NASA akan buka kembali tender kontrak pendarat Bulan karena SpaceX terlambat

Foto yang diabadikan pada 25 Februari 2023 ini menunjukkan roket SpaceX Falcon 9 dan wahana antariksa Dragon di Kennedy Space Center NASA di Florida, Amerika Serikat. (Xinhua/NASA)
Sistem Pendaratan Manusia (Human Landing System/HLS) akan membawa astronaut Amerika Serikat ke Bulan dalam misi Artemis III.
Los Angeles, Amerika Serikat (Xinhua/Indonesia Window) – Pelaksana Tugas Administrator NASA Sean Duffy pada Senin (20/10) mengumumkan badan itu akan membuka kembali proses tender terkait kontrak wahana pendarat (lander) Bulan, yang saat ini dipegang oleh SpaceX, karena keterlambatan progres perusahaan itu dalam misi Artemis III."SpaceX memegang kontrak untuk membangun Sistem Pendaratan Manusia (Human Landing System/HLS), yang akan membawa astronaut Amerika Serikat (AS) ke Bulan dalam misi Artemis III," ujar Duffy dalam unggahan di platform media sosial X. "Namun, persaingan dan inovasi merupakan kunci keunggulan kami dalam antariksa, sehingga NASA membuka produksi HLS kepada Blue Origin dan perusahaan-perusahaan besar Amerika lainnya."HLS akan membawa para astronot dari orbit Bulan ke permukaan Bulan sebagai bagian dari program Artemis NASA. Para awak akan menaiki wahana pendarat di orbit, turun ke permukaan Bulan untuk mengumpulkan sampel, melakukan eksperimen ilmiah, serta mengamati lingkungan Bulan, kemudian kembali ke orbit untuk melakukan perjalanan pulang ke Bumi. Demikian menurut badan tersebut."Mereka (SpaceX) melakukan hal-hal luar biasa, tetapi saat ini mereka terlambat dari jadwal," tutur Duffy dalam sesi wawancara dengan Fox News, sembari menambahkan bahwa Presiden AS Donald Trump berharap pendaratan di Bulan dapat terlaksana sebelum masa jabatannya berakhir pada Januari 2029.Duffy juga mengatakan komponen perangkat keras utama terakhir untuk Artemis II, misi berawak NASA selanjutnya untuk mengelilingi Bulan, telah dipasang. Pesawat antariksa Orion, yang diberi nama "Integrity" dan akan membawa para astronaut Artemis II, telah sepenuhnya terpasang pada roket Sistem Peluncuran Luar Angkasa (Space Launch System/SLS), urainya di platform media sosial X.Di media sosial X, Elon Musk, pendiri sekaligus CEO SpaceX, menanggapi santai pengumuman itu dengan mengatakan perusahaannya "bergerak secepat kilat dibandingkan dengan industri antariksa lainnya," seraya menambahkan "Starship pada akhirnya akan melaksanakan seluruh misi ke Bulan."SpaceX merupakan satu dari beberapa kontraktor utama yang mendukung program Artemis NASA, yang bertujuan membangun kehadiran manusia jangka panjang pertama di Bulan dan membuka jalan bagi misi-misi ke Mars mendatang. Perusahaan-perusahaan lain yang terlibat mencakup Blue Origin, Boeing, Lockheed Martin, dan Northrop Grumman.NASA memberikan kontrak awal kepada SpaceX untuk mengembangkan HLS berbasis Starship terkait Artemis III, pendaratan manusia di Bulan pertama sejak 1972. Berdasarkan kontrak tersebut, SpaceX diwajibkan melakukan satu penerbangan demonstrasi tanpa awak sebelum melaksanakan misi berawak.Pada Desember, NASA merevisi lini masa program Artemis dengan menargetkan April 2026 untuk peluncuran Artemis II, misi penerbangan berawak pertama yang mengelilingi Bulan, dan pertengahan 2027 untuk Artemis III, yang bertujuan untuk menjelajahi wilayah kutub selatan Bulan.Laporan: RedaksiBagikan
Komentar
Berita Terkait

Jejak kaki kura-kura, burung, dan dinosaurus di China barat laut ungkap sejarah periode Cretaceous
Indonesia
•
10 Sep 2024

Ilmuwan China kembangkan serat termal tiruan bulu beruang kutub
Indonesia
•
26 Dec 2023

Studi ungkap peran interaksi laut-atmosfer perkuat gelombang dingin di Eurasia
Indonesia
•
10 Sep 2025

Indeks Inovasi China naik 6 persen pada 2023
Indonesia
•
26 Oct 2024
Berita Terbaru

Stasiun Mohe, stasiun penerima data satelit paling utara di China
Indonesia
•
30 Jan 2026

Ilmuwan kembangkan kristal baru, capai terobosan dalam ‘output’ laser ultraviolet vakum
Indonesia
•
30 Jan 2026

Tim ilmuwan manfaatkan baterai kuantum untuk jadi pemasok daya super bagi komputer kuantum
Indonesia
•
30 Jan 2026

Feature – Ekspedisi China ungkap fenomena bukaan es di Antarktika
Indonesia
•
30 Jan 2026
