Surat Malcolm X dari Makkah: semua manusia setara

Surat Malcolm X dari Makkah: semua manusia setara
Umat Islam dari seluruh dunia mengelilingi ka'bah di Masjidil Haram, Makkah, Arab Saudi. (Photo by Adli Wahid on Unsplash)

Jakarta (Indonesia Window) – Sejarah perjuangan hak-hak kemanusiaan Amerika Serikat pada periode 1950-1960-an mencetak nama Malcolm X dengan tinta tebal.

Memiliki agenda yang sama dalam meraih keadilan dan kesetaraan bagi kulit hitam di Amerika Serikat, Malcolm X yang bernama asli Malik El-Shabazz berteman baik dengan pendeta Martin Luther King, Jr.

Pada April 1964 Malcolm X menunaikan ibadah Haji. Dari tanah suci Makkah dia menulis sepucuk surat kepada para sahabatnya di Harlem, New York. Berikut ini adalah isi surat itu.

“Belum pernah saya menyaksikan keramahtamahan yang tulus dan semangat persaudaraan yang luar biasa seperti yang ditunjukkan oleh orang-orang dari semua warna kulit dan ras di sini, di Tanah Suci ini yang merupakan rumah Abraham (‘alaihi salam), Muhammad (ﷺ) dan semua Nabi Suci lainnya. Selama sepekan ini, saya tak bisa berkata sepatah kata pun karena terpesona oleh keanggunan orang-orang dari semua warna kulit yang tampak di sekitar saya.”

“Saya telah diberkahi untuk mengunjungi Kota Suci Makkah. Saya mengelilingi Ka’bah (tujuh kali), dipimpin oleh seorang Mutawaf muda bernama Muhammad. Saya minum air dari sumur Zam Zam. Saya berlari tujuh kali antara bukit Al-Safa dan Al-Marwah. Saya berdoa di kota kuno Mina, dan saya berdoa di Gunung Arafat.”

“Ada puluhan ribu peziarah dari seluruh dunia. Mereka berasal dari semua warna kulit, dari yang pirang bermata biru hingga orang Afrika berkulit hitam. Tapi kami semua menunaikan ritual yang sama, menunjukkan semangat persatuan dan persaudaraan. Hal ini membuat saya percaya bahwa tidak akan pernah ada perbedaan antara yang putih dan yang bukan putih.”

“Amerika perlu memahami Islam, karena ia adalah satu-satunya agama yang menghapus masalah ras dari masyarakat. Sepanjang perjalanan saya di dunia Muslim, saya telah bertemu, berbicara, dan bahkan makan bersama orang-orang yang di Amerika dianggap kulit putih – namun perilaku kulit putih (yang biasanya terlihat di Amerika) terhapus dari pikiran mereka oleh ajaran Islam. Saya belum pernah melihat persaudaraan yang tulus dan sejati ditunjukkan oleh semua warna kulit seperti yang saya saksikan di Tanah Suci.”

“Anda mungkin terkejut dengan kata-kata yang datang dari saya. Namun selama perjalanan ini, apa yang saya lihat dan alami, membuat saya harus menata ulang banyak pola pikir yang sebelumnya saya pegang, dan membuang beberapa kesimpulan saya sebelumnya. Hal tidak terlalu sulit bagi saya. Terlepas dari keyakinan saya, saya selalu menjadi orang yang mencoba menghadapi fakta, dan menerima kenyataan hidup sebagai pengalaman dan pengetahuan baru. Saya selalu tetap berpikiran terbuka agar bisa mendapat kelenturan yang harus berjalan seiring dengan setiap bentuk pencarian demi kebenaran.”

“Selama sebelas hari di dunia Muslim ini, saya makan dari piring yang sama, minum dari gelas yang sama, dan tidur di alas yang sama – sembari berdoa kepada Tuhan yang sama – bersama dengan seluruh Muslim, yang matanya paling biru dari yang biru, yang rambutnya paling pirang dari yang pirang, dan yang kulitnya paling putih dari yang putih. Dalam setiap kata dan perbuatan Muslim kulit putih, saya merasakan ketulusan yang sama dengan apa yang saya rasakan di antara Muslim Afrika kulit hitam dari Nigeria, Sudan dan Ghana.”

“Kami benar-benar sama (bersaudara) – karena kepercayaan mereka pada satu Tuhan telah menghilangkan dominasi kulit putih dari pikiran mereka, perilaku mereka, dan dari sikap mereka.”

“Dari gambaran ini, saya pikir mungkin jika orang kulit putih Amerika dapat menerima Keesaan Tuhan, maka mungkin juga, mereka dapat menerima kenyataan bahwa manusia itu sama – sehingga mereka tidak akan lagi menilai, menghalangi dan menyakiti orang lain karena perbedaan warna kulit.”

“Dengan rasisme yang menjangkiti Amerika seperti kanker yang tidak dapat disembuhkan, hati orang kulit putih ‘Kristen’ harus lebih menerima solusi yang telah terbukti menyelesaikan masalah destruktif seperti itu. Mungkin ini saatnya menyelamatkan Amerika dari bencana yang akan segera terjadi – kehancuran yang disebabkan oleh rasisme yang digaungkan Jerman namun akhirnya meluluhlantakkan bangsa itu sendiri.”

“Setiap jam di sini, di Tanah Suci memungkinkan saya untuk mendapatkan wawasan spiritual yang lebih besar tentang apa yang terjadi di Amerika antara hitam dan putih. Negro Amerika tidak pernah dapat disalahkan karena permusuhan rasial – mereka hanya bereaksi terhadap empat ratus tahun rasisme kulit putih Amerika. Namun ketika rasisme mengarahkan Amerika ke jalan bunuh diri, saya percaya, dari pengalaman yang saya miliki dengan mereka, bahwa kulit putih dari generasi muda, di perguruan tinggi dan universitas, akan melihat catatan di dinding dan banyak dari mereka akan beralih ke jalan spiritual kebenaran – satu-satunya cara yang tersisa bagi Amerika untuk mencegah bencana akibat rasisme.”

“Belum pernah saya merasa sangat terhormat. Tidak pernah saya dibuat merasa lebih rendah hati dan tak ada artinya. Siapa yang akan percaya pada keberkahan yang dianugerahkan pada seorang Negro Amerika? Beberapa malam yang lalu seorang pria – yang di Amerika disebut kulit putih – yang merupakan diplomat PBB, seorang duta besar dan pendamping raja, memberikan kamar hotel dan  tempat tidurnya untukku. Saya bahkan tidak pernah terpikir untuk bermimpi akan menerima penghargaan seperti itu – penghargaan yang di Amerika hanya akan diberikan kepada seorang raja – bukan seorang Negro.”

“Segala puji bagi Allah (ﷻ), Tuhan semesta alam.”

“Salam hormat,”

“Haji Malik El-Shabazz (Malcolm X)”

Diambil dari autobiografi Malcolm X

1 Komentar

Berkomentar?

Please enter your comment!
Please enter your name here