
Tim peneliti usulkan strategi pengolahan air berkelanjutan dengan fokus pada kontaminan

Seorang staf dari tim pembersihan kota mengamati Waduk Danjiangkou di Provinsi Hubei, China tengah, pada 30 November 2024. (Xinhua/Wu Zhizun)
Teknologi pengolahan air berbasis membran meminimalisir penggunaan bahan kimia dan meningkatkan efisiensi, serta memperpanjang masa pakai modul membran dan meningkatkan pemulihan energi.
Shenzhen, China (Xinhua/Indonesia Window) – Sebuah tim peneliti dari China telah mengusulkan strategi baru untuk pengolahan air yang berkelanjutan dengan berfokus pada bahan kimia yang menjadi perhatian utama (chemicals of emerging concern/CEC).CEC seperti pestisida, bahan tambahan industri, dan produk sampingan disinfeksi semakin banyak terdeteksi dalam sampel air minum dan serum darah.Teknologi pengolahan air yang ada saat ini cenderung terbatas dalam kemampuannya menghilangkan CEC, dan kerap menghadapi tantangan seperti konsumsi energi yang tinggi, penggunaan bahan kimia yang berlebihan, dan peningkatan emisi karbon.Tim peneliti dari Harbin Institute of Technology di Shenzhen mengusulkan bahwa mengintegrasikan penyaringan tepi sungai dengan osmosis terbalik (reverse osmosis) dapat secara efektif mengurangi risiko kualitas air dan kesehatan yang ditimbulkan oleh CEC.Mereka mencatat bahwa setelah pengolahan yang diusulkan ini, risiko penyakit kanker dan nonkanker dalam air minum akan berada di bawah ambang batas aman yang direkomendasikan oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).Selain itu, studi mereka menemukan bahwa dengan memanfaatkan teknologi pengolahan air berbasis membran yang meminimalisir penggunaan bahan kimia dan meningkatkan efisiensi, serta memperpanjang masa pakai modul membran dan meningkatkan pemulihan energi, dampak lingkungan terhadap atmosfer, air, dan ekosistem tanah di seluruh siklus hidup pengolahan air dapat berkurang secara signifikan.Tim peneliti tersebut juga mencatat bahwa pendekatan-pendekatan ini dapat memfasilitasi pengembangan dan penerapan sistem pengolahan air yang aman, berkelanjutan, dan rendah karbon. Hal ini sangat relevan, terutama di negara-negara dan kawasan yang sudah memiliki teknologi energi bersih yang maju, dan di mana energi terbarukan memiliki proporsi yang tinggi dalam kapasitas energi secara keseluruhan.Studi itu dipublikasikan dalam jurnal Nature Communications.Laporan: RedaksiBagikan

Komentar
Berita Terkait

Album Asia – Menikmati pertunjukan aerobatik di hari pertama Aero India 2023
Indonesia
•
14 Feb 2023

Kota di timur laut China jadi lokasi favorit beragam pengujian kendaraan
Indonesia
•
13 Feb 2023

China kerahkan UAV besar untuk dukung penyelamatan darurat topan
Indonesia
•
04 Aug 2023

Ilmuwan mungkin telah menemukan sub-jenis mutasi virus corona yang bertahan 49 hari
Indonesia
•
02 Apr 2020


Berita Terbaru

Feature – Bayi panda raksasa Rio siap diperkenalkan ke publik mulai akhir Mei
Indonesia
•
24 May 2026

Kaya umbi-umbian, masyarakat Indonesia bisa nikmati mi non-terigu yang sehat
Indonesia
•
24 May 2026

Peneliti Indonesia kembangkan kapal listrik pengangkut sampah untuk kawasan mangrove
Indonesia
•
24 May 2026

Teknologi ‘Organic Rankine Cycle’ ubah panas buangan dari jadi energi listrik
Indonesia
•
24 May 2026
