
148 negara setuju, hanya AS dan Israel tolak deklarasi PBB tentang pembangunan perkotaan

Seorang pria memanfaatkan fasilitas air siap minum yang disediakan di salah satu sudut alun-alun Kota Kudus, Jawa Tengah, pada 2 Juni 2025. (Indonesia Window)
PBB (Xinhua/Indonesia Window) – Amerika Serikat (AS) dan Israel pada Kamis (16/7) menjadi satu-satunya dua negara yang menolak deklarasi politik mengenai pembangunan perkotaan, sebuah deklarasi yang telah mendapatkan dukungan hampir secara universal.
Draft resolusi Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk mengadopsi Deklarasi Politik tentang Pembaruan Komitmen dan Percepatan Implementasi Agenda Baru Perkotaan (Political Declaration to Renew Commitment and Accelerate the Implementation of the New Urban Agenda) telah disahkan dengan 148 suara mendukung, dua suara menentang, dan tanpa abstain. Hanya AS dan Israel yang memberikan suara menolak.
Dalam sesi penjelasan sikap sebelum pemungutan suara, perwakilan AS mempersoalkan paragraf 42 di dalam deklarasi politik tersebut, yang berbunyi: "Kami dengan tegas mendesak Negara-Negara untuk menahan diri dari menetapkan dan menerapkan langkah-langkah ekonomi, keuangan, atau perdagangan sepihak yang tidak sesuai dengan hukum internasional dan Piagam PBB yang menghambat pencapaian penuh pembangunan ekonomi dan sosial, khususnya di negara-negara berkembang."
Perwakilan AS berpendapat bahwa sanksi merupakan "alat penting dan sah dalam kebijakan luar negeri serta keamanan nasional."
Perwakilan AS juga menolak teks di dalam deklarasi tersebut yang menyerukan penyediaan "pendanaan yang konsesional dan tidak menciptakan utang" dari lembaga keuangan internasional serta negara donor, dan juga transfer teknologi kepada negara-negara berkembang.
Perwakilan AS juga menyatakan keberatan terhadap "rujukan yang luas dan sangat keliru mengenai perubahan iklim yang disisipkan di sepanjang dokumen ini" serta "penyisipan ideologis istilah 'gender' dan konsep-konsep seperti kerangka kerja yang responsif gender secara berulang ke dalam apa yang seharusnya merupakan dokumen praktis mengenai perencanaan perkotaan dan perumahan."
Dalam sesi penjelasan sikap sebelum pemungutan suara, perwakilan Israel mengatakan bahwa Israel tidak akan mendukung "unsur-unsur tertentu yang dipolitisasi" di dalam teks tersebut.
Dia mengatakan bahwa Israel tidak mendukung paragraf 7 dalam deklarasi tersebut, yang berbunyi: "Kami mengakui bahwa dalam mengimplementasikan Agenda Baru Perkotaan, perhatian khusus perlu diberikan untuk mengatasi tantangan pembangunan perkotaan yang khas dan terus berkembang yang dihadapi oleh semua negara. ... Perhatian khusus juga harus diberikan kepada negara-negara yang berada dalam situasi konflik, serta negara-negara dan wilayah-wilayah yang berada di bawah pendudukan asing, negara-negara pascakonflik, dan negara-negara yang terdampak bencana alam maupun bencana yang disebabkan oleh manusia."
Laporan: Redaksi
Bagikan

Komentar
Berita Terkait

Survei ungkap mayoritas warga Eropa dukung transisi energi UE
Indonesia
•
11 Jul 2023

Analis: Ketegangan Rusia-Ukraina dapat mengancam produksi ‘chip’ Taiwan
Indonesia
•
14 Feb 2022

Wawancara – Aktivis AS sebut NATO pemicu utama konflik global
Indonesia
•
23 Jun 2025

Suriah tegaskan Dataran Tinggi Golan wilayahnya, perundingan dengan Israel digelar di Yordania
Indonesia
•
24 Aug 2026


Berita Terbaru

Komisi PBB: Israel lakukan kejahatan perang dan kejahatan terhadap kemanusiaan di Palestina
Indonesia
•
28 Oct 2026

Ukraina dan Rusia mulai gencatan senjata kemanusiaan di Oleshky
Indonesia
•
28 Oct 2026

Serangan udara Arab Saudi hantam Sanaa saat Houthi klaim lancarkan serangan ke Riyadh
Indonesia
•
26 Oct 2026

Jepang tanggapi serius kebakaran besar 530.000 hektare di Mongolia yang terkait kegiatan Mobicom
Indonesia
•
27 Oct 2026
