
20 pelajar Indonesia berlaga di 17 bidang WorldSkills Shanghai, 3D Digital Game Art jadi debut

Seorang kompetitor asal Indonesia bersiap mengikuti ajang WorldSkills Competition ke-48 di National Exhibition and Convention Center (Shanghai) di Shanghai, China timur, pada 21 September 2026. (Xinhua/Huang Anqi)
Shanghai, China (Xinhua/Indonesia Window) – Dalam WorldSkills Competition ke-48 yang digelar di Shanghai, delegasi Indonesia menampilkan talenta generasi mudanya sekaligus memperlihatkan semakin luasnya kemitraan pendidikan vokasi dengan China.
Indonesia mengirimkan 20 peserta yang berkompetisi dalam 17 bidang keterampilan, termasuk bidang 3D Digital Game Art untuk pertama kalinya.
Adrianus Patiung, ketua Tim Kerja Peserta Didik Direktorat Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) Republik Indonesia (RI) sekaligus ketua delegasi, mengapresiasi ketenangan para peserta muda di arena yang memiliki luas 360.000 meter persegi tersebut.
"Apa pun hasil akhirnya, kompetisi ini menjadi tolok ukur kualitas pendidikan vokasi Indonesia," ujar Adrianus.
Arie Wibowo Khurniawan, direktur SMK di bawah Direktorat Jenderal Pendidikan Menengah dan Pendidikan Khusus Kemendikdasmen RI, menjelaskan bahwa sinergi pendidikan bilateral menjembatani ruang kelas dan dunia industri.
Dia mengatakan kerja sama tersebut berfokus pada "menyelaraskan pendidikan dengan kebutuhan bisnis, industri, dan dunia kerja, yang kami sebut link and match."
Investasi China di Indonesia turut mendorong pengembangan kurikulum bersama dan pembangunan teaching factory, sehingga lulusan SMK dapat memperoleh pekerjaan dengan lebih cepat.
Terkait perkembangan teknologi, Didik Suhardi, staf khusus Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Bidang Manajemen dan Kelembagaan, mengatakan bahwa kecerdasan buatan (AI) dan pemrograman kini menjadi mata pelajaran pilihan di sekolah-sekolah Indonesia.
"Kami memandang AI sebagai 'supertool' yang memberdayakan tenaga kerja terampil, bukan sebagai pengganti mereka," jelas Didik. Dia menekankan bahwa meskipun AI dapat membantu dalam simulasi, ketepatan manusia tetap sangat penting. "Prinsip kami adalah: manusia memegang kendali, AI sebagai pendukung."
Dalam menyongsong visi Indonesia Emas 2045, Didik berharap kerja sama dengan lembaga-lembaga China di bidang energi terbarukan, kendaraan listrik, dan ekonomi digital dapat semakin diperdalam melalui pelatihan bersama dan sertifikasi keterampilan yang saling diakui.
Mengenang pertukaran antarpemuda, dia berkata, "Keterampilan adalah bahasa universal yang menyatukan kita, dan persahabatan yang dibangun oleh generasi muda ini merupakan fondasi bagi hubungan Indonesia-China yang semakin erat."
Laporan: Redaksi
Bagikan

Komentar
Berita Terkait

Utusan China sebut menolak gencatan senjata di Gaza sama halnya beri izin membunuh
Indonesia
•
22 Feb 2024

COVID-19 – China terapkan langkah-langkah melawan penyakit menular Kelas B
Indonesia
•
27 Dec 2022

China secara bertahap tingkatkan kemampuan untuk kendalikan emisi metana
Indonesia
•
10 Nov 2022

Jumlah warga Palestina yang tewas di Gaza mencapai hampir 29.000 orang
Indonesia
•
19 Feb 2024


Berita Terbaru

Temu perdana usai haji, Kloter 27 Kota Bogor ukhuwah rawat ‘Kemabruran’
Indonesia
•
28 Sep 2026

Feature – Festival Pertengahan Musim Gugur lampaui batas negara, mahasiswa Indonesia ungkap maknanya
Indonesia
•
28 Sep 2026

Feature – Mengenal ‘catsitter’: Merawat kucing, menjaga kepercayaan
Indonesia
•
25 Sep 2026

Jepang makin tua, punya 36,24 juta lansia
Indonesia
•
21 Sep 2026
