
Demensia bisa dicegah, studi baru ungkap faktor-faktor kuncinya

Ilustrasi. (Jeremy Wong on Unsplash)
Sydney, Australia (Xinhua/Indonesia Window) – Hampir separuh kasus demensia dapat dicegah dengan mengatasi faktor risiko yang dapat diubah, seperti kurangnya aktivitas fisik, kebiasaan merokok, level pendidikan yang rendah, atau isolasi sosial, ungkap studi baru yang dipimpin oleh tim peneliti Australia.
Para peneliti memantau hampir 500.000 orang dewasa selama lebih dari satu dekade dan menemukan bahwa orang dengan kekuatan otot yang rendah serta kelebihan lemak tubuh, yang dikenal sebagai obesitas sarkopenik (sarcopenic obesity), menghadapi risiko demensia yang lebih tinggi, menurut pernyataan dari Universitas Curtin di Australia yang dirilis pada Kamis (2/7).
Obesitas saja tidak dikaitkan dengan peningkatan risiko demensia jika kekuatan otot dijaga, menyoroti pentingnya kesehatan otot dan komposisi tubuh dalam pencegahan demensia, kata tim yang dipimpin oleh Universitas Curtin.
"Hingga 45 persen kasus demensia berkaitan dengan faktor-faktor yang dapat kita ubah, seperti gaya hidup, status kesehatan, dan lingkungan," ujar penulis studi itu, Profesor Mario Siervo dari Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Curtin.
Salah satu penulis studi tersebut, Profesor Blossom Stephan dari Universitas Curtin, mengatakan masih ada miskonsepsi bahwa demensia adalah "bagian yang tak terhindarkan dari penuaan," sementara hambatan seperti waktu, biaya, dan motivasi mengganggu perubahan gaya hidup.
Meski kampanye kesadaran berskala besar menjangkau khalayak yang luas, kampanye itu umumnya hanya menghasilkan peningkatan pengetahuan moderat dan perubahan perilaku yang terbatas, menurut sebuah tinjauan terhadap program-program pencegahan demensia di delapan negara, termasuk Australia, China, dan Amerika Serikat, yang dipublikasikan oleh tim peneliti dalam jurnal The Lancet Healthy Longevity.
Tinjauan itu menemukan bahwa pendekatan interaktif, seperti penilaian risiko yang dipersonalisasi, program edukasi daring (online), dan inisiatif berbasis komunitas yang dipimpin oleh tokoh lokal yang tepercaya, lebih efektif dalam mendorong aksi.
Laporan: Redaksi
Bagikan

Komentar
Berita Terkait

Spesies tumbuhan berbunga baru ditemukan di China barat daya
Indonesia
•
04 May 2024

Tim ilmuwan China kembangkan model AI baru untuk prakiraan siklon
Indonesia
•
06 Feb 2025

Para peneliti temukan spesies tanaman baru di China barat daya
Indonesia
•
08 Dec 2023

TikTok berkembang jadi aplikasi perencanaan perjalanan yang populer di Spanyol
Indonesia
•
05 Apr 2024


Berita Terbaru

19 patogen picu 9,7 juta infeksi dan 50.800 kematian per tahun di AS
Indonesia
•
28 Oct 2026

Amazon di Brasil lepaskan 1,17 miliar ton karbon lebih banyak daripada yang diserap per tahun
Indonesia
•
23 Oct 2026

96 persen terumbu karang dunia terancam kritis akibat pemanasan laut, Great Barrier Reef Australia bisa hancur pada 2075
Indonesia
•
23 Oct 2026

Feature – Menimbang klaim manfaat ‘peach gum’, hidangan penutup dari getah pohon persik
Indonesia
•
22 Oct 2026
