
Temu perdana usai haji, Kloter 27 Kota Bogor ukhuwah rawat ‘Kemabruran’

Pertemuan perdana alumni rombongan enam jamaah haji Kelompok Terbang (Kloter) 27 asal Kota Bogor, Jawa Barat, di bawah bimbingan Yayasan Kelompok Bimbingan Ibadah Haji dan Umrah (KBIHU) Annizariyyah (ANZ), Ahad (27/9/2026) di Perumahan Cimanggu Permai 1, Jalan Kalasan Blok N1 Nomor 10, Kota Bogor, Jawa Barat. (FOTO:HO-Rombongan 6 Kloter 27).
Skema ‘One Day One Juz' (ODOJ adalah program membaca Al-Quran dengan target menamatkan (khatam) satu juz setiap hari sehingga bisa khatam dalam waktu 30 hari.
Bogor, Jawa Barat (Indonesia Window) - Rombongan jamaah haji Kelompok Terbang (Kloter) 27 asal Kota Bogor, Jawa Barat, di bawah bimbingan Yayasan Kelompok Bimbingan Ibadah Haji dan Umrah (KBIHU) Annizariyyah (ANZ), menggelar temu perdana usai melaksanakan ibadah haji 2026 lalu, dengan tujuan merawat ‘kemabruran’ pada Ahad (27/9/2026).
"Pertemuan perdana alumni Kloter 27 Kota Bogor setelah melaksanakan ibadah haji pada musim haji 2026 beberapa waktu lalu, tidak sekadar bertemu, namun yang lebih penting adalah ikhtiar untuk merawat 'kemabruran' haji kita semua," kata Ustadz H Hilman Shadaq, S.P., Ketua sekaligus Pembimbing Ibadah Haji dan Umrah di KBIHU ANZ Bogor di Kota Bogor, dalam taklimat media yang diterima, Ahad (27/9).
Saat memberikan tausiyah di Perumahan Cimanggu Permai 1, Jalan Kalasan Blok N1 Nomor 10, Kota Bogor -- rumah pasangan ‘shaibul bait’, H Rizal Tresna Ramdhani dan Hj Siti Latifah -- dia memotivasi alumni jamaah haji yang dibimbingnya itu untuk tetap berusaha keras bisa istiqamah menjalankan ibadah, seperti saat berada di Tanah Suci, Makkah dan Madinah, Arab Saudi beberapa waktu lalu.
"Meski dari segi kuantitas ibadahnya tidak harus sama persis seperti saat di Tanah Suci lalu, namun amaliah-amaliah seperti membaca Al Quran dengan skema 'One Day One Juz' (ODOJ) atau melaksanakan shalat tahiyatul masjid, diupayakan tetap dilakukan usai kembali ke Tanah Air ini," kata ‘Kang Hilman Sahate’, panggilan karibnya di media sosial (medsos)-nya.
Skema ODOJ adalah program membaca Al-Quran dengan target menamatkan (khatam) satu juz setiap hari sehingga bisa khatam dalam waktu 30 hari.
"Pun, amalan-amalan lainnya,diupayakan bersama untuk konsisten dilakukan sebagai parameter kita menjaga 'kemabruran' ibadah haji lalu," katanya.
Hilman Shadaq, yang juga dikenal sebagai socialpreneur dan pegiat lingkungan sebagai pendiri Yayasan Jaringan Indonesia Sehati serta aktif dalam gerakan ramah lingkungan seperti eco-enzymedan Program Kampung Iklim (Proklim) di wilayah Bogor itu menambahkan bahwa dengan istiqamah semaksimal mungkin menjaga kesinambungan ibadah, maka indikator menjaga ‘kemabruran’ itu bisa menjadi ukuran masing-masing alumnus haji Kloter 27 Kota Bogor itu, karena tingkat keimanan umat Islam memang dalam kondisi naik-turun.
"Nah, di WA Group (WAG) alumni Kloter 27 ini, saling mengingatkan untuk, seperti ODOJ dan seruan serta ajakan untuk melaksanakan shalat tahajud dan ibadah lainnya, adalah wujud dari merawat 'kemabruran' haji itu," katanya.
Dalam beberapa referensi, disebutkan bahwa meraih predikat haji mabrur adalah harapan setiap jamaah haji karena balasan pahalanya adalah surga, sesuai sabda Rosululloh Muhammad Shalallahu alaihi wasallam (ﷺ) di mana dalam hadits riwayat (HR) Imam Bukhari ditegaskan bahwa ‘haji yang mabrur tidak lain pahalanya adalah surga’ ( HR. Bukhari).
Beberapa ulama menyatakan ada beberapa makna haji mabrur, seperti dalam Kitab Fathul Baarii (HR Bukhari) yang menjelaskan bahwa haji mabrur adalah haji yang maqbul yakni haji yang diterima oleh Allah Subhanahu wa Taala (SWT).
Sedangkan Imam An-Nawawi dalam HR Imam Muslim mengatakan: ‘Haji Mabrur itu adalah haji yang tidak dikotori oleh dosa, tidak ada riya, tidak ada sum'ah (tidak beribadah dengan tujuan agar kemasyhurannya atau gelar hajinya didengar dan dibicarakan orang), tidak rafats (melakukan perkataan kotor/keji) dan tidak fusuq (perbuatan maksiat/keluar dari ketaatan)’.
