
Singapura luncurkan pedoman transparansi chatbot AI, wajib sajikan informasi dengan bahasa sederhana

Sebuah robot meniru gerakan tubuh dari kamera 'web' dalam acara 'RoboFest 2026: Meet Tomorrow, Today' di Science Centre Singapore, Singapura, pada 9 April 2026. RoboFest 2026 didedikasikan untuk robotika dan AI. (Xinhua/Then Chih Wey)
Singapura (Xinhua/Indonesia Window) – Singapura pada Senin (20/7) mendorong penyedia bot percakapan (chatbot) kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) generatif untuk menyajikan informasi penting dalam bahasa sederhana melalui ‘kartu informasi chatbot’, bagian utama dalam Pedoman Transparansi untuk Chatbot AI Generatif sukarela yang baru diluncurkan.
Pedoman tersebut, yang diluncurkan dalam ajang Singapore Data Festival oleh Menteri Pengembangan Digital dan Informasi Singapura Josephine Teo, merekomendasikan agar penyedia chatbot mengemukakan secara jelas kemampuan dan keterbatasan chatbot, praktik keamanan dan keandalannya, penggunaan dan perlindungan data, serta jalur untuk melaporkan keluhan.
Teo mengatakan bahwa informasi yang dibutuhkan pengguna kerap disajikan secara "terpisah-pisah". Teo menyamakan kartu informasi tersebut dengan label obat, yang menyediakan satu tempat terpusat di mana pengguna dapat dengan mudah menemukan informasi penting mengenai sebuah chatbot.
Kartu informasi tersebut dapat disediakan dalam berbagai format, seperti halaman jejaring khusus atau dokumen penjelasan khusus, tetapi harus ditulis dengan bahasa yang sederhana, mudah dipahami dan mudah diakses.
Para penyedia chatbot juga didorong untuk memperbarui informasi tersebut setiap kali terjadi perubahan signifikan yang memengaruhi kemampuan, risiko atau kebijakan keamanan chatbot.
Menurut pernyataan dari Otoritas Pengembangan Media Informasi dan Komunikasi Singapura, sejumlah organisasi, termasuk perusahaan AI global, Google dan Meta, serta perusahaan-perusahaan besar yang menerapkan AI di Singapura, seperti DBS, OCBC, Singapore Airlines dan Synapxe, mengindikasikan bahwa mereka berniat menggunakan pedoman itu sebagai referensi selama enam hingga 12 bulan ke depan.
Pernyataan itu menyebutkan bahwa pedoman tersebut saat ini berfokus pada chatbot AI generatif karena "skalanya, tingginya interaksi dengan konsumen, serta meningkatnya kekhawatiran masyarakat terkait privasi data, keselamatan anak di bawah umur, dan risiko bagi pengguna yang rentan secara mental."
Dalam pembukaan Singapore Data Festival yang berlangsung selama lima hari, pemerintah Singapura juga meluncurkan beberapa inisiatif, termasuk panduan praktis untuk membantu perusahaan mengadopsi teknologi kembaran digital (digital twin), serta pedoman anjuran mengenai penggunaan data pribadi dalam AI generatif.
Laporan: Redaksi
Bagikan

Komentar
Berita Terkait

Situs peninggalan tepi danau Zaman Neolitikum teridentifikasi di Dataran Tinggi Qinghai-Xizang
Indonesia
•
24 Jan 2025

Pil Lumakras kurangi risiko perkembangan kanker paru-paru hingga 34 persen
Indonesia
•
12 Sep 2022

Ilmuwan ungkap penemuan ilmiah di Dataran Tinggi Qinghai-Tibet
Indonesia
•
21 Nov 2025

Begini cara baru ubah jerami jadi supermaterial
Indonesia
•
25 Apr 2026


Berita Terbaru

19 patogen picu 9,7 juta infeksi dan 50.800 kematian per tahun di AS
Indonesia
•
28 Oct 2026

Amazon di Brasil lepaskan 1,17 miliar ton karbon lebih banyak daripada yang diserap per tahun
Indonesia
•
23 Oct 2026

96 persen terumbu karang dunia terancam kritis akibat pemanasan laut, Great Barrier Reef Australia bisa hancur pada 2075
Indonesia
•
23 Oct 2026

Feature – Menimbang klaim manfaat ‘peach gum’, hidangan penutup dari getah pohon persik
Indonesia
•
22 Oct 2026
