
Wawancara – Tak lagi sekadar investasi, Indonesia ajak China majukan teknologi di Tanah Air

Menteri Investasi dan Hilirisasi RI sekaligus Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Rosan Roeslani menyampaikan realisasi investasi di Indonesia pada semester I tahun 2026 di Ruang Sidang Kabinet, Kompleks Istana Kepresidenan Jakarta, pada Kamis (16/7/2026). (Sekretariat Kabinet RI)
Jakarta (Xinhua/Indonesia Window) – Indonesia mengundang perusahaan-perusahaan China tidak hanya untuk berinvestasi di Tanah Air, tetapi juga membangun bersama Indonesia dengan menciptakan rantai pasokan yang lebih kuat, mengembangkan talenta, memajukan teknologi, serta melayani pasar regional dan global dari Indonesia, demikian dikatakan Menteri Investasi dan Hilirisasi Republik Indonesia sekaligus Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Rosan Roeslani dalam wawancara terbaru dengan Xinhua.
"Peluangnya sangat besar, arahnya sudah jelas, dan komitmen kami terhadap kemitraan jangka panjang tetap kuat," ujar Rosan. "China merupakan mitra utama, dan kami terus mendiversifikasi kemitraan agar tetap tangguh."
China merupakan salah satu mitra strategis utama bagi Indonesia dalam mempercepat industrialisasi dan mewujudkan aspirasi pertumbuhan ekonomi, kata Rosan, seraya menambahkan bahwa China telah menjadi mitra dagang terbesar Indonesia selama 13 tahun berturut-turut serta secara konsisten masuk dalam tiga besar sumber investasi asing langsung (foreign direct investment/FDI) bagi Indonesia.
Menurut Rosan, hubungan bilateral kedua negara telah berkembang dari sekadar perdagangan komoditas mentah menjadi integrasi industri yang nyata, mencakup hilirisasi mineral, rantai pasokan baterai kendaraan listrik (electric vehicle/EV), infrastruktur digital, dan energi terbarukan.
"Kerja sama kami juga berkontribusi terhadap ketahanan rantai pasokan di kawasan. Seiring perusahaan-perusahaan global mendiversifikasi produksi dan sumber pasokan, Indonesia dan China memiliki peluang untuk membangun kemitraan yang lebih seimbang, berorientasi pada teknologi di bidang manufaktur canggih, infrastruktur digital, serta industri masa depan," ujarnya.
Inisiatif "Dua Negara, Taman Kembar" (Two Countries, Twin Parks/TCTP), di bawah kerangka kerja Inisiatif Sabuk dan Jalur Sutra (Belt and Road Initiative/BRI), terus berkembang dari sekadar konsep menjadi implementasi nyata. Inisiatif tersebut membangun ekosistem industri terpadu, bukan sekadar kumpulan proyek yang berdiri sendiri, kata Rosan, seraya menambahkan bahwa inisiatif tersebut juga menghubungkan investasi, manufaktur, logistik, pengembangan keterampilan, serta akses pasar di kedua negara, sehingga memudahkan perusahaan dari berbagai skala untuk berpartisipasi dalam rantai nilai regional.
Rosan menuturkan bahwa kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) menciptakan permintaan yang belum pernah terjadi sebelumnya terhadap pusat data, infrastruktur cloud, elektronik canggih, dan pasokan listrik yang andal.
Indonesia berada pada posisi yang tepat untuk berpartisipasi dalam transformasi ini karena memiliki pasar digital yang besar, potensi energi terbarukan yang melimpah, kawasan industri yang kompetitif, serta lokasi strategis di jantung ASEAN, papar Rosan, yang menyambut baik para investor China untuk berpartisipasi dalam transisi digital dan pengembangan industri AI di Indonesia.
Sejak mulai berlaku bagi Indonesia pada 2023, Kemitraan Ekonomi Komprehensif Regional (Regional Comprehensive Economic Partnership/RCEP) telah memperkuat integrasi regional melalui peningkatan akses pasar, penyederhanaan prosedur kepabeanan, dan penetapan aturan asal barang (rules of origin) yang seragam, sehingga meningkatkan konektivitas rantai pasokan sekaligus mendorong keterlibatan perusahaan-perusahaan Indonesia ke dalam rantai nilai regional, sebut Rosan.
"Kami memandang Peningkatan Kawasan Perdagangan Bebas ASEAN-China (ASEAN-China Free Trade Area/ACFTA) 3.0, yang ditandatangani pada Oktober 2025, sebagai langkah alami berikutnya. Kesepakatan itu memperdalam kerja sama ASEAN-China di bidang-bidang yang akan menentukan dekade mendatang, yakni ekonomi digital, ekonomi hijau, ketahanan rantai pasokan, standar, serta usaha kecil dan menengah," ujarnya.
"Bagi Indonesia, ini merupakan sebuah peluang untuk menarik investasi berkualitas, meningkatkan daya saing industri, serta mendukung pertumbuhan yang inklusif dan berkelanjutan," imbuh Rosan.
Laporan: Redaksi
Bagikan

Komentar
Berita Terkait

Diplomasi Indonesia untuk Palestina dan penguatan kemitraan dengan dunia Islam
Indonesia
•
15 Jan 2026

Segitiga Singapura-Johor-Riau dibidik jadi pusat data digital ASEAN
Indonesia
•
10 Jun 2026

Indonesia dan 7 negara lainnya kecam Israel atas pembatasan akses ke Masjid Al-Aqsa
Indonesia
•
12 Mar 2026

Taiwan akan cabut larangan masuk bagi pekerja migran Indonesia
Indonesia
•
08 Feb 2022


Berita Terbaru

Kemenag latih ribuan pelaku UMKM pesantren, perkuat daya saing digital
Indonesia
•
25 Jul 2026

Bandara Morowali terima hibah Rp177,99 miliar, landasan pacu diperpanjang 300 meter
Indonesia
•
23 Jul 2026

Universitas Republik Indonesia dikritik, Guru Besar UI ungkap 5 kejanggalan hukumnya
Indonesia
•
23 Jul 2026

Raksasa alat berat China LiuGong investasi di Karawang, target produksi 5.000 unit per tahun
Indonesia
•
22 Jul 2026
