
Sosok – Dari Bogor Hendra Wijaya gowes sejauh 15.234 km ke Makkah, tunaikan ibadah haji

Pelari ultra-marathon, Hendra Wijaya (kiri), dalam wawancara khusus dengan Indonesia Window di Bogor, Jawa Barat, pada 22 September 2026. (Indonesia Window/Ronald Rangkayo)
Menaklukan puncak tertinggi Afrika Kilimanjaro setinggi 5.895 meter di Tanzania pada Juni 2014, lalu membelah Gurun Gobi di Mongolia Dalam, yang ganas dengan berlari sejauh 400 km selama hampir sebulan pada 2016.
Di tahun berikutnya pada 2017, dia belari melintasi Nepal hingga Himalaya dari Barat ke Timur sejauh 1.600 km.
Bahkan, pada Maret 2015 hidupnya pernah di ujung tanduk saat berupaya mencapai Kutub Utara dari Kanada dengan berlari sambil bertahan hidup sejauh 566 km di tengah suhu yang jatuh ke minus 50 derajat Celsius. Pengalaman ini meninggalkan catatan emas bagi dirinya sebagai ‘orang pertama Indonesia yang berhasil menyelesaikan lomba Likeys 6.633 Ultra’ itu.
Di Tanah Air, gunung-gunung di atas ketinggian 2.000 meter dpl dari Sumatra hingga Papua telah mengenal akrab pria tangguh ini, yang bolak balik menjadi peserta lari ultra-marathon dengan kondisi geografi dan cuaca ekstrem, maupun menjadi penyelenggara event serupa.
Sebagai seorang pelari ultra-trail, rasa-rasanya hampir semua bagian Bumi yang berkondisi ekstrem telah dijelajahi Hendra Wijaya dengan cara berjalan cepat, berlari, dan bersepeda.
Namun, hingga 2025 masih ada satu tempat paling istimewa di dunia yang belum dijejaki Hendra, yakni Tanah Suci Makkah.
“Banyak teman-teman saya yang menganjurkan saya lari ke Makkah,” ucapnya saat wawancara khusus dengan Indonesia Window di kantornya yang berlokasi di Kawasan Sentul City, Bogor, Jawa Barat, belum lama ini.
Menanggapi ‘tantangan’ tersebut Hendra mengakui bahwa saat itu dirinya belum terpikir.
“Tujuan saya berhaji, bukan semata-mata ke Makkah. Karena kalau tujuan saya ke Makkah, kapan saja bisa tercapai. Kita santai juga, yang penting ke Makkah. Tapi kalau berhaji, kan ada waktunya,” tuturnya.
Pada 2025, Hendra akhirnya menguatkan tekad untuk meng-gowes sepedanya ke Tanah Suci demi menunaikan Rukun Islam ke-5. Rencana disusun dengan sematang-matangnya, mengingat jarak Bogor-Makkah sejauh 15.234 kilometer.
“Awalnya saya targetkan start 1 Februari. Setelah menghitung jarak perjalanan, saya harus gowes 200 km per hari, lalu menyeberang dengan kapal dari Merak ke Bakauheni, Dumai ke Port Dickson Malaysia, dan dari Bandar Abbas (Iran) ke Sharjah (UEA),” urainya.
Namun, ujian perdana datang tanpa disangka. “Saya dirawat di ICU selama enam hari, lalu empat hari di ruang perawatan, total 10 hari. Baru keluar tanggal 28 Januari.”
Dengan jahitan bekas operasi yang masih basah Hendra memulai perjalanan panjangnya. Pada 16 Februari 2025 Hendra bertolak ke Tanah Suci dari MITOSH Sports & Ecotourism di Sentul City, Bogor.
“Saya yakin setiap langkah akan membawa kesembuhan. Sebulan pertama saya sangat hati-hati, terutama saat bergerak atau makan. Alhamdulillah setelah sebulan kondisi mulai membaik,” ujarnya.
Sebelumnya, Hendra telah membayar visa haji mujamalah (di luar kuota haji regular) melalui sebuah travel haji di Bogor, yang dia harapkan bakal keluar menjelang dimulainya ritual ibadah.
Tanggal berangkat yang terpaksa diundur lebih dari dua pekan dari jadwal semula justru membuat Hendra lebih fokus dalam menjalankan ‘misi suci’-nya.
“Waktu saya jadi ketat sekali karena saya harus tiba sesuai waktu pelaksanaan haji. Saya harus fokus dan menolak banyak undangan pertemuan dan podcast sepanjang perjalanan. Tujuan saya berhaji, bukan sekadar ke Makkah,” tuturnya tegas.
Perjalanannya selama kurang lebih empat bulan melintasi tujuh negara, mulai dari menyeberangi Selat Malaka dari Riau ke Malaysia, lalu dilanjutkan ke Thailand, China, hingga harus menyeberangi wilayah perbatasan antara Pakistan dan Afghanistan yang termasuk dalam titik panas konflik militer dua negara Asia Selatan tersebut.
Setelah itu, Hendra terus meng-gowes hingga Iran, kemudian menyeberangi Selat Hormuz sampai tiba di Uni Emirat Arab (UAE), sebelum akhirnya mencapai wilayah Arab Saudi.
Perjalanan ibadah haji yang disebutnya ‘Majestic Ice Road’ itu benar-benar dia tempuh seorang diri.
“Tidak ada tim yang mendampingi saya. Saya bukan content creator atau blogger. Hanya GoPro di sepeda, dua tracker, satu telepon GSM dan satu satelit. GSM bisa dipakai di banyak negara, tapi di Iran diblokir,” tutur Hendra.
Banyaknya pendakian gunung ditambah puluhan lomba ultra-trail di medan serba ekstrem yang dilakukannya selama ini telah menempa fisiknya lebih kuat.
“Kendala alam tidak masalah, saya sudah terbiasa. Yang berat adalah jalur berbahaya. Seperti di perbatasan Pakistan–Iran. Saat itu ada pembunuhan warga, sehingga saya disarankan naik pesawat. Tapi saya memilih jalur Afghanistan, supaya bisa tetap naik sepeda,” ucap Hendra.
Di Afghanistan dia bertemu sejumlah orang dari kelompok Taliban, bahkan masuk ke markas mereka dengan sambutan yang hangat dan penuh rasa kekeluargaan.
“Ternyata mereka ramah, banyak bercanda, dan membantu saya. Sampai-sampai mereka heran ada orang Indonesia umur 59 tahun kuat naik sepeda ke Makkah. Jadi tantangan terbesar bukan fisik, melainkan keamanan,” ujarnya.
Saat tiba di UEA, Hendra menunggu di Ruwais selama 10 hari sebelum visa haji-nya keluar.
“Waktu itu saya dengar berita tentang visa haji yang banyak ditolak, akhirnya banyak jamaah Indonesia yang batal berangkat. Makanya, saat visa haji saya benar-benar keluar, saya menangis bahagia. Itu pertama kali saya menangis karena bahagia,” kenang Hendra lirih, sambil menyeka air matanya.
Mendapatkan visa haji baginya adalah “hadiah dari perjuangan panjang, termasuk saat sakit dan menjalani operasi.”
“Sampai ke Makkah tidak terlalu berat, yang berat adalah berhaji. Kalau hanya sampai Makkah tanpa visa haji, itu tidak sah. Jadi yang paling membahagiakan adalah saat visa keluar. Saya anggap itu takdir dan ujian dari Allah (ﷻ),” ujarnya.

