Wabah Corona rugikan sektor pariwisata Indonesia 2 miliar dolar AS

Wabah Corona rugikan sektor pariwisata Indonesia 2 miliar dolar AS
Para penumpang mengenakan masker saat masuk pesawat dalam penerbangan internasional di Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Tangerang pada Jumat (7/2/2020). (Indonesia Window)

Jakarta (Indonesia Window) – Wabah virus Corona baru atau dikenal dengan COVID-19 telah berdampak pada perekonomian global, termasuk Indonesia yang diprediksi oleh Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia berada dalam zona pesimistis.

“Kondisi ekonomi ini merupakan tantangan dan kita harus cepat merespon hal itu untuk mengatasi kerugian  dan mengembalikan ekonomi sesuai yang diharapkan sebesar 5,04 persen pada 2020,” ujar Kepala Pusat Penelitian Ekonomi LIPI, Agus Eko Nugroho, yang dikutip dari situs jejaring LIPI di Jakarta, Kamis.

Agus menjelaskan, potensi kerugian di sektor pariwisata mencapi sekitar 2 miliyar dolar AS (1 dolar AS=14.150 rupiah).

“Nilai itu adalah dampak rata-rata PDB sektor pariwisata yang terkontraksi sekitar 0,009 persen,” jelas Agus, seraya menambahkan bahwa sektor angkutan udara terkontraksi sekitar 0, 013 persen, akomodasi 0,008 persen, serta makanan dan minuman sekitar 0,006 persen.

“Ini merupakan first round effect dari apa yang terjadi. Hal ini akan berpengaruh lebih dalam lagi jika terjadi second round effect,” kata Agus.

Studi Pusat Penelitian Ekonomi LIPI menyebutkan, sektor pariwisata sangat erat kaitannya dengan keberadaan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah, terutama sub sektor makanan, minuman, serta kerajinan kayu dan rotan.

“Dua sub sektor ini  akan terdampak langsung secara signifikan,” tutur Agus.

Sektor lain yang terdampak langsung adalah perdagangan dan konsumsi.

“Untuk perdagangan, sekitar 13 persen jenis barang ekspor ke China terdampak dan barang impor sebesar 6,5 persen asal China berpotensi hilang dari pasar domestik Indonesia. Sedangkan konsumsi, akan terkonstraksi sekitar 0,5 sampai dengan 0,8 persen,” terang Agus.

Kondisi ini menurutnya, akan berdampak pada pertumbuhan ekonomi nasional pada 2020.

“Target dari pemerintah sebesar lima sampai enam persen terancam tidak bisa terpenuhi jika hal ini merembet pada second round effect dimana dampak yang akan terjadi lebih dalam lagi,” ujarnya.

Agus meminta agar pemerintah memantau kondisi pasar mengingat ada potensi pergerakan harga menjelang bulan Ramadhan dan Idul Fitri.

Dia menyarankan kepada pemerintah, khususnya Otoritas Jasa Keuangan (OJK)  agar memberikan kelonggaran jatuh tempo kredit bagi UMKM yang berpotensi terdampak dari pelemahan ekonomi China tersebut.

“Sejumlah langkah strategis harus dipersiapkan guna mereduksi potensi dampak negatif pelemahan perekonomian dan sejumlah blokade perdagangan akibat wabah COVID-19 ini,” kata Agus.

Laporan: Redaksi

Berkomentar?

Please enter your comment!
Please enter your name here