Ramadan 1447H – Menilik kehidupan umat Muslim di Lanzhou, China

Foto yang diabadikan pada 9 Maret 2026 ini menunjukkan para umat Muslim di Lanzhou, Provinsi Gansu, China barat laut, sedang menunaikan ibadah salat di Masjid Nan'guan Lanzhou. (Xinhua/Hu Weijie)

Masjid Nan'guan Lanzhou sudah berdiri sejak Dinasti Ming (1368-1644) dan kini terdapat kurang lebih 300 rumah tangga Muslim yang tinggal di sekitar masjid tersebut.

 

Lanzhou, China (Xinhua/Indonesia Window) – Setiap hari saat bulan Ramadan, bulan suci bagi umat Muslim di seluruh dunia, Yang Delu (68) bersama istrinya Ma Yanyun (64), pasangan etnis Hui yang memeluk agama Islam dan tinggal di Lanzhou, China barat laut, bangun pagi-pagi demi menyiapkan hidangan sahur sederhana.

Pukul 05.30 waktu setempat, hidangan sahur sudah tersedia di atas meja. "Pada bulan Ramadan, hidangan sahur kami biasanya lebih sederhana dan tawar, seperti mi dengan kuah yang hangat. Kami menghindari makanan yang mengandung banyak minyak atau terlalu asin," kata Yang.

Sesudah bersantap sahur, Yang bersama umat Muslim lain di sekitar tempat tinggalnya mendatangi Masjid Agung Nan'guan, salah satu masjid terkenal di Lanzhou, untuk menunaikan ibadah sholat subuh.

Ma Jianbin, staf dari komite pengelolaan masjid tersebut, mengatakan bahwa berdasarkan kisah lama setempat, Masjid Nan'guan Lanzhou sudah berdiri sejak Dinasti Ming (1368-1644) dan kini terdapat kurang lebih 300 rumah tangga Muslim yang tinggal di sekitar masjid tersebut.

Ma Jinlong (33) menjadi imam di masjid tersebut sejak dirinya lulus dari sebuah madrasah di Lanzhou sekitar lima tahun lalu. "Setiap hari di bulan Ramadan, saya dan 100-an umat Muslim melaksanakan sholat di sini," kata Imam Ma.

Setelah sholat, Yang pulang ke rumahnya dan menghabiskan sebagian besar waktunya untuk mengurus pekerjaan rumah tangga, termasuk menyiapkan makanan untuk putra, menantu, dan cucunya, di samping waktu untuk berdoa, sholat, dan melakukan hobi-hobinya, seperti kaligrafi Mandarin.

Masjid Nan'guan kembali ramai saat waktu berbuka puasa, sekitar pukul 19.15 waktu setempat (18.15 WIB). Pada saat cahaya lampu menerangi plakat bertuliskan "Semoga Keberuntungan dan Kebahagiaan dalam Ramadan" di depan pintu masuk masjid, umat Muslim setempat berbondong-bondong mendatangi masjid.

"Biasanya kami berbuka puasa dengan camilan, penganan, buah-buahan, kacang, serta air hangat, yang disediakan masjid," ujar Ma Jianbin.

Di depan pintu masuk Masjid Nan'guan, terdapat sebuah stan dengan papan bertuliskan ‘Nie Tie’ atau ‘Sedekah’ dalam bahasa Indonesia. "Sedekah ini biasanya kami gunakan untuk menyiapkan hidangan buka puasa dan kebutuhan sehari-hari lainnya di masjid," tutur Ma Jianbin.

Dalam sudut pandang Ma Jianbin, momen berkumpulnya umat Muslim juga menjadi kesempatan bagi teman dan tetangga untuk berbincang-bincang mengenai kehidupan mereka dan mungkin ada teman yang sedang menghadapi kesulitan.

"Kami menjalankan program amal di bulan Ramadan setiap tahun, dan memberikan sejumlah bantuan kepada keluarga yang kesulitan atau untuk merawat warga lanjut usia (lansia)," kata Ma Jianbin, seraya menambahkan bahwa dirinya yakin hal tersebut mencerminkan semangat amal dan gotong royong, "yang merupakan bagian penting dari ajaran agama kami."

Setelah melaksanakan sholat Isya, Yang pulang ke rumahnya dan melewati sebuah pasar malam yang ramai di Lanzhou. "Anda bisa melihat ada daging sapi goreng, daging ayam potong, mi khas Lanzhou, dan berbagai hidangan khas di sini, pilihannya jauh lebih banyak daripada dulu," ujar Yang.

Seiring semakin banyak wisatawan domestik dan mancanegara yang berwisata ke Lanzhou, pasar malam Nan'guan kini menjadi lebih terkenal. Ma Jianbin mengatakan sering kali umat Muslim dari luar negeri datang ke Masjid Nan'guan untuk sholat dan berkunjung, dan kebanyakan dari mereka memilih pergi ke pasar malam tersebut untuk mencicipi makanan halal yang enak dan khas.

Bagi Yang Delu dan Ma Yanyun, menjelang Idul Fitri, kesibukan kian meningkat karena seperti biasanya mereka harus menyiapkan bermacam-macam makanan untuk reuni keluarganya dan juga hadiah yang akan diberikan kepada kerabat dan teman-teman.

"Kerabat dan teman-teman akan mudik pada Festival Kaizhai (sebutan dalam bahasa Mandarin untuk Idul Fitri di China), inilah momen kami berkumpul dan merasakan kehangatan keluarga, kami menantikannya dan sibuk melakukan persiapan," ujar Yang sambil tersenyum.

Laporan: Redaksi

Bagikan

Komentar

Berita Terkait