Di hari ke-100 perjalanan ‘Majestic Ice Road’-nya Hendra mengambil miqat (niat berihram dan mengenakan pakaian ihram bagi jamaah yang akan melaksanakan ibadah haji) saat waktu subuh. Dia lalu tiba di Masjidil Haram sekira dua jam menjelang tengah hari, saat suhu mencapai 50 derajat Celsius.
Pada 4 Juni 2025 atau 8 Dzulhijjah 1446 Hijriah, Hendra Wijaya menjadi satu di antara lebih dari 1,6 juta umat Muslim seluruh dunia yang mulai menunaikan ibadah haji hingga 13 Dzulhijjah yang bertepatan dengan tanggal 9 Juni 2025.
Laporan: Redaksi
Bagikan

Komentar
Berita Terkait

Hampir 30 juta warga di Sudan butuh bantuan kemanusiaan akibat perang
Indonesia
•
16 Nov 2024

Istanbul menangkan lelang lukisan Sultan Ottoman abad ke-15
Indonesia
•
27 Jun 2020

Peringatan kesehatan dikeluarkan terkait wabah campak lokal di negara bagian Victoria, Australia
Indonesia
•
01 Mar 2025

Pembangunan ibu kota baru butuh mitigasi konflik sosial
Indonesia
•
29 Nov 2019


Berita Terbaru

Telaah – Strategi komunikasi di medsos unik: Karakter X, YouTube, dan Facebook berbeda
Indonesia
•
30 Sep 2026

Temu perdana usai haji, Kloter 27 Kota Bogor ukhuwah rawat ‘Kemabruran’
Indonesia
•
28 Sep 2026

Feature – Festival Pertengahan Musim Gugur lampaui batas negara, mahasiswa Indonesia ungkap maknanya
Indonesia
•
28 Sep 2026

20 pelajar Indonesia berlaga di 17 bidang WorldSkills Shanghai, 3D Digital Game Art jadi debut
Indonesia
•
28 Sep 2026
