
WHO laporkan 220 kematian suspek Ebola di RD Kongo, laju penyebaran lampaui penanganan

Tenaga kesehatan yang mengenakan pakaian hazmat memindahkan jenazah korban Ebola di Mongbwalu, Provinsi Ituri, Republik Demokratik Kongo bagian timur, pada 24 Mei 2026. (Xinhua/Str)
Wabah Ebola yang menyebar cepat di Republik Demokratik Kongo telah menyebabkan 220 kematian suspek Ebola, sementara para pejabat kesehatan kesulitan mengimbangi penyebaran epidemi.
Jenewa, Swiss (Xinhua/Indonesia Window) – Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pada Senin (25/5) mengungkapkan bahwa wabah Ebola yang menyebar cepat di Republik Demokratik (RD) Kongo telah menyebabkan 220 kematian suspek Ebola, sementara para pejabat kesehatan kesulitan mengimbangi penyebaran epidemi.
Meskipun 101 kasus telah terkonfirmasi dan 10 kematian juga terkonfirmasi akibat Ebola, Direktur Jenderal WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus mengatakan skala sebenarnya jauh lebih besar. "Kini terdapat lebih dari 900 kasus suspek dan 220 kematian suspek," kata Tedros dalam Rapat Virtual Tingkat Menteri tentang Wabah Ebola Bundibugyo pada Senin.
Dinyatakan pada 17 Mei sebagai darurat kesehatan masyarakat yang menjadi perhatian internasional, wabah ini juga telah menyebar ke Uganda, yang mencatat lima kasus terkonfirmasi dan satu kematian.
Tedros menyoroti tantangan utama, yaitu keterlambatan dalam mendeteksi wabah membuat tim kesehatan kini harus mengimbangi laju epidemi yang menyebar sangat cepat. "Kami sedang menyegerakan peningkatan operasi, tetapi saat ini, penyebaran epidemi lebih cepat daripada upaya kami," katanya.
Galur Ebola yang terlibat adalah virus Bundibugyo, yang hingga kini belum memiliki vaksin maupun terapi yang disetujui. Wabah galur ini sebelumnya hanya pernah terjadi dua kali, yakni di Uganda pada 2007 dan di RD Kongo pada 2012. WHO merekomendasikan agar dua antibodi monoklonal diprioritaskan untuk uji klinis.
Memperparah krisis ini, provinsi-provinsi terdampak, yakni Ituri dan Kivu Utara, sedang mengalami kerawanan yang intens serta ketidakpercayaan masyarakat. Dalam beberapa bulan terakhir, pertikaian yang kian intensif telah memaksa lebih dari 100.000 orang mengungsi, disertai dua insiden keamanan di sejumlah fasilitas kesehatan pada pekan lalu.
WHO telah menaikkan evaluasi risiko nasional menjadi "sangat tinggi", sementara risiko regional tetap di level "tinggi", dan risiko global "rendah". Negara-negara tetangga didesak segera mengambil tindakan.
Tedros dijadwalkan melakukan perjalanan ke RD Kongo bersama direktur kedaruratan WHO seiring komitmen lembaga tersebut untuk menghentikan wabah. "Situasi akan memburuk sebelum membaik," aku Tedros. "Namun, kami mengenal virus ini, dan kami tahu cara menghentikannya."
Laporan: Redaksi
Bagikan

Komentar
Berita Terkait

Rusia: KTT untuk Demokrasi yang digelar AS picu perpecahan ideologi
Indonesia
•
30 Mar 2023

China konfirmasi masuknya benda udara sipil ke wilayah udara AS secara tak sengaja
Indonesia
•
04 Feb 2023

Taiwan hapus uji hewan untuk suplemen tekanan darah
Indonesia
•
24 Feb 2022

Tajuk Xinhua: China dan Arab Saudi upayakan kemajuan kemitraan strategis komprehensif (Bagian 2 - selesai)
Indonesia
•
09 Dec 2022


Berita Terbaru

Iran sebut kapal perang Eropa yang lintasi Selat Hormuz dianggap sebagai sasaran yang sah
Indonesia
•
29 Jul 2026

Israel perluas operasi militer di Tepi Barat, tambah permukiman ilegal Yahudi
Indonesia
•
29 Jul 2026

Ratusan ribu warga Afrika jadi korban perdagangan manusia, sindikat raup puluhan triliun rupiah per tahun
Indonesia
•
29 Jul 2026

Sedikitnya 15 anggota pasukan paramiliter Irak tewas akibat serangan AS-Arab Saudi
Indonesia
•
29 Jul 2026
