
Tim ilmuwan Australia manfaatkan AI untuk selamatkan Great Barrier Reef

Foto yang diabadikan pada 2 Juni 2021 ini menunjukkan Great Barrier Reef di Queensland, Australia. (Xinhua/Hu Jingchen)
Sistem pemantauan berbasis kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) waktu nyata (real-time) diterapkan untuk menyelamatkan sistem terumbu karang terbesar di dunia, Great Barrier Reef, dari bahaya pemanasan global.
Canberra, Australia (Xinhua/Indonesia Window) – Sejumlah ilmuwan Australia berhasil merancang sistem pemantauan berbasis kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) waktu nyata (real-time) untuk menyelamatkan sistem terumbu karang terbesar di dunia, Great Barrier Reef, dari bahaya pemanasan global.Sistem pemantauan global itu diharapkan dapat menghentikan kerusakan gugusan terumbu karang tersebut akibat pemutihan (bleaching) yang sebagian besar disebabkan oleh perubahan iklim. Great Barrier Reef telah terkikis akibat pemutihan parah sejak 2016, yang diperparah oleh wabah bulu seribu (crown-of-thorns starfish) yang sedang terjadi dan pembangunan di area pesisir, menurut sebuah penelitian yang diterbitkan pada Kamis (13/2) di jurnal Electronics.Gugusan terumbu karang, ekosistem laut paling rapuh di dunia, menghadapi ancaman kepunahan dengan level yang mengkhawatirkan di seluruh dunia, dengan 75 persen terumbu karang mengalami tekanan panas level pemutihan dalam dua tahun terakhir. Hal tersebut diungkapkan oleh para peneliti dari Universitas Australia Selatan (University of South Australia/UniSA) yang berkolaborasi dengan Universitas RMIT dan Universitas Teknologi Queensland.Satu model terpusat akan mengintegrasikan semua faktor yang memengaruhi terumbu karang dan menyediakan prediksi waktu nyata bagi para ilmuwan lingkungan, ungkap analis data UniSA sekaligus peneliti utama, Abdullahi Chowdhury.Chowdhury menambahkan bahwa proyek itu mengintegrasikan teknologi pengindraan jarak jauh dengan pembelajaran mesin, AI, dan Sistem Informasi Geografis untuk memungkinkan intervensi lebih awal, menyediakan peta jalan untuk memanfaatkan teknologi-teknologi ini guna memastikan keselamatan gugusan terumbu karang bagi generasi-generasi selanjutnya.Saat ini, terdapat sejumlah model terpisah yang menganalisis data substansial tentang kesehatan terumbu karang, termasuk level pemutihan, insidensi penyakit, kepadatan karang remaja, dan kelimpahan ikan karang. Namun, kumpulan data ini tidak terintegrasi, kata Chowdhury.Gugusan terumbu karang, yang merupakan "hutan hujan di laut," hanya mencakup 1 persen dari area lautan dunia, tetapi menjadi rumah bagi 25 persen dari seluruh kehidupan laut. Great Barrier Reef, yang terdaftar sebagai Warisan Dunia dan merupakan salah satu aset ekologi dan pariwisata terpenting Australia, adalah terumbu karang yang dianggap sangat berharga di seluruh dunia.Laporan: RedaksiBagikan

Komentar
Berita Terkait

Ilmuwan Australia ungkap bahaya tersembunyi pestisida di ekosistem akuatik
Indonesia
•
25 Jun 2025

Gerhana Matahari Cincin lintasi Indonesia pada 26 Desember 2019
Indonesia
•
12 Sep 2019

Taiwan tambah 3 patahan aktif jadi 36
Indonesia
•
07 Jan 2022

China capai kemajuan signifikan dalam pengendalian polutan organik persisten
Indonesia
•
19 May 2024


Berita Terbaru

Superkomputer China LineShine puncaki TOP500, jadi yang pertama tembus 2 EFLOPS
Indonesia
•
26 Jun 2026

Terobosan AI medis! Teknologi ini bisa membantu mendeteksi skizofrenia lewat gelombang otak
Indonesia
•
25 Jun 2026

Masayoshi Son: SoftBank fokus pada AI, cip, infrastruktur, dan robotik untuk percepat ekspansi
Indonesia
•
25 Jun 2026

Feature – Hampir 40 tahun jelajahi hutan, profesor BRIN temukan tiga spesies baru kantong semar, selamatkan Nepenthes Indonesia
Indonesia
•
25 Jun 2026
