Visi 2030 Saudi tingkatkan optimisme warganya

Visi 2030 Saudi tingkatkan optimisme warganya
Masyarakat Arab Saudi berkumpul di Festival Budaya Janadriyah di Riyadh (Februari 2018). (Indonesia Window)

Jakarta (Indonesia Window) – Visi 2030 Arab Saudi yang berisi tekad kerajaan tersebut untuk mendiversivikasikan ekonomi nasional dan mengurangi ketergantungan pada minyak, ternyata mempengaruhi sikap dan pandangan masyarakat negara teluk tersebut terhadap masa depan.

Survei Optimisme Global pertama di dunia yang dilakukan oleh YouGov menemukan bahwa 61 persen publik Saudi mengidentifikasi diri mereka optimistis – lima persen lebih tinggi dari rata-rata global – dan memiliki pandangan yang cerah tentang masa depan mereka sendiri sebesar 68 persen, demikian laporan Saudi Gazette.

Survei yang diluncurkan pada Expo Dubai 2020 pada Selasa (24/9) tersebut juga menunjukkan masyarakat Saudi adalah orang yang paling optimis di dunia, dan berpikiran positif bahwa aspirasi masa depan mereka dapat dipenuhi.

Survei itu dilakukan terhadap lebih dari 20.000 orang di 23 negara berdasarkan geografi, jenis kelamin, pekerjaan, status perkawinan, dan pendapatan guna melacak prioritas individu, nasional, dan global untuk masa depan tentang keberlanjutan, pengembangan ekonomi, teknologi, perjalanan, dan perubahan iklim.

Di kawasan teluk, survei itu melibatkan 4.000 peserta dari lima negara, yakni Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Oman, Kuwait, dan Yordania.

Publik Arab Saudi juga menekankan pentingnya toleransi dan rasa hormat sebagai faktor untuk menciptakan dunia yang lebih baik demi masa depan, diikuti oleh konservasi sumber daya alam dan penggunaan energi alternatif.

Temuan lebih lanjut menunjukkan bahwa rata-rata orang Arab Saudi (79 persen) adalah yang paling berharap di dunia (72 persen) tentang masa depan energi yang bersih dan terbarukan serta kemampuan manusia dalam menangani perubahan iklim.

Publik Arab Saudi juga memiliki pandangan positif terhadap kerajaan menuju masa depan yang berkelanjutan sebesar 67 persen, lebih tinggi dari rata-rata global (60 persen).

Laporan: Redaksi

Berkomentar?

Please enter your comment!
Please enter your name here