
AI ubah cara belajar dan bekerja, universitas perlu rancang ulang pendidikan

Sejumlah siswa menjajal alat realitas virtual (virtual reality/VR) di pusat pengalaman kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) sebuah sekolah dasar di Tianjin, China utara, pada 4 September 2025. (Xinhua/Zhao Zishuo)
London, Inggris (Xinhua/Indonesia Window) – Kalangan universitas secara fundamental harus memikirkan kembali cara mereka mendidik mahasiswa di dunia di mana kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) sedang mengubah dunia kerja, ungkap sebuah studi baru yang dirilis pada Jumat (3/7) oleh Universitas Manchester.
Kemunculan AI membuat pendidikan tinggi perlu memberikan penekanan yang lebih besar pada pemikiran kritis, penilaian etis, dan komunikasi, sebut studi yang ditulis oleh Kelechi Ekuma dari Institut Pembangunan Global Universitas Manchester.
Studi itu mengatakan bahwa meskipun alat AI dengan cepat mengubah cara orang belajar dan bekerja, banyak universitas terus bergantung pada model pengajaran dan penilaian yang dirancang untuk era sebelum AI. Hal ini dapat menciptakan kesenjangan antara keterampilan lulusan dan ekspektasi para pemberi kerja.
Oleh karena itu, universitas-universitas harus melangkah lebih jauh daripada sekadar mengintegrasikan AI ke dalam ruang kelas dengan memikirkan kembali tujuan pendidikan tinggi, sehingga mempersiapkan mahasiswa untuk bekerja berdampingan dengan sistem AI yang makin mumpuni, alih-alih bersaing dengannya, kata studi tersebut.
Para lulusan akan kian membutuhkan keterampilan berpikir kritis dan komunikasi yang kuat, kesadaran etis, dan kemampuan untuk memahami situasi yang kompleks, serta pemahaman tentang cara kerja AI, papar studi itu.
"AI sedang mengubah cara pengetahuan diciptakan, cara pengambilan keputusan, dan cara banyak pekerjaan dilakukan, universitas perlu mempertimbangkan secara cermat tentang bagaimana mereka mempersiapkan mahasiswa untuk masa depan tersebut," ujar Ekuma.
Studi itu menyerukan perubahan signifikan pada metode penilaian, berpendapat bahwa ujian dan tugas kuliah konvensional harus digantikan oleh bentuk evaluasi yang lebih autentik yang menguji kemampuan mahasiswa dalam memecahkan masalah kompleks, melakukan penilaian, dan menerapkan pengetahuan dalam konteks dunia nyata.
Menurut Ekuma, institusi pendidikan harus merangkul AI sebagai mitra pengajaran, bukan memperlakukannya semata-mata sebagai ancaman, sehingga dapat membantu mahasiswa mengembangkan literasi AI bersamaan dengan keahlian yang sesuai disiplin ilmunya.
Laporan: Redaksi
Bagikan

Komentar
Berita Terkait

Ilmuwan China akan eksplorasi material dan teknologi konstruksi Bulan
Indonesia
•
11 May 2023

COVID-19 – Studi kemanjuran vaksin Epivaccorona Rusia dipublikasikan pada Februari
Indonesia
•
20 Jan 2021

Tim peneliti temukan spesies baru ‘caecilian’ di China barat daya
Indonesia
•
10 Jan 2025

Taikonaut Shenzhou-16 China siap kembali ke Bumi usai rampungkan serah terima kendali di orbit
Indonesia
•
31 Oct 2023


Berita Terbaru

Amazon di Brasil lepaskan 1,17 miliar ton karbon lebih banyak daripada yang diserap per tahun
Indonesia
•
23 Oct 2026

96 persen terumbu karang dunia terancam kritis akibat pemanasan laut, Great Barrier Reef Australia bisa hancur pada 2075
Indonesia
•
23 Oct 2026

Feature – Menimbang klaim manfaat ‘peach gum’, hidangan penutup dari getah pohon persik
Indonesia
•
22 Oct 2026

Dibekali kamera 200MP, Huawei nova 16s Series 5G resmi meluncur di Indonesia
Indonesia
•
22 Oct 2026
