
Serangan bom api Israel paksa warga Gaza mengungsi, kemungkinan tak bisa kembali ke rumah

Foto yang diabadikan pada 14 Mei 2026 ini menunjukkan anak-anak pengungsi Palestina di kamp pengungsi Al-Shati yang terletak di barat Gaza City. (Xinhua/Rizek Abdeljawad)
PBB (Xinhua/Indonesia Window) – Serangan bom api Israel memaksa keluarga-keluarga di Gaza mengungsi dalam semalam, dan perluasan apa yang disebut sebagai "Garis Kuning" (Yellow Line) menghalangi keluarga-keluarga untuk kembali ke rumah mereka, kata badan kemanusiaan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pada Rabu (24/6).
Orang-orang di area Beit Lahia di Kegubernuran Gaza Utara mengungsi dalam semalam, tutur Kantor PBB untuk Koordinasi Urusan Kemanusiaan (Office for the Coordination of Humanitarian Affairs/OCHA).
Sekitar tengah malam, kurang lebih 30 rumah tangga dilaporkan mengungsi saat tank-tank bergerak maju menuju Persimpangan Al Atatra di Beit Lahia. Menurut laporan, sebuah drone dengan empat baling-baling (quadcopter) menjatuhkan amunisi pembakar yang menyebabkan tiga tenda terbakar, urai OCHA.
Meski sebagian besar keluarga dapat kembali setelah pasukan tersebut ditarik, enam rumah tangga tetap mengungsi karena sebuah blok beton kuning dipasang di dekat tempat tinggal mereka. Pemasangan blok-blok semacam itu menandakan perluasan apa yang disebut sebagai Garis Kuning, yang merupakan batas penanda lokasi tempat kekuatan mematikan kerap kali digunakan, hingga ke area permukiman, kata OCHA.
"Mitra-mitra kemanusiaan membantu keluarga-keluarga yang baru mengungsi atau kehilangan harta benda mereka," ujar OCHA. "Pekan lalu, mitra-mitra merespons peringatan darurat yang berdampak terhadap 135 rumah tangga. Setelah melakukan evaluasi cepat terhadap kebutuhan masing-masing, para mitra menyediakan tenda, selimut, perlengkapan kebersihan dan perawatan diri, jeriken, serta terpal kepada para pengungsi melalui Mekanisme Distribusi Gabungan Cepat."
Sebagian besar keluarga yang baru-baru ini terdampak merupakan korban serangan tersebut. Puluhan keluarga lainnya mengungsi dari area-area di sepanjang Garis Kuning menyusul masuknya pasukan Israel dan pemasangan blok beton kuning. Sebagian kecil warga menerima bantuan setelah ada kebakaran rumah atau banjir, papar OCHA.
Kantor PBB itu memaparkan bahwa mayoritas dari 2,1 juta jiwa warga di Gaza masih mengungsi. OCHA juga memperingatkan bahwa penyediaan tempat penampungan yang dapat bertahan lebih lama memerlukan izin untuk memasukkan bahan bangunan dan peralatan ke Jalur Gaza guna menyingkirkan puing-puing dan bahan peledak.
Laporan: Redaksi
Bagikan

Komentar
Berita Terkait

Presiden Xi Jinping gelar pertemuan dengan delegasi Kongres AS
Indonesia
•
11 Oct 2023

Pejuang Hizbullah tewas dan warga sipil terluka dalam bentrokan di perbatasan Lebanon-Israel
Indonesia
•
20 Dec 2023

Arab Saudi tuntut penarikan pasukan UEA dari Yaman menyusul serangan udara di Pelabuhan Mukalla
Indonesia
•
31 Dec 2025

Jajak pendapat sebut tingkat kepuasan pada kabinet PM Jepang capai rekor terendah baru
Indonesia
•
13 Dec 2023


Berita Terbaru

Senat AS loloskan resolusi kewenangan perang Iran, batasi Trump lancarkan operasi militer baru
Indonesia
•
24 Jun 2026

Perundingan teknis Iran-AS akan dilanjutkan pada 30 Juni
Indonesia
•
25 Jun 2026

PBB: Kekurangan dana bantuan ancam pasokan air minum bagi 330.000 warga Gaza
Indonesia
•
25 Jun 2026

Israel tegaskan tak akan mundur dari Lebanon selatan, meski diminta AS
Indonesia
•
25 Jun 2026
