Trump sebut perundingan damai dengan Iran "masuki tahap akhir," AS tunggu "jawaban tepat"

Foto yang diabadikan pada 7 Mei 2026 ini menunjukkan Gedung Putih di belakang sebuah rambu lalu lintas di Washington DC, Amerika Serikat. (Xinhua/Li Rui)

Washington, Amerika Serikat (Xinhua/Indonesia Window) – Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump pada Rabu (20/5) mengatakan pemerintahannya sedang "memasuki tahap akhir" perundingan damai dengan Iran dan bersedia menunggu beberapa hari lagi untuk mendapatkan "jawaban yang tepat."

"Kita sedang berada di tahap akhir perundingan dengan Iran," kata Trump kepada wartawan. "Kita lihat saja apa yang akan terjadi," imbuhnya.

"Kami entah akan mencapai kesepakatan atau mengambil beberapa tindakan yang kurang menyenangkan. Tetapi semoga hal itu tidak perlu terjadi," kata Trump.

Presiden AS itu mengeklaim dirinya "tidak tergesa-gesa" untuk menuntaskan perjanjian perdamaian dengan Iran, mengisyaratkan bahwa dirinya tidak akan mempertimbangkan untuk membuat "kesepakatan terbatas" yang hanya berfokus pada pembukaan kembali Selat Hormuz.

"Kami akan memberikan kesempatan pada kesepakatan ini," kata Trump tentang potensi kesepakatan, menolak gagasan kompromi parsial.

"Saya tidak tergesa-gesa. Hanya karena pemilihan umum paruh waktu di depan mata, tidak berarti saya harus terburu-buru. Saya tidak tergesa-gesa," kata Trump.

Presiden AS itu mengatakan dirinya telah melakukan pembicaraan via telepon yang "sangat baik" dengan Presiden Turkiye Recep Tayyip Erdogan sebelumnya pada Rabu. Turkiye dipandang sebagai salah satu mediator kunci dalam negosiasi AS-Iran.

Sementara itu, Korps Garda Revolusi Islam (Islamic Revolutionary Guard Corps/IRGC) Iran pada Rabu memperingatkan jika agresi AS dan Israel terhadap Iran terulang, perang akan meluas hingga melampaui kawasan Asia Barat.

Pada hari yang sama, Menteri Luar Negeri Iran Seyed Abbas Araghchi memperingatkan melalui unggahan di X bahwa memulai kembali perang dengan Iran hanya akan menghadirkan lebih banyak kejutan bagi AS, sambil mengutip laporan terbaru dari Kongres AS yang mengakui kehilangan puluhan pesawat AS.

Pada 28 Februari, AS dan Israel melancarkan serangan gabungan terhadap Teheran dan beberapa kota Iran lainnya, yang menewaskan pemimpin tertinggi Iran saat itu, Ali Khamenei, serta sejumlah komandan militer senior dan warga sipil. Iran kemudian membalas dengan melancarkan rentetan serangan rudal dan drone yang menargetkan pangkalan militer serta aset milik Israel dan AS di Timur Tengah.

Gencatan senjata antara pihak-pihak yang bertikai akhirnya tercapai pada 8 April, diikuti satu putaran perundingan perdamaian di Islamabad, ibu kota Pakistan, pada 11 hingga 12 April, yang gagal menghasilkan kesepakatan.

Dalam beberapa hari terakhir, pejabat AS dan Israel meningkatkan ancaman akan mengulangi serangan militer terhadap Iran. Pada Selasa (19/5), Trump mengeklaim para pemimpin Iran "memohon" agar tercapai kesepakatan. Trump memperingatkan serangan AS bisa saja kembali terjadi dalam beberapa hari mendatang jika tidak ada kesepakatan tercapai.

Laporan: Redaksi

Bagikan

Komentar

Berita Terkait