
Trump minta Mahkamah Agung AS izinkan aturan baru pemungutan suara via pos

Seorang petugas pemilu membantu seorang pemilih (kanan) memberikan suara dalam pemilihan presiden Amerika Serikat (AS) di Dixville Notch, New Hampshire, AS, pada 5 November 2024. (Xinhua/Li Rui)
Washington, Amerika Serikat (Xinhua/Indonesia Window) – Pemerintahan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump pada Senin (27/7) meminta Mahkamah Agung AS untuk mengizinkan pemberlakuan perintah eksekutif yang memperketat aturan pemungutan suara via pos (mail-in voting) serta menyusun daftar kelayakan pemilih federal menjelang pemilihan umum (pemilu) paruh waktu pada November.
Departemen Kehakiman AS pada Senin mengajukan permohonan darurat kepada Mahkamah Agung AS, memintanya menangguhkan putusan pengadilan tingkat rendah yang memblokir perintah tersebut.
Pemerintahan Trump menyatakan permohonan itu diperlukan guna memastikan kebijakan baru tersebut dapat diterapkan sebelum pemilu paruh waktu.
Perintah eksekutif yang ditandatangani Trump pada Maret itu menginstruksikan lembaga-lembaga federal untuk menyusun daftar warga negara AS yang memenuhi syarat, mewajibkan Layanan Pos AS untuk mengirimkan dokumen pemungutan suara melalui pos hanya kepada pemilih yang telah terdaftar, serta menyerukan persyaratan pendaftaran pemilih yang lebih ketat.
Perintah tersebut ditentang oleh sejumlah negara bagian yang sebagian besar dipimpin oleh Partai Demokrat serta Distrik Columbia, yang berpendapat bahwa Trump telah melampaui kewenangannya.
Pengadilan federal di Negara Bagian Massachusetts memblokir perintah tersebut, dan putusan itu kemudian diperkuat oleh Pengadilan Banding Sirkuit Pertama AS.
Trump mengatakan langkah-langkah tersebut bertujuan untuk menjaga integritas pemilu dan mencegah orang non-warga negara untuk memberikan suara.
Selama bertahun-tahun, Trump mempertanyakan integritas pemilihan presiden 2020 setelah kalah dalam pemilu tersebut.
Para pengkritik berpendapat bahwa pemberian suara yang tidak layak oleh orang non-warga negara jarang terjadi dan persyaratan yang lebih ketat dapat mempersulit sebagian pemilih yang memenuhi syarat untuk menggunakan hak pilih mereka.
Menurut sebuah makalah penelitian dari States United Democracy Center, sebuah organisasi nonpartisan, hampir satu dari tiga warga Amerika memberikan suara melalui pos dalam pemilu 2024, mencakup lebih dari 48 juta suara.
Makalah tersebut juga menyebutkan bahwa metode itu digunakan oleh sekitar satu dari empat pemilih Partai Demokrat, satu dari lima pemilih Partai Republik, serta satu dari lima pemilih yang terdaftar dengan partai lain atau tanpa partai.
Laporan: Redaksi
Bagikan

Komentar
Berita Terkait

Pekerja kemanusiaan peringatkan minimnya perawatan prostetik di Gaza
Indonesia
•
06 May 2026

COVID-19 – Arab Saudi setujui vaksin Oxford-AstraZeneca
Indonesia
•
19 Feb 2021

Suriah tegaskan Dataran Tinggi Golan wilayahnya, perundingan dengan Israel digelar di Yordania
Indonesia
•
24 Aug 2026

COVID-19 – Taiwan lakukan tes semua pelancong saat kedatangan
Indonesia
•
01 Jul 2021


Berita Terbaru

Komisi PBB: Israel lakukan kejahatan perang dan kejahatan terhadap kemanusiaan di Palestina
Indonesia
•
28 Oct 2026

Ukraina dan Rusia mulai gencatan senjata kemanusiaan di Oleshky
Indonesia
•
28 Oct 2026

Serangan udara Arab Saudi hantam Sanaa saat Houthi klaim lancarkan serangan ke Riyadh
Indonesia
•
26 Oct 2026

Jepang tanggapi serius kebakaran besar 530.000 hektare di Mongolia yang terkait kegiatan Mobicom
Indonesia
•
27 Oct 2026