Berkaitan dengan itu, Nabi Muhammad ﷺ
memberikan penjelasan tentang kemabruran haji, yakni saat Rosululloh ﷺ pernah ditanya tentang haji yang mabrur, yang kemudian menjawab, yaitu suka bersedekah dengan bentuk memberi makan dan memiliki tutur kata yang baik (HR Hakim )
Sehingga secara sederhana, Nabi Muhammad ﷺ menjelaskan kata mabrur, yaitu orang yang suka memberi makan dan lembut dalam perkataan serta suka memberi makan yang melambangkan sifat dermawan, sedangkan lembut perkataan berarti ucapan-ucapannya tidak pernah menyakitkan orang lain.
Namun, meski sederhana sekali didengarnya, tetapi tidak mudah untuk mempraktikkannya. Karenanya, jamaah haji sepulang dari Tanah Suci hendaknya selalu berupaya melestarikan kemabruran ibadah haji.
Santunan Yatim-Kajian
Dalam kesempatan itu, juga disepakati untuk tetap melakukan ukhuwah secara periodik per empat bulan, dan melaksanakan beberapa program yang dirancang, di antaranya adalah mengumpulkan infaq setiap bulan yang digunakan untuk santunan anak yatim/yatim piatu serta kegiatan kajian dengan menghadirkan narasumber.
Kemudian, mengaktifkan membaca Al Quran dengan skema ODOJ, dengan rencana setiap hari Kamis, mulai pekan depan, yakni 1 Oktober 2026, usai shalat Isya.
Selain itu, diadakan arisan yang dilaksanakan setiap bulan, dengan rencana maksimal tanggal 10 pada setiap bulannya
Mengisi ukhuwah dengan pendidikan bertema yang beragam, seperti hukum waris, zakat dan infak, pemulasaraan jenazah dan lainnya.
Kegiatan ukhuwah berikutnya dijadwalkan pada bulan Januari 2027 dan tanggalnya menyusul, menyesuaikan dengan kesiapan tuan rumah.
Lalu, dirancang juga dalam rencana jangka panjang, yakni melaksnakan ibadah umroh, yakni masing-masing jamaah menabung secara mandiri.
Jamaah haji yang tergabung dalam Kloter 27 Kota Bogor di bawah bimbingan KBIHU ANZ sebanyak 35 orang, yakni: (1) H Endang Suhendar, (2) H Yupie Deswar, (3) Hj Imas Susanti Mansur, (4) H Iwan Sumargawan Martasasmita, (5) Hj. Enong Rahmawati Saripudin, (6) Hj Rida Rumondang, (7) H Rakhmat Santoso Affandi, (8) H Awang Sepdiana Arifin, (9) Hj Tity Rosliana, (10) H Rizal Tresna Ramdhani.
Lalu, (11) Hj Siti Latifah, (12) Hj Fatimah Dulmukti Muda, (13) H Ghabe Tiopan Nasution, (14) H Yudhi Wahyu Ramadhan, (15) Hj Nurul Inayah Hasan, (16) Hj Najwa Maritsa Ramadhan, (17) Hj Shafa Agnia Ramadhan, (18) H Paul Ferdian, (19) Hj Fenty Lusiana Siregar, (20) H Aulia Fikri.
Kemudian, (21) Hj Dolly Sarmila, (22) Hj Liswati Mursid Adiwijaya, (23) H Erik Prasetyo Suprapto, (24) Hj Siti Rohmah, (25). Hj Irwan Setiawan, (26) Hj Ani Sumarni, (27) H Joko Sarwono, (28) Hj Siti Mulyani, (29) H Eldaspi Zainal Abidin, (30) Hj Pitrianis Yuniras.
Selanjutnya, (31) H Umar Dani, (32) Hj Agustin Dwi Aviyanti, (33) H Nugraha Edhi Suyatma, (34) Hj Dwi Yuni Hastuti dan (35) H Hilman Shodaq.
Laporan: Redaksi
Bagikan

Komentar
Berita Terkait

Arab Saudi daur ulang kain ihram haji untuk jaga lingkungan
Indonesia
•
09 Aug 2022

Kenya serukan perlindungan gajah di tengah lonjakan populasi
Indonesia
•
15 Aug 2023

Jepang kemungkinan alami musim panas yang lebih terik dari biasanya
Indonesia
•
27 May 2024

Dosen Indonesia di China lihat kerja sama China-ASEAN semakin dalam
Indonesia
•
14 Sep 2022


Berita Terbaru

Feature – Festival Pertengahan Musim Gugur lampaui batas negara, mahasiswa Indonesia ungkap maknanya
Indonesia
•
28 Sep 2026

20 pelajar Indonesia berlaga di 17 bidang WorldSkills Shanghai, 3D Digital Game Art jadi debut
Indonesia
•
28 Sep 2026

Feature – Mengenal ‘catsitter’: Merawat kucing, menjaga kepercayaan
Indonesia
•
25 Sep 2026

Jepang makin tua, punya 36,24 juta lansia
Indonesia
•
21 Sep 2026
