
Teleskop China temukan 20.000 lebih kelompok bintang ‘tersembunyi’

Foto yang diabadikan pada 19 Juni 2015 ini menunjukkan Large Sky Area Multi-Object Fiber Spectroscopic Telescope (LAMOST) di stasiun pengamatan Xinglong yang berada di Observatorium Astronomi Nasional China di bawah naungan Akademi Ilmu Pengetahuan China (Chinese Academy of Sciences/CAS) di Xinglong, Provinsi Hebei, China utara. (Xinhua/Wang Xiao)
Sistem bintang majemuk spektroskopis merupakan kelompok bintang, di mana bintang-bintang anggotanya begitu dekat satu sama lain dan sangat jauh dari Bumi sehingga teleskop yang paling kuat pun tidak dapat mengamatinya secara visual. Keberadaan mereka hanya dapat dikonfirmasi dengan menganalisis cahaya yang dipancarkannya, atau spektrumnya.
Beijing, China (Xinhua/Indonesia Window) – Mereka merupakan gugus bintang yang terdiri dari dua atau lebih bintang yang terikat oleh gravitasi dan terlalu rapat untuk ‘terlihat’ oleh teleskop mana pun, tetapi pancaran cahayanya mengungkap petunjuk tersembunyi, dan astronom China kini telah menemukan lebih dari 20.000 sistem bintang ‘tak terlihat’ semacam ini yang belum pernah tercatat sebelumnya.
Dengan memanfaatkan data spektral beresolusi menengah dari Large Sky Area Multi-Object Fiber Spectroscopic Telescope (LAMOST) milik China, yang juga dikenal sebagai Teleskop Guo Shoujing (nama seorang astronom sekaligus engineer hidraulik ternama China pada abad ke-13), tim peneliti berhasil mengidentifikasi lebih dari 20.000 sistem bintang majemuk spektroskopis, yang memberikan sampel baru nan berharga untuk memahami bagaimana bintang terbentuk dan berevolusi, lapor Science and Technology Daily pada Rabu (22/4).
Studi tersebut tidak hanya secara signifikan memperkaya katalog sistem bintang majemuk yang telah diketahui, tetapi juga memberikan metode baru yang efisien dan andal untuk penelitian di masa mendatang, tutur Li Kai, seorang profesor di Universitas Shandong, China timur, yang juga penulis korespondensi (corresponding author) dalam studi tersebut.
"Seiring data yang terus bertambah, pemahaman kita tentang alam semesta juga akan semakin mendalam," tutur Li.
Sistem bintang majemuk spektroskopis merupakan kelompok bintang, di mana bintang-bintang anggotanya begitu dekat satu sama lain dan sangat jauh dari Bumi sehingga teleskop yang paling kuat pun tidak dapat mengamatinya secara visual. Keberadaan mereka hanya dapat dikonfirmasi dengan menganalisis cahaya yang dipancarkannya, atau spektrumnya.
Sistem tersebut sangat umum ditemukan di Galaksi Bima Sakti dan memainkan peran penting dalam kelahiran, evolusi, dan interaksi gravitasi bintang. "Namun, dibandingkan dengan begitu banyaknya jumlah bintang di galaksi kita, jumlah sistem bintang semacam itu yang telah dikonfirmasi oleh manusia masih sangat kecil," papar Li.
Demi melacak sistem bintang tersebut, tim peneliti menggunakan program khusus untuk menganalisis spektrum yang diperoleh dari LAMOST. Setelah melatih algoritma dengan sampel-sampel yang dipilih secara cermat guna memastikan akurasi, para astronom kemudian menerapkan algoritma tersebut pada hampir 450.000 objek langit.
Hasilnya cukup signifikan dengan penemuan 15.887 kandidat bintang biner, 8.771 kandidat bintang tripel, dan tambahan 294 sistem biner ‘tersembunyi’.
Sebagian besar bintang di sistem-sistem tersebut, antara 87 dan 97 persen, merupakan bintang deret utama, yakni bintang-bintang umum seperti Matahari yang berada dalam masa pembakaran stabil, tunjuk analisis itu.
Tim juga melakukan analisis orbit terhadap sistem-sistem yang memiliki data pengamatan memadai, hingga berhasil menurunkan parameter-parameter orbit dari 300 lebih sistem biner, dan mengidentifikasi informasi orbit pada lebih dari 40 sistem bintang tripel hierarkis, di mana bintang-bintang tersebut memiliki struktur bertingkat.
Pada sistem bintang tripel hierarkis, biasanya, dua bintang berada relatif dekat antara satu sama lain dan mengorbit di sekitar pusat massa bersama, sementara bintang ketiga mengelilingi kedua bintang tersebut dari jarak yang lebih jauh.
Temuan ini telah dipublikasikan di Astrophysical Journal Supplement Series (ApJS), jurnal astronomi internasional terkemuka.
Teleskop LAMOST, yang berlokasi di wilayah Xinglong di Provinsi Hebei, China utara, merupakan fasilitas ilmiah utama nasional yang dioperasikan oleh Observatorium Astronomi Nasional China di bawah naungan Akademi Ilmu Pengetahuan China (Chinese Academy of Sciences/CAS).
Dengan apertur efektif sekitar 4 meter dan 4.000 serat optik, teleskop itu memiliki salah satu tingkat pengumpulan data spektral tertinggi di antara teleskop-teleskop astronomi di dunia.
Laporan: Redaksi
Bagikan

Komentar
Berita Terkait

Laporan China ungkap rincian serangan siber oleh badan keamanan AS
Indonesia
•
13 Sep 2022

Mengenal kuda Przewalski, spesies yang sempat punah di China dan kini didatangkan kembali
Indonesia
•
27 Sep 2025

Perusahaan tak laporkan kandungan tritium radioaktif tinggi dalam limbah nuklir Fukushima Jepang
Indonesia
•
08 Oct 2022

Spesies tumbuhan baru ditemukan di China barat baya
Indonesia
•
20 Jan 2024


Berita Terbaru

Sampah rumah tangga disulap jadi listrik hijau di Hunan, China
Indonesia
•
24 Apr 2026

Analisis – Sepintar-pintarnya AI, tak akan bisa jadi dokter kompeten
Indonesia
•
24 Apr 2026

Konsumsi alkohol berkaitan dengan peningkatan risiko kanker
Indonesia
•
24 Apr 2026

Patung Dewi Athena berusia 2.000 tahun ditemukan di Laodikeia, Turkiye barat daya
Indonesia
•
24 Apr 2026
