Tabir surya, ‘body lotion’ berdampak buruk pada terumbu karang

Tabir surya, ‘body lotion’ berdampak buruk pada terumbu karang
Ilustrasi. Tabir surya dan lotion perawatan kulit yang dioleskan pada tubuh saat rekreasi di laut seperti snorkelling dan menyelam dapat mengancam keberadaan terumbu karang. (Diogo Hungria on Unsplash)

Jakarta (Indonesia Window) – Tabir surya dan lotion perawatan kulit yang dioleskan pada tubuh saat rekreasi di laut seperti snorkelling dan menyelam dapat mengancam keberadaan terumbu karang, menurut laporan Kantor Berita Bernama.

Peneliti karang Universiti Malaysia Terengganu (UMT), Dr. Tan Chun Hong mengatakan tabir surya dan body lotion saat dioleskan, membentuk lapisan di permukaan kulit yang menghalangi sinar matahari.

“Studi menunjukkan bahwa body lotion dan tabir surya larut dalam air yang menyebabkan bahan kimia terserap dan terakumulasi di dalam karang,” jelasnya.

“Sampai batas tertentu (kedua bahan tersebut) dapat menyebabkan pemutihan karang, kerusakan DNA, terhambatnya pertumbuhan karang muda dan juga dapat menyebabkan kematian terumbu batu bara jika jumlah yang diserap terlalu tinggi,” ujarnya kepada Bernama belum lama ini.

Bahan tabir surya yang berbahaya bagi terumbu karang antara lain Oxybenzone, Benzophenone-1, Benzophenone-8, OD-PABA, 4-Methylbenzylidene camphor, 3-Benzylidene camphor, nano-Titanium dioxide, nano-Zinc oxide, Octinoxate dan Octocrylene.

Namun, menurut Dr.Hong, wisatawan tidak bisa begitu saja disalahkan karena tidak mengetahui dampak dari kegiatan rekreasinya dan belum mendapat edukasi yang memadai tentang hal tersebut.

“Penggunaan tabir surya organik dan body lotion dapat membantu mengurangi kerusakan terumbu karang,” ujarnya.

Dr. Hong menerangkan, kerusakan terumbu karang terbagi dua, yakni faktor alam seperti arus kuat dan tsunami, dan aktivitas manusia yang berkontribusi pada pemanasan global seperti seperti El Nino yang menyebabkan pemutihan karang dan terkikisnya terumbu karang hingga mati.

“Banyak orang mengira bahwa aktivitas pariwisata di sekitar kepulauan Malaysia adalah faktor terbesar penyebab rusaknya terumbu karang di negara tersebut, namun anggapan tersebut tidak tepat karena setiap individu di bumi ini bertanggung jawab atas ancaman tersebut,” ujarnya

“Konsumsi listrik, emisi karbondioksida, pembuangan limbah sembarangan, penggunaan pestisida di sektor pertanian dan bahan kimia di industri manufaktur, serta pencemaran lingkungan menjadi penyebab utama perubahan iklim dan pemanasan global,” imbuh Dr. Hong.

Hingga saat ini, dunia telah mengalami tiga kali pemutihan karang (coral bleaching) skala besar dari tahun 1997 hingga 1998, pada tahun 2010 dan, paling parah pada 2016 hingga 2017 yang mengakibatkan tingginya angka kematian ekosistem terumbu karang terbesar di dunia, Great Barrier Reef, yang terletak di Australia hingga 90 hingga 95 persen.

Namun, Malaysia masih beruntung karena dampak pemutihan warna karang menyebabkan kematian lima hingga 10 persen, tetapi dengan pemanasan global yang meningkat dan tidak terkendali, kerusakan ini akan lebih besar.

“Meski angka kematian yang tercatat hanya lima sampai 10 persen, itu sangat serius karena pertumbuhan koral sangat lambat, rata-rata hanya 10 sentimeter setahun. Padahal, untuk koral masif, laju pertumbuhannya hanya satu milimeter,” katanya.

Laporan: Redaksi

Berkomentar?

Please enter your comment!
Please enter your name here