Sinyal dari AS kian perparah instabilitas pada pelayaran di Selat Hormuz

Foto yang dirilis pada 21 Juli 2019 ini menunjukkan kapal tanker minyak Inggris 'Stena Impero' dikelilingi oleh 'speedboat' Korps Garda Revolusi Islam (Islamic Revolutionary Guard Corps/IRGC) Iran di Selat Hormuz, Iran. (Xinhua/ISNA/Morteza Akhoundi)

Selat Hormuz saat ini beroperasi sebagai sistem "terkendali dan tidak stabil", di mana risiko konfrontasi langsung antara negara-negara yang terlibat semakin meningkat.

 

London, Inggris (Xinhua/Indonesia Window) – Sinyal-sinyal dari Amerika Serikat (AS) mengenai tindakan militer potensial, termasuk pelarangan dan kemungkinan blokade di Selat Hormuz, menyusul gagalnya negosiasi AS-Iran di Pakistan, kian memperparah ketidakstabilan pada kondisi pelayaran di selat tersebut, demikian disampaikan sebuah perusahaan analisis maritim yang berkantor pusat di London pada Ahad (12/4).

Menurut sebuah laporan yang dirilis oleh Windward, Washington memberlakukan lapisan pengendalian kedua atas selat tersebut, yang berarti pergerakan kapal dapat dipengaruhi tidak hanya oleh pembatasan Iran, tetapi juga oleh kemungkinan tindakan AS.

Selat Hormuz saat ini beroperasi sebagai sistem "terkendali dan tidak stabil", di mana risiko konfrontasi langsung antara negara-negara yang terlibat semakin meningkat, sebut laporan itu.

Data menunjukkan bahwa pada Sabtu (11/4), total 17 kapal melintasi selat tersebut, termasuk tujuh kapal masuk (inbound) dan 10 kapal keluar (outbound). Lalu lintas inbound terdiri dari empat kapal tanker dan tiga kapal kargo, sementara lalu lintas outbound mencakup lima kapal tanker, satu kapal curah (bulk carrier), dan empat kapal kargo.

Meski volume transit sedikit meningkat, aktivitas pelayaran tetap terbatas, kata laporan tersebut, seraya menambahkan bahwa beberapa kapal telah mengubah rute atau berbalik arah, sementara jumlah kapal secara keseluruhan di Teluk terus menurun.

Laporan tersebut menambahkan bahwa akses diberikan secara selektif, dengan prioritas diberikan kepada aliran kargo dan rute perdagangan tertentu, sementara aktivitas komersial yang lebih luas masih dibatasi.

Laporan itu juga menyebutkan bahwa operasi ekspor Iran tetap berjalan di tengah kondisi yang terbatas. Citra satelit pada Sabtu menunjukkan tiga kapal tanker minyak mentah berukuran sangat besar sedang mengisi muatan di Pulau Kharg, Iran, dengan perkiraan volume gabungan sekitar 6 juta barel. Keberangkatan terakhir yang terkonfirmasi tercatat pada 8 April.

Windward lebih lanjut menyebutkan bahwa seiring berlanjutnya gangguan di Selat Hormuz, arus minyak mentah global semakin dialihkan ke Pantai Teluk AS. Sebanyak 172 kapal tanker minyak mentah saat ini sedang dalam perjalanan menuju kawasan tersebut.

Laporan: Redaksi

Bagikan

Komentar

Berita Terkait