
Temuan fosil burung purba di China bongkar misteri evolusi dari dinosaurus ke burung

Ilustrasi. (Lisa Yount on Unsplash)
Beijing, China (Xinhua/Indonesia Window) – Para peneliti China belum lama ini menemukan fosil burung baru dari periode Jura yang mematahkan asumsi lama mengenai bagaimana ekor burung berevolusi, demikian menurut temuan-temuan yang dipublikasikan secara daring di jurnal Science Advances pada Kamis (2/7).
Fosil tersebut, yang diberi nama Zhengheornis buyu, ditemukan oleh tim peneliti gabungan dari Institut Paleontologi Vertebrata dan Paleoantropologi di bawah naungan Akademi Ilmu Pengetahuan China (Chinese Academy of Sciences/CAS) dan Institut Ilmu Geologi di Provinsi Fujian, China timur.
Studi para peneliti tersebut menunjukkan bahwa burung itu hanya memiliki ekor dengan 15 ruas tulang belakang kaudal yang memendek, tanpa adanya pygostyle yang menyatu pada bagian ujungnya. Sebaliknya, burung-burung berekor panjang lain memiliki jumlah ruas tulang belakang kaudal yang jauh lebih banyak.
Pygostyle merupakan struktur yang terbentuk oleh penyatuan beberapa ruas tulang belakang ekor pada bagian ujungnya.
Struktur tersebut menjadi bagian penting dari kerangka burung modern dan memainkan peran vital dalam kemampuan terbang, sementara memendeknya ekor merupakan salah satu transformasi morfologi paling mendasar dalam proses transisi dari dinosaurus menjadi burung.
Dengan berat hanya 74 hingga 163 gram dan panjang sekitar 20 sentimeter, burung tersebut merupakan burung berekor panjang terkecil yang diketahui hingga saat ini.
Kombinasi unik tersebut, yakni ekor pendek tanpa pygostyle yang menyatu, justru menjadi alasan mengapa penemuan itu sangat signifikan, karena menantang asumsi lama bahwa bentuk transisi semacam itu tidak pernah ada.
Catatan fosil sebelumnya mengindikasikan bahwa burung paling awal yang memiliki pygostyle muncul pada periode Jura Akhir, sekitar 150 juta tahun silam, ketika burung-burung lain dan kerabat dinosaurus mereka seluruhnya masih memiliki ekor panjang.
Para peneliti menuturkan bahwa pengecilan ukuran tubuh merupakan salah satu faktor pendorong utama di balik transisi dari dinosaurus menjadi burung, yang menunjukkan bahwa beberapa burung mengalami pengecilan ukuran tubuh yang lebih cepat pada awal evolusi mereka daripada yang diyakini sebelumnya.
Laporan: Redaksi
Bagikan

Komentar
Berita Terkait

Platform T-makers jembatani Selat Taiwan dengan inovasi dan peluang bisnis
Indonesia
•
18 Jun 2024

Studi: Hanya 15 persen wilayah pesisir dunia yang tetap utuh
Indonesia
•
08 Feb 2022

Tim peneliti China kembangkan filet ikan kultur mirip jaringan
Indonesia
•
23 May 2023

Ilmuwan China produksi hidrogen langsung dari air laut
Indonesia
•
13 Apr 2026


Berita Terbaru

19 patogen picu 9,7 juta infeksi dan 50.800 kematian per tahun di AS
Indonesia
•
28 Oct 2026

Amazon di Brasil lepaskan 1,17 miliar ton karbon lebih banyak daripada yang diserap per tahun
Indonesia
•
23 Oct 2026

96 persen terumbu karang dunia terancam kritis akibat pemanasan laut, Great Barrier Reef Australia bisa hancur pada 2075
Indonesia
•
23 Oct 2026

Feature – Menimbang klaim manfaat ‘peach gum’, hidangan penutup dari getah pohon persik
Indonesia
•
22 Oct 2026
