Tangkal “hoax” dengan cara Islam

Tangkal “hoax” dengan cara Islam
Waspada kabar "hoax". (Kominfo)

Bogor, Jawa Barat (Indonesia Window) – Masyarakat Indonesia lagi-lagi dibuat geger dengan sebuah berita bohong atau hoax yang dikarang oleh seorang tokoh masyarakat yang dikenal sebagai seniman, budayawan dan aktivis hak asasi manusia (HAM), Ratna Sarumpaet.

Wajah lebam sehabis operasi plastik yang dijalani oleh salah satu anggota Badan Pemenangan Nasional pasangan Prabowo-Sandiaga Uno itu diakunya sebagai akibat penganiyaan yang dialaminya di Bandung beberapa waktu lalu.

Ratna telah mengakui cerita tentang penganiayaan itu sebagai suatu kebohongan yang dibuatnya pertama kali untuk kalangan keluarganya saja. Namun, foto-foto wajahnya yang tampak babak belur ternyata cepat menyebar di tengah masyarakat melalui berbagai media sosial, yang ditambah dengan cerita pemukulan oleh beberapa orang tak dikenal.

Ratna telah sukses mempraktikan hukum propaganda, “kebenaran adalah kebohongan yang diulang-ulang”.

Meski telah mengakui kebohongannya dan meminta maaf secara terbuka kepada semua pihak yang telah membelanya, termasuk masyarakat luas, aktivis sosial ini meninggalkan coreng hitam dalam riwayat hidupnya.

Di sisi lain, peristiwa Ratna Sarumpaet adalah pelajaran berharga bagi masyarakat dalam menggunakan media sosial secara cerdas dan bijaksana karena tidak semua berita dan gambar yang tersebar melalui teknologi ini adalah fakta.

Lembaga nirlaba Snopes pernah memberitakan hasil penelitiannya yang memiliki tingkat akurasi 89 persen tentang kebenaran sejumlah berita dengan cara mengidentifikasi 172 artikel.

Penelitian tersebut menunjukkan bahwa 84 artikel dinyatakan fakta dan 84 adalah hoax, sementara empat artikel lainnya adalah campuran fakta dan hoax.

Bahkan sebuah studi memberitakan bahwa sekitar 82 pelajar sekolah menengah tidak bisa membedakan antara fakta dan hoax.

Cara Islam

Kamus Mirriam menjelaskan definisi hoax sebagai sebuah trik agar sesuatu yang salah dan bahkan tidak masuk akal dapat dipercaya dan diterima sebagai sesuatu yang benar (asli).

Kata hoax sudah terserap ke dalam Bahasa Indonesia menjadi “hoaks” yang artinya adalah berita bohong.

Dalam hoaks,  terkandung di dalamnya kebohongan. Dalam Islam, berbohong adalah akhlak tercela yang dibenci oleh Allah subhanahu wa ta’ala. Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda, “Janganlah kalian berbohong,  karena berbohong itu membawa kita kepada keburukan,  dan keburukan membawa kita menuju neraka.” (HR.  Muslim)

Tidak sedikit orang yang menganggap sepele tentang perilaku berbohong. Padahal satu kebohongan akan selalu diikuti dengan kebohongan-kebohongan berikutnya.

Dalam sebuah hadits disebutkan, “Dan sesungguhnya kedustaan akan membimbing menuju kejahatan, dan kejahatan akan membimbing menuju neraka. Sesungguhnya seseorang akan bersungguh-sungguh berusaha untuk dusta, sampai akhirnya ia benar-benar tertetapkan di sisi Allah sebagai pendusta.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Setidaknya ada empat cara yang sebaiknya dilakukan sebelum media sosial, yang harusnya dapat membantu memudahkan hidup kita justu menjadi sarana berbohong.

  1. Teliti dahulu sumber berita. Meneliti sumber berita sangat penting dilakukan tidak hanya bagi si penyebar berita tetapi juga bagi pembuat berita. Dalam Islam, orang yang suka berdusta tidak bisa diambil pendapat dan pernyataannya. Imam Malik (711-795 M) menegaskan bahwa ilmu tidak boleh diambil dari empat orang, salah satunya adalah seseorang yang dikenal dengan kedustaannya di tengah masyarakat, meskipun ia tidak berdusta atas nama Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam.
  2. Verifikasi dan jangan mudah terprovokasi. Islam selalu menuntut kita untuk bersikap ilmiah sehingga tidak akan menjadi pengikut seseorang atau sesuatu tanpa didasari ilmu yang benar. Terjemahan Surat Muhammad (47) ayat 19 menyatakan, “Maka ilmuilah (ketahuilah)! Bahwasanya tiada sesembahan yang berhak disembah selain Allah dan mohonlah ampunan bagi dosamu”. Imam Al-Bukhari menyimpulkan bahwa “ilmu itu sebelum perkataan dan perbuatan.” Dengan demikian, penting sekali bagi seseorang yang hendak menyampaikan suatu berita untuk membaca, memahami, dan memverifikasi kebenarannya sebelum menyebarkannya kepada orang lain.
  3. Jika kedua tahap tersebut sudah dilakukan, maka langkah selanjutnya adalah menimbang apakah berita tersebut bermanfaat atau tidak untuk disebarkan? Adakah manfaatnya berita itu bagi kaum Muslimin? Jika dirasa ada manfaatnya bagi kaum muslimin, maka sebarkanlah.  Jika tidak bermanfaat,  maka urungkanlah. Sabda Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam, “Barangsiapa yang menunjuki kepada kebaikan maka dia akan mendapatkan pahala seperti pahala orang yang mengerjakannya”. (HR. Muslim no. 1893). Sebaliknya, “Barangsiapa yang memberi petunjuk pada kejelekan, maka ia akan mendapatkan dosa dari perbuatan jelek tersebut dan juga dosa dari orang yang mengamalkannya setelah itu tanpa mengurangi dosa mereka sedikit pun juga”. (HR. Muslim no. 1017).
  4. Bertanggung jawab terhadap berita yang ditulis maupun disebar. Semua perilaku kita dicatat dan diketahui oleh Allah subhanahu wa ta’ala. Jadi, jangan sembarangan menulis berita dan jangan terburu nafsu untuk menyebarkannya. Terjemahan Surat Al Isra’ ayat 36 menyebutkan bahwa, “Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungjawabannya”.

Sumber: www.techcrunch.com, KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia), Jaami’ Bayaanil ‘Ilmi wa Fadhlih karya Ibnu Abdil Barr.

Penulis: Yunita K

Berkomentar?

Please enter your comment!
Please enter your name here