Telaah – Strategi komunikasi di medsos unik: Karakter X, YouTube, dan Facebook berbeda

Foto dokumentasi ini menampilkan akses media sosial untuk informasi. (Indonesia Window)

Bogor, Jawa Barat (Indonesia Window) – ‘Suka’ dan ‘komentar’ ternyata bukan satu-satunya tanda publik menyimak informasi.

Riset Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengkaji bagaimana karakter platform dan algoritma membentuk komunikasi Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) RI di media sosial.

Setiap platform media sosial punya cara kerja dan kebiasaan pengguna yang berbeda. Karena itu, pesan lembaga publik yang efektif di YouTube belum tentu cocok disampaikan dengan cara yang sama di X atau Facebook.

Temuan tersebut dibahas dalam Forum Diskusi Budaya Seri ke-105 yang digelar Pusat Riset Masyarakat dan Budaya (PRMB) BRIN di Jakarta, Senin (29/9), dikutip dari situs jejaring BRIN, Rabu.

Forum itu menghadirkan peneliti PRMB BRIN Handrini Ardiyanti dan dosen sekaligus peneliti Universitas Brawijaya Prof. Anang Sujoko.

Mereka mengulas penelitian kolaborasi peneliti BRIN dan akademisi Universitas Indonesia tentang media sosial DPR RI.

Artikel itu berjudul ‘Platform Affordances, Audience Engagement, and the Continuing Relevance of McLuhan’s Hot-Cold Media Theory: Evidence from Indonesian Parliamentary Social Media.’

Kepala PRMB Aulia Hadi mengatakan media sosial di Indonesia menarik dikaji karena berkaitan dengan dinamika politik dan keterlibatan publik.

Masyarakat, ujarnya, bukan hanya konsumen informasi, tetapi juga dapat berpartisipasi dalam aktivitas politik dan produksi konten digital.

‘Temperatur’ berbeda

Dalam penelitian tersebut, Handrini menggunakan teori hot and cool media yang diperkenalkan oleh Marshall McLuhan.

Secara umum, hot media menyajikan informasi secara padat dan terperinci sehingga membutuhkan partisipasi audiens lebih rendah. Sementara itu, cool media memberi ruang lebih besar bagi audiens untuk ikut melengkapi dan membentuk makna pesan.

Namun, menurut penelitian itu, pembagian tersebut tidak bisa diterapkan secara kaku pada media digital. “Temperatur” sebuah platform perlu dilihat melalui empat dimensi: kekayaan informasi, intensitas sensorik, partisipasi audiens, serta affordance—peluang tindakan dan interaksi yang disediakan platform.

Hasil kajian menunjukkan, karakter kanal media sosial DPR RI berbeda-beda.

X bersifat dinamis dan dapat berada di antara kategori hot dan cool, bergantung pada isu, momentum, dan strategi komunikasinya.

YouTube menawarkan kekayaan informasi dan intensitas sensorik tinggi melalui format audiovisual.

Facebook, sementara itu, memberikan peluang partisipasi dan interaksi audiens yang relatif tinggi.

Perbedaan ini berpengaruh pada cara lembaga menyusun pesan. Platform yang mampu menyajikan informasi secara lengkap dapat digunakan untuk pesan yang membutuhkan penjelasan lebih mendalam.

Adapun platform dengan ruang interaksi lebih besar dapat dimanfaatkan untuk menjaring respons dan aspirasi masyarakat.

Perubahan komunikasi DPR RI juga berlangsung seiring bergesernya lingkungan media.

Handrini menjelaskan bahwa media sosial membuka peluang bagi DPR untuk menyampaikan informasi secara lebih langsung. Penggunaan platform digital sebagai ruang komunikasi publik semakin meningkat selama pandemi COVID-19.

Penelitian tersebut juga menyoroti cara mengukur keterlibatan audiens. Jumlah suka, komentar, bagikan, atau retweet memang terlihat, tetapi belum tentu menggambarkan seluruh proses keterlibatan.

Audiens bisa membaca, memperhatikan, menafsirkan, dan membentuk pemaknaan atas sebuah pesan tanpa meninggalkan jejak interaksi yang tampak. Karena itu, komunikasi lembaga publik perlu mempertimbangkan bukan hanya banyaknya respons, tetapi juga bagaimana informasi diterima dan dipahami masyarakat.

“Tidak semua informasi harus diarahkan untuk menghasilkan dialog dengan intensitas tinggi. Sebaliknya, ketika tujuan komunikasi adalah memperoleh aspirasi masyarakat, fitur dan karakteristik platform yang memungkinkan partisipasi lebih luas dapat dimanfaatkan,” kata Handrini.

Algoritma menentukan

Prof. Anang Sujoko menilai perkembangan media digital mendorong teori komunikasi klasik untuk dikaji kembali.

Pengguna kini tidak hanya menerima informasi, tetapi juga memproduksi dan menyebarkan konten. Pada saat yang sama, algoritma platform turut menentukan informasi apa yang muncul dan seberapa luas jangkauannya.

Karakter hot dan cool, menurut Prof. Anang, dapat hadir bersamaan dan saling berinteraksi, bergantung pada teknologi, perilaku pengguna, serta bentuk partisipasi yang tersedia di sebuah platform.

Dalam perspektif ekologi media, platform digital juga menjadi lingkungan yang memengaruhi persepsi, perhatian, dan hubungan sosial. Konten yang mendapat visibilitas tinggi bisa berkembang menjadi viral, lalu mendorong respons maupun diskusi di antara pengguna.

Prof. Anang menegaskan teori hot and cool media tetap dapat digunakan untuk memahami perubahan komunikasi, tetapi perlu direkonstruksi dengan mempertimbangkan perkembangan teknologi serta konteks sosial, politik, dan budaya Indonesia.

Laporan: Redaksi

Bagikan

Komentar

Berita Terkait