait

COVID-19 – China telah inokulasi lebih dari 1,87 miliar dosis vaksin
Indonesia
•
17 Aug 2021

Militer Israel tangkap 3 militan Hamas dalam penggerebekan di Tepi Barat
Indonesia
•
06 Sep 2023

Tim investigasi gabungan Korsel akan panggil Presiden Yoon atas tuduhan pemberontakan
Indonesia
•
16 Dec 2024

Usai skandal veteran Nazi, Majelis Rendah Kanada pilih ketua baru
Indonesia
•
06 Oct 2023


Berita Terbaru

AS intensifkan pengumpulan intelijen militer di lepas pantai Kuba
Indonesia
•
11 May 2026

Iran tolak proposal gencatan senjata AS, Trump sebut langkah itu "tidak dapat diterima"
Indonesia
•
11 May 2026

Para pemimpin ASEAN rilis pernyataan bersama soal krisis Timur Tengah di KTT ASEAN 2026
Indonesia
•
10 May 2026

AS-Iran kembali bentrok, AS tak ingin eskalasi
Indonesia
•
08 May 2026
