Korban di Gaza terus bertambah di tengah evakuasi pasien via Rafah

Truk-truk yang mengangkut pasokan bantuan terlihat di Deir al-Balah, Jalur Gaza tengah, pada 16 Oktober 2025. (Xinhua/Rizek Abdeljawad)
Evakuasi pasien dari Gaza melewati perlintasan Rafah menuju Mesir terus berjalan, di tengah serangan Israel yang mematikan.
PBB (Xinhua/Indonesia Window) – Kementerian Kesehatan Gaza melaporkan puluhan korban tewas dan luka-luka dalam 24 jam terakhir, saat para pasien beserta pendamping mereka melewati perlintasan Rafah, demikian disampaikan badan kemanusiaan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pada Kamis (5/2).
"Tadi malam, tim di lapangan menerima tambahan 25 orang yang kembali melalui perlintasan Rafah," kata Kantor PBB untuk Koordinasi Urusan Kemanusiaan (OCHA). "Seperti pada malam-malam sebelumnya, Program Pembangunan PBB (UNDP) menyediakan transportasi ke Rumah Sakit Nasser di Khan Younis."
OCHA bersama mitra-mitranya di Rumah Sakit Nasser menyambut warga yang kembali dari Mesir di area penerimaan, dengan para spesialis perlindungan, psikolog, tenaga medis, dan dukungan lainnya, kata kantor tersebut.
Pada Rabu (4/2), Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) bersama mitra-mitranya mendukung evakuasi medis delapan pasien dan 17 pendamping mereka dari Gaza ke Mesir melalui Rafah. Pada Kamis dini hari waktu setempat, mereka juga mendukung evakuasi medis tujuh pasien tambahan beserta 14 pendamping mereka.
"Rekan-rekan PBB bekerja sama dengan seluruh pemangku kepentingan untuk mengatasi tantangan yang terus menghambat operasional, agar lebih banyak orang dapat menerima perawatan yang mereka butuhkan, secara aman dan bermartabat," kata OCHA.
WHO menyatakan prioritas utamanya adalah memastikan masuknya lebih banyak pasokan kemanusiaan ke Gaza serta dengan cepat meningkatkan layanan kesehatan, merehabilitasi fasilitas yang rusak, dan memperluas layanan-layanan penting. Upaya-upaya ini sangat penting untuk membangun sistem kesehatan yang tangguh dan berkelanjutan serta mengurangi kebutuhan akan evakuasi medis.
Di Tepi Barat, kantor tersebut memperingatkan bahwa tingkat pengungsian masih tinggi. Sejak awal tahun ini, lebih dari 900 warga Palestina terpaksa meninggalkan rumah atau komunitas mereka, mayoritas akibat kekerasan pemukim, pembatasan akses, serta penghancuran.
Dari 20 Januari hingga Senin (2/2) lalu, OCHA mengatakan pihaknya telah mendokumentasikan lebih dari 50 serangan oleh pemukim Israel yang mengakibatkan korban jiwa, kerusakan properti, atau keduanya.
OCHA mengatakan mereka sedang melakukan penilaian awal terhadap kerusakan dan kebutuhan setelah insiden-insiden tersebut.
Laporan: Redaksi
Bagikan
Komentar
Berita Terkait

Presiden Xi bertemu Henry Kissinger
Indonesia
•
24 Jul 2023

UEA akan tampung 5.000 pengungsi Afghanistan sebelum ke negara ketiga
Indonesia
•
21 Aug 2021

Analis: China dan Korea Selatan siap jalin kerja sama di masa depan
Indonesia
•
29 Aug 2022

Diplomat senior sebut China siap terus berjuang demi perdamaian
Indonesia
•
20 Feb 2023
Berita Terbaru

Rusia terima Ukraina yang netral dan bersahabat sebagai tetangga di masa depan
Indonesia
•
06 Feb 2026

Perjanjian pengurangan senjata nuklir Rusia dan AS berakhir, perdamaian dunia terancam
Indonesia
•
06 Feb 2026

Rudal Khorramshahr-4 siap luncur di situs bawah tanah Iran jelang pembicaraan dengan AS
Indonesia
•
06 Feb 2026

Perundingan Rusia-Ukraina di UEA hasilkan kesepakatan tukar tawanan, isu utama belum tuntas
Indonesia
•
06 Feb 2026
