
Satelit Lampung-1 untuk petani, nelayan, hingga mitigasi bencana

Roket pengangkut Jielong-3 Y12 lepas landas dari perairan lepas pantai Kota Haiyang, Provinsi Shandong, China timur, pada 5 Agustus 2026. Roket tersebut membawa satelit hiperspektral kembar Oriental Smart Eye (OSE), yakni Hyperspectral-01 dan Hyperspectral-02, ke orbit yang telah ditentukan. Satelit OSE Hyperspectral-01, yang diberi nama 'Lampung-1' oleh pihak Indonesia, merupakan hasil kerja sama sejumlah institusi dari China dan Indonesia. (Xinhua/Tang Ke)
Jakarta (Xinhua/Indonesia Window) – Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal mengatakan nilai utama dari kerja sama satelit antara Indonesia dan China tidak terletak pada keberhasilan peluncuran satelit semata, melainkan pada bagaimana teknologi tersebut dapat dimanfaatkan untuk mendukung pembangunan berbasis data dan menghadirkan manfaat nyata bagi masyarakat.
Pernyataan tersebut disampaikan Mirza menyusul peluncuran satelit Lampung-1 dari perairan lepas pantai Kota Haiyang, Provinsi Shandong, China timur, pada Rabu (5/8). Lampung-1 merupakan satelit hiperspektral pertama yang digunakan Pemerintah Provinsi Lampung dan dikembangkan melalui kerja sama antara STAR.VISION, Universitas Wuhan, Pemerintah Provinsi Lampung, serta sejumlah institusi dari kedua negara.
"Yang terpenting dari kerja sama ini bukan peluncuran roketnya, tetapi bagaimana data satelit ini dapat dimanfaatkan untuk kebutuhan pembangunan di Provinsi Lampung. Dengan data yang lebih akurat dan berkualitas, berbagai kebijakan dapat disusun secara lebih presisi," kata Mirza kepada Xinhua.
Menurutnya, Lampung-1 memiliki arti penting secara historis dan strategis bagi Lampung karena menjadi langkah awal bagi provinsi tersebut untuk semakin memanfaatkan ilmu pengetahuan dan teknologi dalam mendorong transformasi ekonomi dan pembangunan daerah.
Sebagai provinsi yang perekonomiannya banyak ditopang oleh sektor pertanian, Lampung diharapkan memperoleh manfaat langsung dari teknologi hiperspektral yang digunakan satelit tersebut.
Mirza mengatakan teknologi itu dapat menghasilkan data yang lebih akurat untuk membantu memproyeksikan produksi pertanian, sehingga mendukung pengambilan kebijakan sekaligus meningkatkan produktivitas petani dan memperkuat pelaku usaha lokal.
"Teknologi ini diharapkan tidak hanya memperkuat perekonomian daerah, tetapi juga memberikan manfaat nyata bagi petani dan pelaku usaha lokal," ujarnya.
Selain pertanian, kemampuan pencitraan hiperspektral Lampung-1 juga dapat dimanfaatkan untuk mendukung pengelolaan sumber daya kelautan, pemantauan lingkungan, tata ruang, serta mitigasi bencana, yang berkaitan erat dengan pembangunan dan kehidupan masyarakat Lampung.
Mirza juga menilai kerja sama dengan China di bidang antariksa membuka peluang baru bagi Lampung untuk memanfaatkan teknologi maju dalam pembangunan daerah.
Dia berharap proyek Lampung-1 menjadi salah satu dari semakin banyak bentuk kerja sama antara Lampung dan mitra-mitra di China pada masa mendatang.
Dia mengenang kunjungannya ke Haiyang pada Mei 2025, ketika mengunjungi fasilitas perakitan, integrasi, dan pengujian (Assembly, Integration and Testing/AIT) milik STAR.VISION serta Oriental Maritime Space Port.
Menurutnya, kunjungan tersebut memberinya gambaran mengenai kompleksitas ilmu pengetahuan dan rekayasa di balik pengembangan sebuah satelit.
"Saya sangat terkesan dengan kompleksitas, ilmu pengetahuan, dan rekayasa di balik satelit. Ini merupakan proses yang sangat rumit dan perjalanan yang cukup panjang. Saya sangat senang satelit ini akhirnya berhasil diluncurkan dan mulai memberikan manfaat bagi masyarakat," katanya.
Pada kunjungan tersebut, Pemerintah Provinsi Lampung dan Pemerintah Provinsi Shandong juga memperkuat hubungan melalui kerja sama provinsi kembar (sister province).
Menurut Mirza, hubungan tersebut membuka ruang bagi kolaborasi yang lebih luas, tidak hanya di bidang teknologi antariksa, tetapi juga agribisnis, perdagangan ekspor-impor, energi, produk kelautan, perikanan, serta pengembangan sumber daya manusia (SDM).
Pengembangan SDM menjadi salah satu bagian penting dari kerja sama teknologi tersebut, lanjut Mirza.
Pemerintah Provinsi Lampung saat ini tengah menyiapkan program untuk mengirim sekitar 100 pemuda Lampung ke China guna mengikuti pelatihan di bidang penginderaan jauh dan sistem komunikasi satelit.
Menurutnya, sejumlah peserta dari Lampung sebelumnya juga telah mengikuti pelatihan dan perkuliahan di China, sementara pihaknya telah menjalin komunikasi dengan sejumlah universitas setempat terkait program pengembangan kapasitas tersebut.
"Kami berharap pada masa depan Lampung mampu mengoperasikan satelit, mengolah data, dan melakukan analisis spasial secara mandiri dengan dukungan sumber daya manusia yang terus kami kembangkan," ujarnya.
Mirza mengatakan teknologi pada akhirnya membutuhkan SDM yang mampu menguasai dan memanfaatkannya. Karena itu, peningkatan kapasitas generasi muda menjadi penting agar kemajuan teknologi dapat benar-benar menghasilkan kemajuan ekonomi dan peningkatan kesejahteraan masyarakat.
Dia berharap proyek Lampung-1 dapat membuka jalan bagi semakin banyak kerja sama antara Lampung dan China pada masa mendatang serta memperluas kolaborasi kedua pihak, khususnya di bidang teknologi dan pengembangan SDM.
Laporan: Redaksi
Bagikan

Komentar
Berita Terkait

Presiden dan pemimpin G20 menanam mangrove di Tahura Bali
Indonesia
•
16 Nov 2022

Presiden terima delegasi Pakistan, bahas pertahanan, investasi, hingga dukungan untuk KTT D8
Indonesia
•
13 Feb 2026

Kementerian ESDM luncurkan uji jalan biodiesel B40
Indonesia
•
27 Jul 2022

Presiden Jokowi buka KTT G20, harapkan langkah konkret dalam upaya pemulihan global
Indonesia
•
15 Nov 2022


Berita Terbaru

Fokus Berita – Lampung-1, satelit AI Hiperspektral pertama Indonesia, berhasil diluncurkan ke orbit
Indonesia
•
05 Aug 2026

Indonesia dan Tailan perkuat kemitraan strategis
Indonesia
•
04 Aug 2026

Masjid harus jadi ruang favorit anak muda, pusat pemberdayaan umat
Indonesia
•
03 Aug 2026

Fokus Berita – Indonesia belajar AI dari China, reformasi kurikulum jadi prioritas
Indonesia
•
02 Aug 2026
