Julian Assange menangkan hak banding di Pengadilan Tinggi dalam kasus ekstradisinya ke AS

Sejumlah poster yang menunjukkan dukungan untuk pendiri WikiLeaks, Julian Assange, terlihat dalam aksi protes di luar Pengadilan Tinggi di London, Inggris, pada 26 Maret 2024. (Xinhua/Li Ying)
WikiLeaks memublikasikan ratusan ribu dokumen militer yang bocor terkait perang Afghanistan dan Irak satu dekade lalu, meliputi rekaman video helikopter Apache yang memperlihatkan militer AS menembaki para jurnalis dan anak-anak di jalanan Baghdad pada tahun 2007.
London, Inggris (Xinhua) – Pendiri WikiLeaks, Julian Assange, pada Senin (20/5) memenangkan hak banding dalam perjuangannya melawan ekstradisi dari Inggris ke Amerika Serikat (AS) setelah Pengadilan Tinggi di London memberinya izin untuk mengajukan banding.Izin untuk mengajukan banding hanya akan diberikan jika pemerintah AS tidak dapat memberikan jaminan yang sesuai kepada pengadilan bahwa Assange bisa mengandalkan Amendemen Pertama (kebebasan berbicara) untuk mendapatkan perlindungan.Pemerintah AS harus membuktikan bahwa Assange, yang berkewarganegaraan Australia, tidak akan dirugikan dalam persidangan karena kewarganegaraannya, dan akan mendapatkan perlindungan yang sama dengan warga negara AS.Selain itu, pihak AS juga harus memberikan jaminan bahwa Assange tidak akan dijatuhi hukuman mati jika terbukti bersalah.Tim kuasa hukum Assange mengkritik serangkaian jaminan yang diberikan oleh pemerintah AS di persidangan. Mereka berargumen bahwa "berdasarkan prinsip pemisahan kekuasaan, pengadilan AS dapat dan akan menerapkan undang-undang AS, apa pun yang dikatakan atau dilakukan oleh pihak eksekutif."Sebagian besar jaminan tersebut "benar-benar tidak memadai," sebut Edward Fitzgerald KC yang mewakili Assange. Namun, jaminan AS terkait hukuman mati diterima oleh tim kuasa hukum Assange.
Sebuah poster yang menunjukkan dukungan untuk pendiri WikiLeaks, Julian Assange, terlihat dalam aksi protes di luar Pengadilan Tinggi di London, Inggris, pada 21 Februari 2024. (Xinhua/Li Ying)
Sebuah poster yang menunjukkan dukungan untuk pendiri WikiLeaks, Julian Assange, terlihat dalam aksi protes di luar Pengadilan Tinggi di London, Inggris, pada 21 Februari 2024. (Xinhua/Li Ying)
Bagikan
Komentar
Berita Terkait

Serukan deeskalasi di Timur Tengah, para pemimpin G7 soroti solusi diplomatik
Indonesia
•
03 Oct 2024

Beijing kerahkan 13.000 anggota parlemen untuk pengawasan pemerintah lebih baik
Indonesia
•
20 Jan 2023

Bulgaria akan veto sanksi minyak UE, jika tak dapat pengurangan
Indonesia
•
09 May 2022

Biden klarifikasi pernyataan tentang Taiwan yang 'independen'
Indonesia
•
17 Nov 2021
Berita Terbaru

Terima presiden Palestina, Norwegia tegaskan kembali komitmen terhadap solusi dua negara
Indonesia
•
13 Feb 2026

Jepang akan pilih PM pada 18 Februari usai pemilu
Indonesia
•
13 Feb 2026

Kremlin sebut tekanan AS buat Kuba krisis BBM
Indonesia
•
13 Feb 2026

Laporan Keamanan Munich peringatkan kehancuran tatanan internasional di tengah perubahan kebijakan AS
Indonesia
•
13 Feb 2026
