Uji kepalsuan Al-Quran dalam surat Al-Lahab

Uji kepalsuan Al-Quran dalam surat Al-Lahab
Al-Quran. (Indonesia Window)

Jakarta (Indonesia Window) – Bagi mereka yang masih ragu akan kebenaran Al-Quran menganggap bahwa kitab yang berisi perkataan Allah ﷻ ini hanyalah kumpulan kata bijak, syair-syair, cerita-cerita masa lalu, bahkan nekad menyebut isinya salah.

Pendakwah internasional asal India, Dr. Zakir Naik, punya cara bagi mereka yang masih bimbang akan kebenaran Al-Quran untuk membuktikan isi kitab Allah ﷻ ini dengan metode falsification test atau uji kepalsuan.

“Ada berbagai teori muncul, namun para ilmuan tidak punya cukup waktu untuk menganalisanya,” kata Dr. Zakir dalam sebuah video ceramahnya yang disiarkan oleh Peace TV.

Karenanya, menurut dia, para ilmuan yang mengajukan suatu teori harus menyertakan metode ilmiah guna membuktikan bahwa konsep baru mereka salah.

Dr. Zakir mencontohkan Albert Einstein di awal abad ke-20 mengajukan beberapa teori tentang jagat raya sekaligus tiga cara untuk membuktikan teorinya salah.

Para ilmuan menganalisa teori-teori Einstein selama enam tahun dengan cara pembuktian yang diajukannya, dan akhirnya setuju dengan konsep-konsep tersebut.

“Siapa pun yang melakukan uji kepalsuan patut didengarkan,” tegas Dr. Zakir, seraya menambahkan bahwa Al-Quran menyebutkan banyak sekali uji kepalsuan.

Menurut dia, sebagian uji kepalsuan hanya diperuntukkan untuk masa tertentu ketika wahyu diturunkan, sebagian lagi untuk masa sekarang, dan hingga Hari Kiamat.

“Salah satu uji kepalsuan yang diperuntukkan untuk masa tertentu ketika Al-Quran diwahyukan adalah kisah Abu Lahab,” tutur Dr. Zakir.

Abu Lahab (556-624 Masehi), yang berarti “ayah dari gejolak api” seperti wajahnya yang menyala bagai api, bernama Abdul ‘Uzza bin Abdul Muththalib (bin Hasyim) dengan kunyah Abu ‘Utaibah.

Meski pun dia adalah salah satu paman Rasulullah ﷺ, Abu Lahab sangat membenci keponakannya dan ajaran Islam yang dibawanya.

Abu Lahab selalu berusaha memutar balikkan setiap hal yang disampaikan oleh Rasulullah ﷺ, bahkan tak segan mencelakai beliau, hingga akhirnya Allah ﷻ menurunkan wahyu yang menyebutkan bahwa Abu Lahab dan istrinya akan dibakar di neraka.

Dr. Zakir menjelaskan bahwa dengan ayat yang tercantum dalam Surat Al-Lahab yang diturunkan di Makkah, Al-Quran memastikan Abu Lahab dan istrinya tidak akan pernah beriman kepada Allah ﷻ.

“Surat ini diwahyukan sepuluh tahun sebelum kematian Abu Lahab,” ujar Dr. Zakir, seraya menambahkan bahwa jika Abu Lahab sangat ingin membuktikan Al-Quran salah, dia hanya harus mengucapkan syahadat, mengakui Allah ﷻ sebagai satu-satunya Illah yang layak disembah dan Muhammad ﷺ adalah utusan-NYA.

Dengan masuk Islam, Abu Lahab dengan mudah membuktikan Al-Quran salah, dan sekaligus mematahkan seluruh ajaran Islam seketika.

Sementara Abu Lahab tetap dalam pengingkarannya kepada Allah ﷻ, dalam kurun waktu sepuluh tahun antara diwahyukannya ayat tentang diri dan istrinya, dan kematiannya, banyak dari kawan-kawan paman Rasulullah ﷺ ini yang memeluk Islam.

Menurut Dr. Zakir, Abu Lahab yang tewas dalam Perang Badar (624 Masehi) punya waktu sepuluh tahun untuk memutuskan masuk Islam karena selama periode itu Rasulullah ﷻ senantiasa mengingatkannya akan firman Allah ﷺ tersebut.

“Sangat mudah bagi Abu Lahab. Satu-satunya yang perlu dilakukannya adalah berkata ‘aku seorang Muslim’, dan selesai sudah. Al-Quran terbukti salah,” seru Dr. Zakir.

Dia menambahkan bahwa pengakuan tersebut sebenarnya sangat mudah bagi Abu Lahab yang sudah sering kali berbohong kepada dan tentang Rasulullah ﷺ.

“Dia hanya perlu berbohong sekali lagi, dan Al-Quran terbukti salah. Tapi dia tidak melakukannya karena penulis Al-Quran adalah Allah ﷻ yang Maha Tahu bahwa Abu Lahab tak akan pernah masuk Islam.

Uji kepalsuan Al-Quran dalam surat Al-Lahab
Naskah surat Al-Lahab. (Indonesia Window)

Surat Al-Baqarah : 94-95

Uji kepalsuan semacam kisah Abu Lahab juga ada pada Surat Al-Baqarah ayat 94-95.

Dr. Zakir menjelaskan bahwa ada sekumpulan orang Yahudi yang berselisih dengan Muslim. Mereka berkata, “Kampung akhirat (surga) hanya untuk kami.”

Ucapan mereka merujuk pada ayat 94 yang diterjemahkan: “Katakanlah: ‘Jika kamu (menganggap bahwa) kampung akhirat (surga) itu khusus untukmu di sisi Allah, bukan untuk orang lain, maka inginilah kematian(mu), jika kamu memang benar’.”

“Satu-satunya cara yang harus dilakukan oleh Yahudi tersebut untuk membuktikan bahwa Al-Quran itu salah adalah mengatakan: ‘Aku ingin mati’,” ujar Dr. Zakir.

Selanjutnya dia menjelaskan bahwa bukan berarti Yahudi itu harus mati atau bunuh diri atau menusuk dirinya hingga tewas. “Satu-satunya yang harus mereka lakukan adalah berkata, ‘Aku ingin mati’. Sangat mudah,” ujar Dr. Zakir.

“Hanya tiga kata. Aku – ingin – mati,” tambahnya.

Namun, Allah ﷻ berfirman di ayat berikutnya, yang terjemahannya adalah: “Dan sekali-kali mereka tidak akan mengingini kematian itu selama-lamanya, karena kesalahan-kesalahan yang telah diperbuat oleh tangan mereka (sendiri), dan Allah Maha Mengetahui siapa orang-orang yang aniaya.”

Dan memang, Yahudi itu tidak pernah menginginkan kematian. Padahal jika saja mereka mengucapkan “Aku ingin mati” – yang berarti berseberangan dengan Surat Al-Baqarah ayat 95 -maka sukseslah mereka dalam membuktikan bahwa Al-Quran itu salah.

Maha Benar Allah dengan segala firman-NYA.

Penulis: Indonesia Window

Berkomentar?

Please enter your comment!
Please enter your name here