Sumber daya uranium Indonesia 82,6 ribu ton

Sumber daya uranium Indonesia 82,6 ribu ton
I Gde Sukadana, pakar eksplorasi uranium BATAN (Badan Tenaga Atom Nasional) saat mengunjungi fasilitas pengolahan uranium di Saskatchewan, Kanada. (I Gde Sukadana/Indonesia Window)

Bogor, Jawa Barat (Indonesia Window) – Survei Badan Tenaga Atom Nasional (BATAN) menunjukkan sumber daya uranium di Indonesia mencapai 82.638 ton.

“Dari jumlah tersebut, sebanyak 13.116 ton uranium merupakan sumber daya dengan status discovered, artinya tingkat keyakinan survei mencapai 80 persen,” kata pakar eksplorasi uranium BATAN, I Gde Sukadana, pada seminar daring ‘Apakah Indonesia Kaya Harta Karun? Uranium, Torium dan Logam Tanah Jarang’ yang diselenggarakan oleh Himpunan Masyarakat Nuklir Indonesia (HIMNI) pada Kamis (19/11).

Dia menambahkan, survei juga menunjukkan bahwa terdapat 37.137 ton uranium berstatus undiscovered dengan tingkat keyakinan 50 persen, dan 32.385 ton masuk kategori unconventional yang merupakan produk sampingan dari bahan tambang lainnya sehingga angka tersebut dapat berubah sewaktu-waktu.

Unsur radioaktif uranium dengan status discovered paling banyak ditemukan di Kalan, Kalimantan Barat sebesar 11.233 ton, disusul Mamuju (Sulawesi Barat) 769 ton, Mentawa dan Darab (Kalimantan Tengah) 623 ton, dan Sibolga (Sumatera Utara) sebanyak 490 ton.

Daerah lainnya di tanah air yang juga ditemukan sumber daya uranium adalah Kawat Area (Kalimantan Timur), Kepulauan Bangka Belitung, Singkep (Kepulauan Riau), Ketapang (Kalimantan Barat), dan Katingan (Kalimantan Tengah).

Selain uranium, Indonesia juga memiliki sumber daya torium sebesar 143.234 ton.

Dari jumlah tersebut 3.424 ton berstatus discovered dan 5.961 ton terkategori undiscovered. Keduanya ditemukan di Mamuju, Sulawesi Barat.

Sementara itu, 133.849 ton torium termasuk kategori unconventional.

Gde Sukadana mengatakan meskipun memiliki dokumen sumber daya unsur radioaktif, Indonesia belum melaporkan penemuan ini ke lembaga internasional terkait.

“Kita harus melakukan studi kelayakan penambangan terlebih dahulu untuk mendapatkan angka cadangan unsur radioaktif. Cadangan inilah yang kita laporkan ke IAEA (Badan Energi Atom Internasional) atau lembaga dunia lainnya,” jelas Gde Sukadana yang merupakan kandidat doktor Teknik Geologi Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta.

Dia menambahkan, jika studi kelayakan menunjukkan bahwa sumber daya uranium tersebut layak ditambang, maka akan dilajutkan ke tahap tersebut. Jika sebaliknya, maka laporan studi tersebut akan menjadi dokumen cadangan nasional.

Sejauh ini Indonesia belum melakukan penambangan radioaktif, namun menurut Gde Sukadana, penemuan unsur-unsur radioaktif di tanah air menjadikan Indonesia berdaulat dengan meningkatnya kepercayaan diri bangsa dalam pengembangan energi nuklir di masa mendatang.

Laporan: Redaksi

Berkomentar?

Please enter your comment!
Please enter your name here