
Peneliti China petakan akumulasi ‘bahan kimia abadi’ pada ikan laut hingga masuk ke tubuh manusia

Ilustrasi. (Yuval Zukerman on Unsplash)
Senyawa PFAS (per- and polyfluoroalkyl substances), yang sering disebut ‘bahan kimia abadi’, dapat masuk ke dalam tubuh manusia melalui konsumsi ikan laut dan berpotensi menimbulkan risiko kesehatan.
Shenzhen, China (Xinhua/Indonesia Window) – Tim peneliti China telah mengonfirmasi bahwa senyawa PFAS (per- and polyfluoroalkyl substances), yang sering disebut ‘bahan kimia abadi’, dapat masuk ke dalam tubuh manusia melalui konsumsi ikan laut dan berpotensi menimbulkan risiko kesehatan.Studi tersebut memetakan kontaminasi PFAS pada ikan di seluruh dunia, memprediksi konsentrasi PFAS pada 212 spesies ikan laut yang sering dikonsumsi, serta mengevaluasi risiko paparan PFAS melalui konsumsi ikan di berbagai wilayah.PFAS merupakan jenis bahan kimia sintetis yang persisten dan ditemukan dalam berbagai produk sehari-hari, seperti lapisan antilengket pada peralatan masak, perlengkapan luar ruangan (outdoor) tahan air, dan kemasan makanan. Karena terurai dengan sangat lambat di lingkungan alami, maka senyawa ini disebut sebagai ‘bahan kimia abadi’.Senyawa-senyawa ini menyebar melalui air dan udara, kemudian memasuki ekosistem laut di mana zat tersebut diserap dan terakumulasi dalam ikan. Ketika manusia mengonsumsi ikan yang terkontaminasi, PFAS dapat masuk ke dalam tubuh manusia dan terakumulasi seiring waktu, sehingga menimbulkan ancaman potensial bagi kesehatan.Temuan itu dipublikasikan secara daring pada Jumat (19/12) dalam jurnal Science. Tim peneliti tersebut beranggotakan para ilmuwan dari Universitas Ilmu Pengetahuan dan Teknologi Selatan (Southern University of Science and Technology), Southeast University, Universitas Fuzhou, dan Institut Teknologi Timur (Eastern Institute of Technology/EIT) di Ningbo.Peneliti Qiu Wenhui, salah satu anggota tim tersebut, menjelaskan bahwa perdagangan makanan laut (seafood) global secara diam-diam mengubah pola paparan PFAS. Ikan dari wilayah beresidu tinggi dibawa melalui perdagangan internasional ke wilayah dengan residu rendah.Penelitian ini memberikan landasan ilmiah untuk menjaga keamanan pangan sekaligus memberikan informasi bagi pengelolaan perikanan dan regulasi PFAS.Laporan: RedaksiBagikan

Komentar
Berita Terkait

Peneliti buat peta pertama untuk reseptor penciuman di hidung
Indonesia
•
30 Apr 2026

Tim peneliti Australia manfaatkan AI untuk identifikasi ‘lemak tersembunyi’ pada tubuh
Indonesia
•
07 Sep 2025

Peneliti China kembangkan atap pembelah cahaya surya untuk rumah kaca
Indonesia
•
19 Dec 2021

Mengapa banyak fosil ditemukan di gua? Ternyata berawal dari kebiasaan unik landak
Indonesia
•
31 Jul 2026


Berita Terbaru

Fokus Berita – Kamera profesional mulai terancam? Ponsel China hadirkan sensor 1 inci dan ‘zoom’ periskop
Indonesia
•
25 Sep 2026

Makam piramida era Romawi simpan adegan langka perjalanan Dewa Ra ke dunia bawah
Indonesia
•
25 Sep 2026

China operasikan 354.000 robot industri pada 2025, hampir 60 persen dari total dunia
Indonesia
•
24 Sep 2026

Dunia terbelah soal AI di PBB: Guterres desak aturan, Trump tolak pembatasan global
Indonesia
•
24 Sep 2026
