
Wabah Ebola di RD Kongo jadi terbesar kedua dalam sejarah, 2.061 orang meninggal

Pekerja membangun pusat perawatan Ebola di wilayah Beni di Provinsi Kivu Utara, Republik Demokratik Kongo, pada 22 Juli 2026. (Xinhua)
Jenewa/Kinshasa, Swiss/RD Kongo (Xinhua/Indonesia Window) – Wabah Ebola di Republik Demokratik (RD) Kongo menjadi wabah terbesar kedua sepanjang sejarah pencatatan, demikian peringatan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pada Rabu (12/8), setelah jumlah kasus terkonfirmasi meningkat menjadi 4.449 dengan 2.061 kematian.
"Ini sudah menjadi wabah Ebola terbesar kedua sepanjang sejarah, dan penyebarannya lebih cepat daripada wabah Ebola mana pun sebelumnya. Dengan laju saat ini, wabah ini diperkirakan akan melampaui wabah Ebola di Afrika Barat pada 2014 hingga 2016," ungkap Direktur Jenderal WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus dalam sebuah taklimat pers di Jenewa.
Data terbaru yang dirilis pada Rabu oleh otoritas kesehatan masyarakat RD Kongo menunjukkan bahwa tingkat kematian kasus secara keseluruhan berada di angka 46,3 persen. Sebanyak 716 pasien masih menjalani isolasi atau perawatan di rumah sakit, sementara 886 orang telah pulih.
Tedros menyebutkan bahwa wabah ini telah menyebar jauh lebih awal sebelum terdeteksi, sehingga upaya penanggulangan masih harus berjuang untuk mengatasinya.
"Wabah tersebut memulai penyebaran jauh lebih awal. Wabah ini masih jauh di depan kami, dan kami sedang berupaya untuk mengejarnya," papar dirjen WHO tersebut.
Sekitar 90 persen dari seluruh kasus terkonfirmasi dan 80 persen kasus kematian dilaporkan terjadi di Provinsi Ituri, di mana penularan yang berkelanjutan terus terjadi, ungkap WHO.
Tedros mengatakan sebagian besar kasus kematian masih terjadi di tengah masyarakat, bukan di pusat perawatan, sementara banyak kasus terdeteksi di luar daftar kontak yang diketahui. Hal ini mengindikasikan bahwa rantai penularan masih belum teridentifikasi.
"Selama kita belum mengetahui dan memutus setiap rantai penularan, kita tidak akan bisa menghentikan wabah ini," tuturnya.
Wabah tersebut, yang disebabkan oleh virus Ebola Bundibugyo, diumumkan oleh pemerintah RD Kongo pada 15 Mei.
Chikwe Ihekweazu, direktur eksekutif Program Darurat Kesehatan WHO, mengatakan bahwa hasil penyelidikan menunjukkan virus tersebut kemungkinan telah beredar selama dua hingga tiga bulan sebelum wabah terdeteksi secara resmi, meskipun waktu pasti awal mula penularan masih dalam penyelidikan.
Laporan: Redaksi
Bagikan

Komentar
Berita Terkait

Para pemimpin parlemen dunia serukan gencatan senjata secepatnya di Gaza
Indonesia
•
29 Mar 2024

Putin menangkan pilpres dengan 87,28 persen suara
Indonesia
•
20 Mar 2024

Arab Saudi optimis hubungan dengan AS di bawah Presiden Biden
Indonesia
•
23 Jan 2021

Gedung Putih umumkan bantuan senjata senilai 300 miliar dolar AS untuk Ukraina
Indonesia
•
14 Mar 2024


Berita Terbaru

Irak bersiap akhiri kehadiran militer asing, 30 September jadi tenggat tegas
Indonesia
•
13 Aug 2026

Analisis – Netanyahu tolak rencana damai Gaza, Israel tetap pertahankan pasukan dan lanjutkan serangan
Indonesia
•
12 Aug 2026

Standar darurat 15 liter, 1,3 juta warga Palestina hanya dapat kurang dari 6 liter air
Indonesia
•
12 Aug 2026

AS cabut lebih dari 175.000 visa sejak Trump kembali menjabat
Indonesia
•
11 Aug 2026
