
Ada jejak meteorit langka di dalam sampel bulan dari Misi Chang'e-6

Foto ini menunjukkan sampel Bulan, yang dibawa oleh misi Chang'e-6, di laboratorium sampel Bulan di Observatorium Astronomi Nasional China, yang berada di bawah naungan Akademi Ilmu Pengetahuan China (Chinese Academy of Sciences/CAS), di Beijing, ibu kota China, pada 24 September 2024. (Xinhua/Jin Liwang)
Sistem Bumi-Bulan mungkin telah mengalami lebih banyak tumbukan dari kondrit karbon (carbonaceous chondrites) daripada yang diperkirakan para ilmuwan sebelumnya.
Guangzhou, China (Xinhua/Indonesia Window) – Tim ilmuwan, yang mempelajari sampel Bulan yang dibawa kembali ke Bumi oleh misi Chang'e-6 China, mengidentifikasi jejak meteorit langka yang dapat mengubah pemahaman kita tentang perpindahan massa di Tata Surya.Penelitian yang telah diterbitkan dalam edisi terbaru jurnal Proceedings of the National Academy of Sciences ini dipimpin oleh tim peneliti dari Institut Geokimia Guangzhou (Guangzhou Institute of Geochemistry/GIG) yang berada di bawah naungan Akademi Ilmu Pengetahuan China (Chinese Academy of Sciences/CAS).Kondrit (chondrite) CI sangat langka di Bumi dan jumlahnya kurang dari satu persen dari seluruh meteorit yang terkumpul. Berbeda dengan Bumi, Bulan hampir tidak memiliki atmosfer dan lempeng tektonik, yang berarti Bulan menyimpan catatan murni dari tumbukan asteroid purba, laksana sebuah ‘arsip alam’.Dengan menggunakan teknik canggih untuk memeriksa komposisi mineral dan isotop oksigen, para peneliti mengkaji tanah Bulan dan mengonfirmasi bahwa fragmen-fragmen tersebut berasal dari kondrit yang mirip CI, yaitu sejenis meteorit yang kaya air dan bahan organik yang biasanya berasal dari bagian luar (outer) Tata Surya.Penelitian ini mengimplikasikan bahwa sistem Bumi-Bulan mungkin telah mengalami lebih banyak tumbukan dari kondrit karbon (carbonaceous chondrites) daripada yang diperkirakan para ilmuwan sebelumnya.Temuan ini tidak hanya mengindikasikan bahwa materi dari Tata Surya bagian luar bisa bermigrasi ke Tata Surya bagian dalam (inner), tetapi juga memiliki implikasi penting untuk menjelaskan asal usul air di permukaan Bulan, kata Lin Mang, salah satu peneliti di GIG.Penelitian ini juga memberikan arah baru untuk penelitian di masa depan tentang distribusi dan evolusi sumber daya air di Bulan, tambahnya.Selain itu, penelitian ini secara sistematis menetapkan metode untuk mengidentifikasi material meteorit di dalam sampel luar angkasa.Pada 2024, Chang'e-6 menorehkan sejarah dengan membawa 1.935,3 gram sampel sisi jauh Bulan kembali ke Bumi. Sampel-sampel ini dikumpulkan dari Cekungan Kutub Selatan-Aitken (South Pole-Aitken/SPA), yang merupakan cekungan terbesar, terdalam, dan tertua di Bulan.Laporan: RedaksiBagikan

Komentar
Berita Terkait

China ciptakan sistem pendaratan terkendali untuk pendorong roket
Indonesia
•
13 Jun 2023

Pembangunan kawasan industri robotika di Beijing utara dimulai
Indonesia
•
04 Apr 2024

Stasiun luar angkasa China dan sistem operasi Harmony masuk daftar pencapaian teknik terbaik 2023
Indonesia
•
22 Dec 2023

Peneliti China gunakan satelit sains Bumi untuk pantau anjungan minyak dan gas lepas pantai
Indonesia
•
09 Feb 2025


Berita Terbaru

Ilmuwan peringatkan karhutla bisa rusak permanen permafrost Bumi
Indonesia
•
13 Jun 2026

Makhluk laut ini menyerap karbon seperti hutan Amazon, rahasianya baru terungkap
Indonesia
•
12 Jun 2026

Mengapa es Antarktika mencair lebih cepat? Ilmuwan akhirnya punya jawabannya
Indonesia
•
11 Jun 2026

Feature – Teknologi canggih dukung upaya konservasi panda di China
Indonesia
•
11 Jun 2026
