Wahana antariksa kini dapat dipulihkan di darat dan laut

Sebuah kapal penyelamat mengangkat kapsul pembawa pulang (return capsule) dari wahana antariksa berawak generasi baru China, Mengzhou, pada 11 Februari 2026. (Xinhua/Yang Guanyu)
Wahana antariksa generasi baru China untuk misi berawak, Mengzhou, berhasil melakukan uji pembatalan tekanan dinamis maksimum (maximum dynamic pressure abort test) dan melakukan pendaratan tertarget di laut (splashdown) dengan aman.
Wenchang, China (Xinhua/Indonesia Window) – Misi uji coba wahana antariksa China, Mengzhou (Dream Vessel), telah membuktikan bahwa negara tersebut mampu melakukan pencarian dan pemulihan kapsul pembawa pulang (return capsule) miliknya dari darat maupun laut.
Mengzhou, wahana antariksa generasi baru China untuk misi berawak, berhasil melakukan uji pembatalan tekanan dinamis maksimum (maximum dynamic pressure abort test) dan melakukan pendaratan tertarget di laut (splashdown) dengan aman di wilayah yang telah ditentukan pada Rabu (11/2).
Tim pencarian dan penyelamatan maritim kemudian merampungkan proses pemulihan kapsul pembawa pulang tersebut. Kesuksesan ini memberikan pengalaman yang krusial bagi pengoperasian stasiun luar angkasa dan misi pendaratan berawak di Bulan selanjutnya, kata Badan Antariksa Berawak China (China Manned Space Agency/CMSA).
Sebelumnya, tim pencarian dan penyelamatan kedirgantaraan Pusat Peluncuran Satelit Jiuquan (Jiuquan Satellite Launch Center) berhasil menyelesaikan berbagai misi besar, termasuk pencarian dan pemulihan kapsul pembawa pulang wahana antariksa Shenzhou dan misi Bulan Chang'e.
Li Xin, pejabat dari Pusat Peluncuran Satelit Jiuquan, mengatakan bahwa dengan mengandalkan dukungan dari Situs Peluncuran Wahana Antariksa Wenchang dan peralatan yang baru dikembangkan dan diuji coba, tim pencarian dan penyelamatan kedirgantaraan, bersama Biro Penyelamatan Nanhai di bawah Kementerian Perhubungan China, berhasil membentuk jaringan pencarian dan penyelamatan maritim gabungan, serta mengembangkan kemampuan pencarian dan penyelamatan kedirgantaraan maritim.
Untuk misi ini, tim tersebut berfokus pada peningkatan kapasitas di bidang komando dan kontrol, pencarian dan pemantauan, penyelamatan dan pemulihan, serta dukungan komunikasi.
"Berbeda dengan lingkungan elektromagnetik yang relatif bersih di Gurun Gobi, China barat laut, lingkungan maritim, dengan suhu tinggi, kelembapan, dan salinitas yang tinggi serta angin kencang dan gelombang besar, memunculkan berbagai tantangan yang cukup besar bagi komunikasi," papar Shang Xu dari unit komunikasi tim tersebut.
Menurut Shang, unit tersebut membentuk sebuah jaringan komunikasi terintegrasi laut-udara-darat menggunakan teknologi 5G berbasis kapal (shipborne 5G), komunikasi satelit, dan stasiun yang berbasis di darat (shore-based station) guna memastikan keberhasilan misi.
Tim pencarian dan penyelamatan sebelumnya berhasil melakukan serangkaian latihan simulasi seluruh proses untuk berbagai operasi, seperti pencarian kapsul pembawa pulang, disposal, dan penyelaman.
"Melalui verifikasi dan diskusi berulang, kami terus mengoptimalkan rencana dan peralatan disposal," kata Song Changyou, anggota tim tersebut.
"Misi ini telah mengakumulasi pengalaman berharga bagi pengembangan sistem pencarian dan penyelamatan maritim China, serta bagi pengembangan situs pendaratan maritim," tutur Li.
Laporan: Redaksi
Bagikan
Komentar
Berita Terkait

Studi ungkap berjalan 5.000 langkah sehari dapat perlambat perkembangan Alzheimer
Indonesia
•
05 Nov 2025

Studi sebut erosi sungai tingkatkan peninggian Gunung Qomolangma baru-baru ini
Indonesia
•
02 Oct 2024

COVID-19 – Ilmuwan teliti hubungan antara sel punca dan virus corona
Indonesia
•
02 Feb 2022

Perjanjian untuk bangun pusat mangrove internasional pertama di dunia diteken di Shenzhen
Indonesia
•
08 Nov 2024
Berita Terbaru

Peneliti China bangun jaringan cip distribusi kunci kuantum dengan cakupan jarak 3.700 km
Indonesia
•
13 Feb 2026

Teknologi cetak 3D hasilkan cetakan beresolusi tinggi berskala milimeter dalam waktu 0,6 detik
Indonesia
•
14 Feb 2026

Proyek megasains China ungkap cetak biru genetik tumbuhan darat
Indonesia
•
14 Feb 2026

Beda etnis, beda risiko penyakit pembuluh darah otak
Indonesia
•
13 Feb 2026
