
WTO revisi pertumbuhan perdagangan barang global 2026 jadi 1,8 persen akibat kenaikan tarif AS

Foto yang diabadikan pada 28 Mei 2025 ini menunjukkan suasana Terminal Kontainer Tollerort di Hamburg, Jerman. (Xinhua/Zhang Fan)
WTO menurunkan proyeksi pertumbuhan perdagangan barang global untuk 2026 menjadi 1,8 persen dari perkiraan sebelumnya sebesar 2,5 persen akibat kenaikan tarif impor.
Jenewa, Swiss (Xinhua/Indonesia Window) – World Trade Organization (WTO) pada Jumat (8/8) menurunkan proyeksi pertumbuhan perdagangan barang global untuk 2026 menjadi 1,8 persen dari perkiraan sebelumnya sebesar 2,5 persen akibat kenaikan tarif impor.Dalam pembaruan proyeksi perdagangan terbarunya, WTO menyatakan bahwa perubahan tarif yang baru-baru ini dilakukan diperkirakan akan memiliki dampak negatif secara keseluruhan terhadap prospek perdagangan global."Tarif resiprokal" yang lebih tinggi yang diberlakukan oleh Amerika Serikat (AS) pada 7 Agustus diperkirakan akan semakin membebani impor AS dan menekan ekspor mitra dagang AS pada paruh kedua 2025 dan 2026, kata WTO.WTO kini memperkirakan perdagangan barang dunia akan tumbuh sebesar 0,9 persen pada 2025, merevisi perkiraan sebelumnya yang memprediksi kontraksi sebesar 0,2 persen yang dirilis pada pertengahan April setelah AS mengumumkan "tarif resiprokal" dan penangguhan sementara selama 90 hari untuk beberapa tarif tersebut.WTO mencatat bahwa proyeksi pertumbuhan yang direvisi sebagian besar dipengaruhi oleh percepatan impor AS, namun menekankan bahwa perkiraan itu tetap jauh di bawah estimasi sebelum tarif yang sebesar 2,7 persen.Berdasarkan kawasan, perekonomian-perekonomian Asia diperkirakan akan tetap menjadi pendorong positif utama pertumbuhan perdagangan barang dunia pada 2025, sementara Amerika Utara diperkirakan akan memberikan dampak negatif terhadap pertumbuhan perdagangan global pada 2025 dan 2026, menurut perkiraan tersebut.Direktur Jenderal WTO Ngozi Okonjo-Iweala mencatat bahwa dampak penuh dari langkah-langkah tarif terbaru masih terus berlanjut."Bayang-bayang ketidakpastian tarif terus membebani kepercayaan bisnis, investasi, dan rantai pasokan. Ketidakpastian tetap menjadi salah satu faktor paling mengganggu dalam lingkungan perdagangan global," ujarnya.Laporan: RedaksiBagikan

Komentar
Berita Terkait

PDB riil Kanada tumbuh 3,8 persen pada 2022
Indonesia
•
01 Feb 2023

Sektor manufaktur China berkontribusi terhadap stabilisasi rantai pasokan global
Indonesia
•
23 Sep 2022

Upah nominal buruh tani naik 0,31 persen pada Februari 2022
Indonesia
•
15 Mar 2022

China Daratan berjanji akan terus fasilitasi impor produk makanan Taiwan
Indonesia
•
30 Jan 2023


Berita Terbaru

Lepas L8 resmi meluncur di Indonesia, dibanderol Rp589 juta dengan Jarak tempuh hingga 1.300 km
Indonesia
•
28 Jul 2026

Malaysia tinggal selangkah lagi jadi negara berpenghasilan tinggi, ekonomi tumbuh 5,8 persen
Indonesia
•
28 Jul 2026

Indonesia raup 18,62 triliun rupiah dari Panda Bonds perdana, pasar keuangan China kian terbuka
Indonesia
•
28 Jul 2026

Ekonomi ASEAN+3 diproyeksikan tumbuh 4,1 persen pada 2026, didorong AI dan semikonduktor
Indonesia
•
28 Jul 2026
