
Tim penyidik Korsel masuki kediaman kepresidenan dalam upaya tangkap Yoon Suk-yeol

Orang-orang berkumpul di dekat kediaman kepresidenan di Seoul, Korea Selatan, pada 15 Januari 2025. (Xinhua/NEWSIS)
Tim penyidik Korea Selatan (Korsel) memasuki kediaman kepresidenan dalam upaya menahan Presiden Yoon Suk-yeol yang dimakzulkan.
Seoul, Korea Selatan (Xinhua/Indonesia Window) – Tim penyidik Korea Selatan (Korsel) pada Rabu (15/1) memasuki kediaman kepresidenan dalam upaya menahan Presiden Yoon Suk-yeol yang dimakzulkan, tunjuk rekaman televisi.Tim kepolisian dan penyidik dari Kantor Investigasi Korupsi untuk Pejabat Tinggi (Corruption Investigation Office for High-ranking Officials/CIO) Korsel dan Kantor Investigasi Nasional (National Office of Investigation/NOI) Korsel berhasil menerobos barisan bus kedua usai menembus barisan bus pertama menggunakan tangga.Tim penyidik tersebut berhadapan dengan para pendukung Yoon, anggota parlemen dari Partai Kekuatan Rakyat (People Power Party) berhaluan konservatif yang berkuasa, serta pengacara Yoon di depan pintu gerbang utama kediaman kepresidenan selama lebih dari dua jam pada Rabu pagi. Penangkapan Yoon ini dilakukan setelah upaya penangkapan sebelumnya pada awal bulan ini gagal.Media setempat melaporkan bahwa tim penyidik tersebut terlibat "kontak fisik" dengan dinas keamanan. Kepolisian memperingatkan bahwa segala upaya untuk menolak eksekusi surat perintah penangkapan dapat berujung pada penahanan.Tim penyidik berupaya menahan Yoon di kediaman kepresidenan pada 3 Januari, namun gagal karena dinas keamanan kepresidenan menghalangi eksekusi surat perintah penangkapan tersebut.Pengadilan Seoul mengabulkan perpanjangan surat perintah penangkapan Yoon pada 7 Januari dengan mengeluarkan surat perintah penangkapan kedua terhadap presiden yang dimakzulkan tersebut.Mosi pemakzulan terhadap Yoon diloloskan di Majelis Nasional Korsel pada 14 Desember tahun lalu dan diserahkan ke Mahkamah Konstitusi Korsel untuk dibahas selama 180 hari. Selama periode tersebut, kekuasaan kepresidenan Yoon ditangguhkan.Yoon, yang disebut oleh badan investigasi sebagai tersangka utama atas tuduhan pemberontakan, mengumumkan keadaan darurat militer pada 3 Desember malam, namun deklarasi itu dicabut oleh Majelis Nasional Korsel beberapa jam kemudian.Laporan: RedaksiBagikan

Komentar
Berita Terkait

PBB ungkap fakta mengerikan: Lebih dari 24 ribu anak jadi korban konflik bersenjata pada 2025
Indonesia
•
18 Jun 2026

Perusahaan terkait sanksi Rusia hadapi rintangan pembayaran utang
Indonesia
•
23 Mar 2022

Hilang saat operasi penyitaan senjata Iran, 2 personel Navy SEAL AS dinyatakan tewas
Indonesia
•
23 Jan 2024

Turkiye keluarkan perintah penangkapan untuk 37 pemimpin Israel terkait Gaza
Indonesia
•
09 Nov 2025


Berita Terbaru

Netanyahu terdesak, oposisi unggul dalam ‘exit poll’, tetapi mayoritas masih buntu
Indonesia
•
28 Oct 2026

Fokus Berita – Pemilu Israel di tengah operasi militer, warga Palestina khawatir kehidupan kian sulit
Indonesia
•
28 Oct 2026

Komisi PBB: Israel lakukan kejahatan perang dan kejahatan terhadap kemanusiaan di Palestina
Indonesia
•
28 Oct 2026

Ukraina dan Rusia mulai gencatan senjata kemanusiaan di Oleshky
Indonesia
•
28 Oct 2026
