Feature: Dibangun 165 tahun lalu, Terusan Suez jadi saksi perjalanan Mesir dari terpuruk hingga bangkit (Bagian 2 - selesai)

Sebuah kapal terlihat di Terusan Suez di Provinsi Ismailia, Mesir, pada 3 Januari 2022. (Xinhua/Ahmed Gomaa)
Terusan Suez berperan sebagai arteri vital bagi perdagangan dunia dengan sekitar 30 persen lalu lintas peti kemas dunia dan lebih dari 1 juta barel minyak melintasi jalur air tersebut setiap hari.
Pada 1952, sejumlah perwira militer yang dipimpin oleh Nasser melancarkan sebuah revolusi, menggulingkan monarki pro-Barat, dan pada tahun berikutnya menyaksikan pendirian Republik Mesir.Pada 26 Juli 1956, sebanyak 100.000 warga Mesir berkumpul di Alun-Alun Pembebasan di Alexandria untuk memperingati empat tahun revolusi tersebut. Di hadapan massa yang bersorak-sorai, Nasser menyatakan bahwa dirinya telah menandatangani undang-undang nasionalisasi Suez Canal Company pada hari yang sama."Kita tidak boleh membiarkan kaum imperialis atau pengeksplotasi menguasai kita. Kita tidak akan membiarkan sejarah terulang kembali," ujarnya.Keputusan Nasser untuk menasionalisasi Terusan Suez menantang kepentingan inti Inggris dan Prancis. Menyusul koersi dan persuasi politik yang gagal, Inggris dan Prancis memutuskan untuk menjalin aliansi dengan Israel, yang saat itu sedang berselisih dengan Mesir, untuk mengobarkan perang dan menguasai Terusan Suez.Saat perang terjadi, untuk mencegah Terusan Suez jatuh kembali ke tangan kekuatan Barat, warga Mesir sengaja menenggelamkan puluhan kapal di terusan tersebut untuk memblokade jalurnya. Pada akhirnya, di bawah tekanan kecaman global dan tekad rakyat Mesir yang tak tergoyahkan untuk mempertahankan terusan itu, para agresor mundur dan menarik diri dari Mesir.Masa depan bersama Global SouthKini, Terusan Suez berperan sebagai arteri vital bagi perdagangan dunia. Selama periode tersibuknya, sekitar 30 persen lalu lintas peti kemas dunia dan lebih dari 1 juta barel minyak melintasi jalur air tersebut setiap hari.Menyusuri jalan di sepanjang tepian terusan tersebut, Anda akan menjumpai wisatawan dari berbagai etnis yang sedang berfoto dan bersantai di tempat-tempat populer, sementara kapal-kapal pengangkut barang berukuran besar yang sarat dengan muatan melaju pelan.Namun demikian, di balik suasana tenang tersebut, Mesir masih berjuang untuk membebaskan diri dari kendali Barat dan mewujudkan pembangunan yang independen.Sejak awal 1990-an, beberapa institusi keuangan internasional yang didominasi oleh Barat memanfaatkan pinjaman dan bantuan dalam jumlah besar untuk membujuk Mesir agar menerapkan reformasi neoliberal, yang membuka pintu selebar-lebarnya bagi berduyun-duyunnya modal Barat.Ironisnya, lebih dari seabad yang lalu, melalui manuver keuangan semacam itu, Inggris dan Prancis berhasil menguasai Terusan Suez.Menurut pandangan Kaddour, sejarah telah memberikan jawabannya. "Berpikirlah tentang masa lalu -- siapa yang telah menindas kita? Siapa yang telah membantu kita? Siapa yang berempati dengan penderitaan kita? Sahabat kita di Timur," kata Kaddour.Saat ini, kerja sama yang saling menguntungkan di sepanjang Terusan Suez antara Mesir dan negara-negara berkembang telah membuahkan hasil yang bermanfaat.
Foto yang diabadikan pada 10 Agustus 2023 ini menunjukkan sebuah gedung perkantoran di Zona Kerja Sama Ekonomi dan Perdagangan TEDA Suez China-Mesir di Provinsi Suez, Mesir. (Xinhua/Sui Xiankai)
Bagikan
Komentar
Berita Terkait

Pengadilan Korsel keluarkan surat perintah penangkapan untuk Yoon Suk-yeol
Indonesia
•
02 Aug 2025

Serangan udara koalisi pimpinan AS gempur ibu kota Yaman
Indonesia
•
26 Feb 2024

Fokus Berita – Norwegia, Irlandia, dan Spanyol akui secara resmi Negara Palestina
Indonesia
•
23 May 2024

China desak AS selesaikan masalah HAM dalam negeri, berhenti campuri urusan negara lain
Indonesia
•
18 Jul 2024
Berita Terbaru

Rusia terima Ukraina yang netral dan bersahabat sebagai tetangga di masa depan
Indonesia
•
06 Feb 2026

Trump melunak soal Perjanjian Chagos Inggris usai bicara dengan Starmer
Indonesia
•
07 Feb 2026

Perjanjian pengurangan senjata nuklir Rusia dan AS berakhir, perdamaian dunia terancam
Indonesia
•
06 Feb 2026

Rudal Khorramshahr-4 siap luncur di situs bawah tanah Iran jelang pembicaraan dengan AS
Indonesia
•
06 Feb 2026
